Senin, 14 April 2014

Dua Perempuan


         Di meja berbentuk bundar di sudut café  itu terlihat pemandangan yang sama tiap kali mereka ke sini, secangkir coffee latte dan kopi hitam pekat. Coffee latte tentu saja milik Gayatri, sementara Anggia dipastikan pemilik secangkir kopi hitam pekat itu. Pesanan mereka berdua memang jarang berubah, termasuk camilan yang menemani mereka, croissant dan pie susu.
          “ Berarti dokumennya sudah kelar semua, Aya?” tanya Anggia dengan matanya yang menatap lurus pada sahabatnya, Gayatri yang biasa dipanggilnya Aya itu.
Gayatri mengambil secangkir coffee latteenya yang kemudian disesapnya perlahan, kemudian menjawab.
          “Iya, sudah. Pengacaraku akan kirim dokumen finalnya esok hari,” jawab Aya singkat. Matanya masih terlihat sayu.
       “Sabar ya, semuanya akan kembali baik-baik. Yakinlah,” Anggia mencoba menenangkan Aya, lalu menggeser tubuhnya mendekati sahabat yang telah dikenalnya lebih dari 10 tahun itu. Diusap-usap punggung Aya, mencoba memberikan penghiburan.
Aya terdiam, matanya tiba-tiba merah memanas dan bulir-bulir airmata tak tertahankan jatuh dari pelupuk matanya.
        “Aku merasa sendirian, Nggi,” isak Aya dalam tangisnya. Suaranya parau menahan gejolak perasaannya.
Perjalanan pernikahannya bersama Bimo yang hampir 4 tahun akhirnya kandas.     Entah kemana perginya cinta yang dulu menjadi alasan bagi Aya dan Bimo untuk menikah dulu.  Pernikahan sudah tidak menjadi sebuah ikatan yang nyaman lagi bagi mereka berdua. Ada laju yang timpang, ada pertumbuhan diri yang tak selaju. Komunikasi sudah tidak lagi berjalan dalam harmoni, namun lebih sering dialog yang berakhir dengan saling tidak mengerti. Rasanya ikatan pernikahan bukanlah wadah yang tepat lagi bagi mereka. Tiga bulan lalu, Aya mengajukan permohonan cerainya yang baru saja dikabulkan pengadilan minggu lalu.
        “Ah Aya, kamu kan selalu ada aku. Apapun yang terjadi. Kita hadapi bersama,” kata Anggia mencoba kembali menentramkan sahabat itu.
Bagi Gayatri, tentu saja ada kecemasan akan kesendirian, tentang tekanan psikologis dari masyarakat, bahkan pertentangan dari keluarganya sendiri tentang keputusannya itu.
           “Hidupmu itu bukan tentang kata orang kan Nggi?” kaliat itu meluncur dari Anggia.
Dan Gayatri kembaki terkenang, bahwa kalimat itu adalah kalimat sama yang diucapkannya dulu saat Anggia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri sementara hitungan umurnya memicu pertanyaan-pertanyaan yang mengusik. Pertanyaan seperti : Kapan menikah Nggi? Jangan karier melulu lah yang dikejar? Setinggi-tingginya karir dan pendidikan perempuan ya ujung-ujungnya harus patuh pada suami. Jangan cari lelaki yang sempurna, Nggi, nggak ada yang sempurna, Nggi atau pernyataan seperti, Kamu sih terlalu pilih-pilih.
“Hidupmu itu bukan kata orang, Nggi. Hidup itu pilihanmu sendiri kan, dan kamu tahu pasti konsekuensi dan risikonya. “ Aya masih ingat kalimat-kalimatnya saat menghibur Anggia yang tengah galau karena pilihannya tersebut. Ah, sekarang kalimatnya itu berbalik dialamatkan untuk dirinya sendiri.
“Iyah sih, tapi kadang sebel tahu sama orang-orang itu. Rese amat, memangnya nggak ada bahasan lain apa? Seneng banget gitu kalau ngurusi urusan orang lain,” Anggia menjawabnya dengan raut muka yang sedikit ketus.
“Kalau semua orang penuh pengertian, baik, memahami bahwa setiap orang punya jalan hidup dan ujiannya masing-masing, kayaknya dunia nggak bakalan seru ya?” goda Aya melihat Anggia yang sedikit ketus.
Percakapan itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Tempatnya sama, di Rumah kopi ini. Mereka bertemu di tempat yang sama, dengan pesanan kopi yang sama, namun dengan cerita-cerita hidup yang berbeda. Jarak di antara mereka pun tidak pernah menjadi masalah bagi persahabatan mereka. Gayatri di Yogya, sementara Anggia di New Castle, Inggris. Tapi bila mereka punya kesempatan untuk bertemu, Cafe Rumah Kopi di Jalan Kaliurang km 5.4 ini selalu menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. 

                                                            ***
“ Bimo sakit, Nggi. Katanya ada gangguan pada ginjalnya. Aku dapat kabar dari Mbak Meda. Aku bingung mesti jenguk dia atau enggak,” gambar bergerak di layar monitor itu tersendat-sendat. Layanan skype dua negera itu memang sering ditentukan bagus tidaknya koneksi.
“ Hatimu yang tahu, kau harus jenguk dia atau enggak. Dan dalam kapasitas apa kau kesana,” jawab Anggia. Kadang kala perempuan sebenarnya tahu apa yang ingin mereka putuskan, mereka hanya perlu didengarkan.
“Jangan-jangan, kau takut jatuh cinta lagi padanya ahaha,” canda Anggia memecahkan kebekuan di antara mereka.
“ Hush, cintaku padanya kan sudah bermetamorfosa,” jawab Gayatri diakhiri tawa
“Memangnya kupu-kupu, bermetamorfosa, sok gaya. Memang apa maksudnya cintamu sudah bermetamorfosa?” tanya Anggia sambil mencibir.
Sejak bercerai lima bulan lalu, Gayatri seperti memasuki kehidupan yang baru. Ketunggalannya setelah pernah menjalani hidup berdua, jauh berbeda dengan kesendiriannya saat belum menikah dulu. Tidak mudah memang, ia kini harus menghidupi dirinya sendiri dengan kembali menekuni dunia desain grafis yang dulu sempat ditinggalkannya. Ditambah lagi tekanan psikologis masyarakat dengan perkataan yang terkadang bising menghampiri telinganya. Kenapa menjadi janda selalu menjadi konotasi negatif. Ini hanya jalur dan pilihan yang semua orang bisa pilih.
            “ Hei, kok malah bengong. Apaan itu tadi metamorfosa?” tanya Anggia mengagetkan Gayatri.
            “ Ya bukan lagi cinta sebagai pasangan. Entahlah apa namanya, semacam rasa terhadap sahabat baik. Itu saja. Mungkin kami lebih cocok jadi sahabat, bukan pasangan.” Jawab Gayatri.
            “Nggak ngerti ah, absurb.” Jawab Anggia seenaknya.
            “ Ah kamu. Makanya jatuh cinta dong. Yang lain udah pada belajarin anaknya ngaji, kamu belajar jatuh cinta aja belum, ” Ejek Gayatri. Begitulah keajaiban antar sahabat, mau ngejek tingkat tinggi bagaimanapun, nggak bakal tersinggung. Coba kalau yang ngomong begitu tetangga sebelah, sudah berubah pasti raut muka jadi merah menahan amarah.
“ Ahaha sialan. Memangnya kamu nggak inget aku pernah jatuh cinta?” sergah Anggia.
Kadang-kadang jarak memang hanya soal relativitas. Demikian juga waktu. Perbedaan enam 6 jam antara Indonesia-Inggris tak pernah menyurutkan komunikasi mereka berdua. Padahal tiap hari mereka berdua bisa bertemu dengan sahabat-sahabat nyata lain yang bisa bertemu muka. Tapi memang ada daya ajaib dari rasa persahabatan. Aku tak pernah khawatir kau akan pergi kemanapun, bertemu sahabat-sahabat baru berapapun, manusia dalam hidupnya mungkin memang ditakdirkan hanya memiliki beberapa sahabat sejati. Dan kau sudah menemukanku, aku sudah menemukanmu. Anggia paling sok yakin dengan teorinya tersebut.
                                                            ***
Gayatri seperti melihat sesosok Bimo yang lain saat memasuki kamar Rumah Sakit dimana Bimo dirawat. Tubuhnya kurus, wajahnya tampak lebih tirus dan kuyu dibandingkan terakhir kali dilihatnya. Lelaki itu, yang pernah menghabiskan hidup bersamanya selama hampir empat tahun lamanya. Gayatri tercekat, dilanda kebimbangan apa yang harus diucapnya. Bimo tersenyum dalam raut mukanya yang pucat.
“Terimakasih sudah datang menjenguk,” akhirnya dalam suaranya yang parau Bimo memecahkan kebekuan. Mungkin tak mudah juga baginya untuk bertemu lagi dengan Gayatri, perempuan yang dulu pernah menemani hidupnya itu.
“Formal amat, kayak pejabat,”sahut Gayatri menyahut dengan bergurau. Keduanya tergelak. Entah kenapa kebekuan dan kekakuan karena kisah pernikahan mereka yang tamat rasanya mencair seketika.. Kemudian mereka bercakap-cakap layaknya dua sahabat yang kembali saling bertemu.
“Oh ya, apa kabar Anggia sekarang?”tanya Bimo dengan suara yang kini jauh lebih jelas.
“Masih belum selesai studinya, tapi kayaknya masih asik jalan-jalan melulu tuh anak. Eh dia mau mudik ke Indo sebentar, mau nikah bulan depan.” Jawab Gayatri, sambil menggeser letak kursinya agar lebih dekat pada ranjang tempat Bimo berbaring.
What? Kok tiba-tiba sekali. Siapa laki-laki yang sanggup menaklukkannya?” Bimo mengenal Anggia sebagai sosok perempuan mandiri, yang tahu apa yang dia mau, dan ia jarang melihatnya bersama laki-laki.
“Mas Danar. Hihi jodoh memang ajaib. Lama banget lho Anggia nunggu, tapi kan nggantung gitu sejak lama. Akhirnya si Anggia yang melamar duluan, ahaha dasar gokil itu anak,” Rasanya pembicaraan cair seperti ini justru jarang mereka dapatkan saat memasuki tahun ketiga pernikahan mereka. Saat komunikasi berakhir pada satu sisi, saat ego masing-masing terlalu kuat untuk saling mengerti.
Melamar duluan? Ahaha mantap. Kadang-kadang perempuan itu memang harus kayak gitu. Apalagi kayak Anggia, laki-laki kadang-kadang nggak pede mau lamar dia. Ah, seneng dengarnya,” Ah itu Bimo yang dikenalnya dulu. Spontan, ceria dan apa adanya. Bahkan Gayatri merasa menemukan lagi Bimo yang dulu dikenalnya setelah tak bersamanya dalam ikatan pernikahan.
Ada perasaan lega saat Gayatri meninggalkan rumah sakit tempat Bimo dirawat. Semoga hidupmu baik-baik saja. Mungkin itu kalimat yang tak terucap dari keduanya, namun sorot mata mereka telah cukup jelas mengatakannya. Mungkin cinta terkadang adalah kemampun untuk saling membebaskan.
                                                            ***
Anggia mengancingkan coatnya dan mengenakan syal senada dengan jilbab ungu yang dikenakannya. Hawa dingin masih menyelimuti New Castle Bulan Februari ini, apalagi kalau disertai angin, rasanya tubuh kecilnya mau terbang tersapu angin. Lelaki itu di sampingnya, sibuk mengamati pemandangan di luar jendela bis yang akan membawa mereka ke Alnwick Castle, kastil dimana salah satu syuting film Harry Potter diambil.
            “Indah ya?” tanya Anggia mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu dari lanskap cantik di luar jendela.
            “Ehehe iyah, walau ada yang lebih indah. Perempuan di sampingku ehehe.” Jawab Mas Danar sambil tergelak, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
            “Ish gombal. Kalau lebih indah, kok lihatnya ke sana terus, nggak kemari,” kata Anggia dengan pipinya yang berubah merona. Salahkan semua orang yang tengah jatuh cinta, entah hilang kemana kewarasannya.
            “ Kalau dilihat terus, takut terjadi gempa bumi beruntun di sini, jawab Mas Danar sembari menunjuk ke arah dadanya sambil tersenyum penuh cinta. Oh, salahkan juga laki-laki yang pandai membumbui kalimatnya dengan bahasanya yang berbunga, dan celakanya semua perempuan suka mendengarnya.
Anggia hanya tersenyum dengan pipinya yang kemerahan. Terkadang dalam hidup selalu memberinya kejutan. Seperti saat ini, lelaki yang ditunggunya selama lebih dari tiga tahun lamanya tiba-tiba menghampirinya. Mas Danar tengah menghadiri konferensi di New Castle dan sepertinya semesta merestui mereka berdua.  Hingga entah dengan keberanian macam apa, Anggia melamarnya. Mungkin hatinya sudah terlalu lama yakin bahwa lelaki itu mencintainya.
            “Kenapa sih nggak bilang dari dulu? Kan bisa jadi sekarang anak kita sudah satu?” ledek Mas Danar menggodainya.
            “Ishh..heloow. Aku kan perempuan, kamu dong harusnya yang bilang duluan. Ini malah aku yang harus bilang duluan. Malu tau, ntar dibilang agresif ehehe,”sergah Anggia
Bis terhenti sejenak di perempatan, terlihat orang-orang menyeberang tetap dengan pakaian hangatnya, boots dan syal yang melilit leher. Matahari memang menjadi barang langka di negeri itu.
            “Kirain kamu maunya sama bapak-bapak mapan, pejabat, yang banyak duit, kedudukannya mantap, keren gitu.” Timpal Mas Danar.
            “Memangnya aku ini materialistis?aku bisa menghidupi diriku sendiri, nggak punya ketergantungan finansial sama orang.” Balas Anggia.
            “Makanya itu. Jadi nggak pede tahu, kamu kan manis, karir melangit, pendidikan tinggi, penggemar banyak, follower bejibun. Eh ternyata maunya sama aku ahaha, “ ledek Mas Danar lagi. Yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggangnya.
Kadang hidup memang membutuhkan manusia pemberani yang mengungkapkan apa yang diinginkannya dalam hidup. Tidak pernah ada lagi, What If.

                                                            ***
The Bay Bali, sensasi menikmati makanan di tepi Pantai Nusa Dua (pic taken from The Bay Bali FB Pages)

Semilir angin Pantai Nusa Dua Bali menyibakkan rambut sebahu milik Gayatri dan jilbab merah marun milik Anggia. The Bali Bay memang pilihan yang menyenangkan, menggabungkan dua hal yang mereka gilai sekaligus, makanan enak dan pantai. Gayatri antusias dengan pilihan menu Asianya dengan Aya lebih memilih Bebek Bengil kegemarannya.
“ Nggi, cobain deh Bebek Bengilnya uuuuh, the best pokoknya. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Susah banget dapet ini di New Castle,” ujar Anggia dengan sigap mencomot bebek bengil dan menaruh sambel matah ke dalam piringnya. Penggila bebek dan sambel serba pedas.

Maknyusnya Bebek Bengil-The Bay Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)

 Kesempatan bertemu nyata antara dua perempuan ini sungguhlah hal yang istimewa. Walau mereka paham, kebersamaan bukanlah soal tempat, tapi lebih pada soal rasa. Namun ada yang lebih istimewa pada pertemuan mereka ini, kali ini bukan lagi Rumah Kopi. Mereka menghabiskan liburan di Nusa Dua Bali.
“ Kamu tinggal dimana sekarang ? tanya Anggia di sela-sela keasikannya mencicipi Bebek Bengil di piringnya.
“ Nomad ahaha, kantor sih tetap di Jogya, tapi kerjaanku tergantung projek juga. Jadi memang harus sering  pindah-pindah,”
“Nggak berasa capek hidupmu kayak gitu?”
“ Ehehe capek fisik sih kadang iya, Tapi hatiku, jiwaku baik-baik saja. Bahkan terasa lebih segar kalau pindah ke tempat yang baru. Mungkin manusia memang butuh perubahan, perpindahan. Rasanya aku sudah menemukan rumah, hatiku dan jiwaku sudah padu. Bukankah kemanapun pergi terasa pulang bila kita telah menemukan rumah di dalam diri,”
“ Hadeeeh minum..mana minum, ngomong apa sih kamu.” Kata Anggia meledek.
“ Ahaha,. Aku merasa bahagia aja bisa berbagi dengan banyak orang. Kayaknya hidup jadi lebih bermakna gitu. Ah, pantesan aja kamu suka keliling-keliling, dulu kupikir kau sinting mau-maunya ngajar di pedalaman Kalimantan, jadi anggota komunitas-komunitas macam-macam. Aku dulu melewatkan itu semua”,
 “ Hihi baguslah, Tapi sejak bersama Mas Danar, Aku sudah tak ingin kemana-mana lagi. Yunani, Maldives, Turki, nggak ada artinya lagi. Aku cuma pengen ada di samping Danar, itu saja. Wah nggak tau kenapa, rasanya berubah total jadi orang rumahan banget deh aku”
“Jiaah yang pengantin baru. Eh tapi serius kamu kan gatel pengin jalan-jalan lagi?” tanya Gayatri dengan dengan nada hampir tak percaya. Anggia dan kegemarannya menjelajah dunia adalah hal yang sudah dimakluminya
“Iyalah, tapi kalau keliling dunianya sama Mas Danar sih mau-mau aja ahaha,” kata Anggia sambil tergelak.
“ Beuhh dasaar. Ajaib ya, kamu kan kayak burung terbang-terbang mulu sekarang penginnya mendekam terus di rumah. Belajar masak, bikin kue.” Kenang Gayatri.
Dan sekarang kamu yang terbang-terbang ahaha, aneh ya,” timpal Anggia.
“ Well, Life is a choice. Our own choice, tergantung pilihan masing-masing ,” kata Gayatri kemudian,
“ Bukan pilihan orang lain dan bukan nurut kata orang lain ya kan? Sebelum keduluan kamu bilang gitu ahaha,” penggal Anggia cepat.
“What which make us happy juga beda-beda masing-masing orang.” Kemudian mereka berdua tergelak dalam tawa, larut dalam suara riuh ombak di tepi Pantai Nusa Dua Bali.
Eh, ketemu di sini lagi ya nanti. Mas Danar dateng jam 7 malam nanti. Ada Art Show, macam tari-tari tradisional Bali gitu di The Bay Bali. Sambil kita makan malam bareng-bareng di tepi pantai, lama kan nggak ketemu. Kita godai Mas Danar dengan sensasi maknyusnya bebek bengil.
“Yups, eh kita foto dulu dong. Lama nih nggak foto berdua, ada tripod gurita punyaku tuh bisa dipakai,” ajak Anggia, sembari mengeluarkan tripod kecil berbentuk gurita yang dengan mudah bisa  menopang kamera dengan mengaitkannya pada papan.
Klik! Ada wajah dua perempuan yang berbahagia dengan masing-masing pilihan hidupnya. 

Nusa Dua Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)


***
Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti proyek menulis Letter of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali and Get discovered !


Rabu, 25 September 2013

What If




Syal ungu lembut dan cardigan hitam disambar Kinan dari lemarinya dan bergegas pergi ke suatu tempat. Dikenakannya cardigan sambil berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
            “ Mada ada di kota ini, Kin. Ia ada konferensi di sini, dan hanya tinggal sampai besok malam. Ia menanyakan kontakmu berkali-kali. Sepertinya ia sungguh ingin bertemu lagi denganmu, Kin.” Suara Melia di ujung telponnya sehari lalu.
Mada? Lelaki dengan senyuman itu. Perlukah kutemui ia lagi? Kinara membatin. Mungkin tidak. Untuk apa menemuinya? Waktu telah membekukannya.
Tapi lihatlah kini ia berkejaran dengan waktu menuju Bandara Muenchen. Menemuinya.
What if? Bagaimana bila kesempatan ini adalah satu satunya kesempatan untuk melihatnya lagi? apakah akan ia lewatkan begitu saja?. Apakah setelahnya, hidupnya adalah tentang kenang dan masa lalu Mada. Dan masa depan tak pernah menyisakan cerita dengan nama itu lagi?
Kinar meminta sopir taksi membawanya ke Bandara Muenchen dengan segera. Laju mobil seakan berpacu dengan degub jantungnya. Tidak akan pernah ada lagi What If, bisiknya lagi. Dibenarkan posisi syal ungu yang menghangatkan lehernya, dan disibakkan rambut panjangnya.
            Nada sambung itu akhirnya terjawab dengan suara yang amat dikenalnya di ujung telpon. Suara itu masih sama, hanya terdengar lebih berat.
            “ Mada? Tunggu aku. I just want to see your face,” Kinara mengucapkan kalimat itu seakan bicara dengan seseorang yang tiap hari disapanya.
Tapi Mada, lelaki itu sudah menghilang dari hidupnya empat tahun yang lalu. Ah bukan Mada yang menghilang, tapi Kinarlah yang menghilangkan dirinya dari hidup Mada.
Karena rasanya sudah terlalu penat. Bersamanya dulu terlalu banyak What If. Andaikata, bila...Tak ada hidup yang sebenar-benarnya kala bersamanya, hingga akhirnya Kinar memutuskan untuk menghilang. Pergi mencari hidup yang memberinya banyak pertanyaan dan jawaban, tapi bukan lagi, andaikata.
Ditutupnya telepon dan merasai degub jantungnya yang berpacu lebih cepat. Tangannya berkeringat. Ia gugup. Tidak akan pernah ada lagi What if. Tegas Kinara dalam hatinya lagi.
         Sesampainya di Bandara, matanya mencari sesosok yang empat tahun lalu diakrabinya itu. Belum juga ia temukan. Berkali kali Kinar menengok pada jam tangan di pergelangan, sometimes I hate time!
            “ Hai pipi merahku, tengah mencariku?” suara di belakang Kinar mengagetkannya. Kinar segera berbalik dan menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya.
Lelaki dengan tinggi sedang, berjaket berkerah tinggi, dan syal melilit di lehernya. Kinar terpaku sejenak memandangi syal yang melilit menghangatkan leher Mada. Itu syal dariku.  Aku tak salah lihat, ia bahkan masih memakai syal pemberianku. Bisik hati Kinar yang seketika menghangat.
                                                            ***
            Napcabs ini sungguh teroboson unik di Bandara Muenchen. Ruang tunggu pribadi ini berbentuk kotak dengan perlengkapan yang nyaman yang bisa disewa sambil menunggu jadwal keberangkatan. Agak mahal memang, harga yang pantas untuk sebuah kenyamanan.
            “Masih minum kopi kan, Kin? “ Tanya Mada sambil terlihat menyiapkan dua cangkir kopi untuk menemani mereka ngobrol.
            “ Satu  sendok gula,  dua sendok bubuk kopi dan sedikit cream. Rumus racikan kopimu masih sama kan? “ lanjut Mada dengan cekatan menyiapkan kopi.
Kinar tersenyum samar. Dia masih saja menyebalkan, seru batinnya. Mada baginya menyebalkan karena hampir tahu semua tentang dirinya dan bahkan sampai kini tak berniat melupakannya.
            “Kok diem? Ayo minum kopinya. Dulu kamu suka banget racikan kopi bikinanku. Sudah ada yang bisa menggantikannyakah? “ tanya Mada dengan ringan, lalu tersenyum padanya.
Mada tak menyadari ada gempa bumi kecil di hati Kinar saat memperhatikan cara Mada berjalan, tersenyum, dan bicara. Nada suaranya, caranya tersenyum, gaya bicaranya masih tetap sama. Hey, Kinar ..bukan untuk itu kau menemuinya! Sergah batinnya. Sebenarnya ia lebih mengharapkan pertanyaan Mada padanya seperti : “Kemana saja kau selama ini? Apakah kau baik-baik saja tanpaku? Kenapa menghilang begitu saja tanpa kabar apapun?
Atau sekedar pengakuan sederhana : “Aku sungguh merasa kehilanganmu, Kin”.
Tapi Mada hanya bicara soal kopi.
Kinar hanya tersenyum sambil menggengam secangkir kopi hasil racikan Mada. Matanya melihat lelaki di hadapannya itu lagi, mencari-cari perubahan apa yang dilewatkan setelah beberapa tahun tak melihatnya. Rindu itu sudah beku.
            How’s life? “ hanya pertanyaan singkat itu yang mampu terlontar dari bibir Kinara. Walau terlalu banyak yang ingin ia tanyakan sebenarnya.
            “ Aku masih hidup. Tak dinyana ya. “ jawab Mada lugas. Ah, lelaki penderita cyctic fibrosis yang menunggu jadwal transplantasi hati bertahun-tahun  itu terlihat masih bugar di hadapannya.
Ia bahkan tak pernah mengira akan bisa melihatnya lagi. Lelaki itulah yang dulu sanggup meyakinkannya untuk meraih apapun impiannya. Lelaki yang datang dengan senyuman dan serombongan anak-anak yang memaksanya mengajar di halaman belakang. Tapi penyakitnya itu menggerogoti keberaniannya sendiri, bahkan keberaniannya untuk mencintai.
Mereka kemudian diam membisu. Padahal Kinar hanya ingin menghambur di pelukan lelaki yang aroma tubuhnya bahkan masih dikenalinya itu. Namun melihat lelaki itu masih sanggup menghirup udara, dan hati hasil transplantasi dalam tubuhnya masih mengenalinya, hanya itu saja sungguh sangat membuatnya bersyukur.
Tapi mereka tak bergeming.
            “Kenapa dulu kamu tak pernah berani? Berusaha agar kita tetap bersama? “ akhirnya Kinara menanyakan apa yang ingin ditanyakannya selama bertahun-tahun belakangan ini.
            “ Kin, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan atau tidak. Apa transplantasi hatiku akan berhasil atau tidak. Apa setelah itu hatiku masih mengenali hatimu? Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Sebuah hubungan yang normal, pernikahan, anak-anak. Mungkin saja aku tak pernah bisa,” jelas Mada pada akhirnya.
            “ Kamu masih ingat berapa lama aku bertahan untuk bersamamu? “ ada nada protes pada kalimat Kinan.
Mada membisu. Ia tahu betul lebih dari tiga tahun Kinara bersamanya. Namun ia memang tak pernah berani memutuskan apapun. Apabila aku mati minggu depan? Bulan depan? Bagaimana dengan Kinara? Mungkin terlalu banyak kecemasan dan ketakutan yang menyelimuti hatinya. Kecemasan membuatnya menjadi seorang pengecut.
            “Bukan penyakitmu yang membuatku pergi. Tapi ketidakberanianmu mencintaiku. Terlalu banyak apabila, andaikata. What if” jelas Kinan mengenang kembali luka dalam hatinya.
Entah kenapa lukanya kembali terasa segar. Hatinya sakit.
            “Kau bersama siapa sekarang? “ tanya Mada mengalihkan pembicaraan. Tapi sekaligus pertanyaan yang disimpannya beberapa waktu lamanya. Kinara, perempuan berpipi merah itu, terlalu sulit untuk bisa melupakannya.
            “ Kau tahu aku memutuskan bersama seseorang bukan karena takut sepi, bukan karena takut sendirian,” jawaban Kinar bersayap. Ia kembali membetulkan syal ungunya, lalu menyesap kopi racikan Mada. Ah, bahkan rasa racikan kopinya masih tetap sama. Ia tak pernah lupa sensasi rasa kopi hasil racikan Mada.
            “ Aku menelpon untuk bertemu hanya ingin melihatmu saja. Itu saja. Agar tak pernah ada lagi apabila, andaikata. What if. Aku lelah dengan kata itu dalam hidupku. Kini tak akan pernah ada lagi” lanjut Kinara panjang. Tapi kegugupan melanda hatinya. Disesapnya kopi di cangkirnya lagi.
            “ Kamu dulu itu takut hidup, walaupun kau masih hidup. Mungkin sesekali kau harus membiarkan hidupmu lepas. Mengambil risiko, memutuskan pilihan dan terus berjalan,” Kinara masih berkata dengan acak. Sementara Mada masih memperhatikan perempuan di hadapannya. Pipi chubbynya yang masih tak berubah, rambut panjang lebih dari sebahunya yang tak pernah dipotong pendek, mata hitam bulatnya yang selalu terlihat antusias saat bicara. Ah, ia dulu terlalu takut kehilangan perempuan berpipi merah itu.
Mada meletakkan cangkir kopinya.
            “Kamu mengajariku untuk tak pernah takut lagi. Apalagi yang sanggup aku takutkan? Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya kehilanganmu? Memangnya ada sesuatu yang lebih pahit dan lebih sakit daripada itu? “ kata Mada dengan suara yang bergetar.
Ditatapinya wajah perempuan yang bahkan masih diingat setiap detailnya. Hidungnya yang kecil, matanya yang bulat, alisnya yang tebal. Ah, si alis ulat buluku, si pipi merahku,  serunya dalam hati. Waktu memang ambigu. Bahkan waktu tak sanggup menyembunyikan rindu.
            “ Sebentar lagi waktu penerbanganmu. Ayo bersiap, nanti terlambat.” Kata Kinara mengingatkan Mada. Oh, lagi-lagi ia membenci waktu.
            “ Kin... selama ini aku nggak  pernah melupakanmu. “ Mada masih saja terus bicara.
            “ Itu udah nggak penting lagi, aku cuma pengen ngeliat kamu baik-baik. Itu saja, cukup.” jawab Kinara sambil menunduk, memainkan syal ungunya. Hatinya teraduk aduk.
            What if..” kalimat Mada menggantung
            “ Uhmm.. tak pernah ada lagi andaikata. Bagaimana jika. Nggak ada lagi What if. Kutanyakan sekali ini saja, masihkah kau mau bersamaku? Hingga tak pernah ada lagi penyesalan. Andai saja dulu aku berani untuk mengambil keputusan? Jika saja aku memutuskan untuk tetap bersamamu? What if..what if..menghantui hidupku.” Kata Mada seakan kata-kata itu berloncatan dari bibirnya.
            “Aku tidak ingin membawa-bawa pertanyaan  yang belum usai dalam hidupku. Sekarang kau jawab, kita selesai atau bersama.” Lanjut Mada tegas.
Kinara sedikit bingung menghadapi pertanyaan Mada yang spontan. Tangannya meremas sofa yang didudukinya. Pikirannya gundah, tapi sebenarnya hatinya tidak.
            “ Pulanglah, jadwal penerbanganmu sudah tinggal sebentar lagi,”jawab Kinar sambil merapikan tas dan mengenakan lagi cardigannya agar terasa hangat. Musim gugur akan segera datang. Udara dingin sudah makin menusuk tulang.
Mada masih menatapnya dalam-dalam. Ada harap yang belum padam. Dan juga cinta yang masih membayang di matanya.
            “ Pulanglah... sehat-sehat ya,” pesan Kinara sambil membenarkan syal milik Mada. Syal pemberiannya di Ulang Tahun Mada yang ke 28. Tangannya yang lembut sedikit menyentuh kulit leher Mada.
            “ Tapi Kin,..” tanya Mada menggantung, ada harap yang sulit disembunyikan.
            “ Pulanglah dulu, nanti kita cari cara bagaimana mengalahkan jarak dan samudra,” kata Kinara mantap. Dan senyum dari perempuan berpipi merah itu kembali merekah. Mereka membenci waktu sekaligus menghormatinya, karena waktu mengajari mereka menaklukkan kecemasannya sendiri.
            Papan elektronik di Bandara Muenchen sudah menunjukkan waktu saatnya penumpang penerbangan menuju Amsterdam check in. Langkah Mada lebar-lebar sambil menggiring koper besar miliknya. Tapi mereka sebenarnya tak kemana-mana. Hati mereka terbang bersama.

What if,   I had never let you go
 Would you be the man I used to know?
 If I'd stayed
 If you'd tried
 If we could only turn back time
 But I guess we'll never know (What If, Kate Winslet)
                       
Glasgow, 24 Sept 2013.

Senin, 01 April 2013

The Last Battle




Pandangannya menelitik ke arahku. Meneliti perubahan-perubahan yang terjadi padaku setelah lama kami tak bertemu. Mas Dias kemudian tersenyum.
            “You’ve changed a lot, El. Perempuan sekali kau sekarang,” katanya sambil terus mengamatiku. Aku yang datang menemuinya dengan rok lebar berwarna merah pastel yang lembut, dipadu dengan atasan berenda dengan jilbab senada. Musim semi tengah mengakrabi Birmingham, coat tebal mulai sering ditanggalkan.
Aku tersenyum. Sambil juga mengamati raut mukanya yang terakhir kali kutemui dua tahun lalu,  saat kami terlibat bersama-sama dalam sebuah pendirian sekolah Alam di daerah pinggiran kota Bandung. Tak banyak berubah, selain tubuhnya yang lebih tegap dan jambang yang mulai menumbuhi janggutnya.
            “ Yeah, dunia terus berubah. Juga kadar hormon estrogenku. “ kilahku. Kami berdua sudah terbiasa dengan perbincangan ala kosakata kami sendiri. Dan secara otomatis kami berdua saling paham apa yang hendak disampaikan.
            “ Cantik sekali, El,” jarang dia memujiku seterus terang itu. Aku kembali tersenyum, dan aku melihatnya memandangi mataku. Entah bermakna apa.
            “ He changed you a lot, right?” Tanyanya kemudian, kemudian tangannya memainkan tali kamera Sony Nex 7 yang super seksi itu. Mas Dias mulai terlihat tidak nyaman dengan mengalihkan perhatian dengan bermain-main dengan kameranya itu, sepertinya dia tak suka dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
            “ Siapa sih manusia yang begitu powerfulnya bisa mengubah seseorang, Mas? Enggaklah. Dia nggak merubahku. Aku yang berubah, ya mungkin setelah bersamanya. Semacam triger, pemicu barangkali. Oh ya, katanya kau sudah bertunangan Mas, congrats ya. Siapa nih  perempuan yang beruntung itu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Dia berhenti memainkan tali kamera kesayangannya itu setelah mendengar pertanyaanku. Lalu matanya mencari mataku lagi.
            “Mungkin kamu kali ini bersedia menjadi perempuan yang beruntung itu, El?” tanyanya dengan matanya yang lurus-lurus memandangku. Aku agak merasa jengah dibuatnya.
            “ Come on Mas Dias, I knew you. Kamu nggak akan segila itu, ehehe” candaku mencoba mencairkan suasana. Lalu kemudian kami tertawa bersama, namun ada garis pias yang tertangkap di wajahnya. Lalu dia buru-buru menyesap kopi yang dipesannya.
Pertemuan tadi malam di Cafe Amore, sebuah sudut kota Birmingham itu berlanjut dengan ngobrol seperti reunian dua sahabat yang lama tak bertemu. Dua sahabat? Tidak bisa murni dibilang sahabat. Semenjak Mas Dias menyatakan ingin membangun sebuah hubungan serius denganku sekitar dua tahun lalu. Tapi dulu aku menjawabnya, menjadi sahabat nampaknya lebih menyehatkan bagi kami.
            “ Mas, aku merasa lebih nyaman jadi sahabat aja. Kita terlalu mirip. Laju kita nanti akan sangat terprediksi. Kita butuh ruang, dan butuh orang yang menantangi kita untuk terus bertumbuh, bukan?” jawabku kala itu. Sebenarnya hal itu untuk menambahkan alasan bahwa aku memang tidak mengalami loncatan-loncatan reaksi kimia apapun bila bersama Mas Dias.
Dan kedatangan Mas Dias ke Birmingham selama dua hari ini dengan alasan mampir dari konferensinya di London, untuk menanyakan kembali untuk terakhir kalinya kesediaanku mendampinginya. Dan itu dilakukannya setelah dia sudah memutuskan bertunangan dengan Arina, teman sekantornya di LSM tempat kerjanya di Jakarta. Kenapa laki-laki seperti Mas Dias bisa mengambil langkah segila itu?
            “ El, this is my last battle, my last chance. Kau tidak tau selama ini aku selalu terus mengikuti lajumu? I knew everything’bout you. Termasuk keputusan konyolmu untuk bertahan dengan lelaki yang nggak pasti itu.” Kali ini Mas Dias memaksa kembali bertemu di sela-sela jadwal makan siangku. Sudah setahun ini aku bekerja sebagai auditor di KPMG cabang Birmingham, dan hidupku baik-baik saja. Aku hanya kontak dengan Mas Dias beberapa kali saja via skype. Mungkin dia stalking membacai blogku, kicauanku di twitter atau racauanku di facebook. Jejaring dan media sosial membuat dunia begitu sempit.
            “Elia, you don’t have much time anymore. Kamu bukan lagi perempuan yang banyak waktu lagi untuk memilih. Kita masih bisa sama-sama, so would you?” Nada dalam perkataan Mas Dias kali ini terdengar lebih menyudutkanku.
Aku memandangi raut mukanya lagi. Aku sangat mengenali laki-laki yang ada di hadapanku ini. Kami lama bersama-sama, bertumbuh bersama, tapi itu bukan cinta. Bila otak logikaku yang banyak bicara, atau rayuan teman-reman untuk menerima saja lamarannya, pastilah sudah semenjak dulu kami bersama. Tapi mengapa ia tak juga mengerti, hingga harus terbang sebegini jauhnya, untuk menanyakan kembali pertanyaan yang sama kepadaku.
            “ Mas, aku hidup sampai hari ini artinya waktu masih memberi kesempatan padaku. Maukah kau kupilih karena aku merasa sudah tak punya banyak waktu lagi? “ aku ingin memberinya jeda dengan kalimat yang kuucapkan perlahan.
            “ Kita bisa hidup bersama dengan baik, aku percaya itu. Tapi aku ingin berbagi hidup mas, bukan hanya berbagi rutinitas dan keseharian. Kamu lihat aku sekarang Mas? Bila kau bilang kau mengikuti laju hidupku selama ini, kau pasti tahu bagaimana pertumbuhanku sampai sekarang. Bukan kamu nggak cukup baik untuk aku, Mas. Cuma kita butuh seseorang yang mampu mengimbangi dan memacu laju kita masing-masing. Dan kita bukan seseorang yang pas satu sama lainnya,” jawabku. Semoga ia paham maksudku.
            “ Jadi benar, dia si lelaki secangkir teh hangat manis itu? Kamu masih tetap mau lelaki biasa aja yang bisa kamu ajak ngobrol sampai lupa waktu sambil minum teh manis hangat?” kali ini entah mengapa ketegangan di raut mukanya mencair.
Aku tergelak, lalu tersenyum. Aku mengangguk kecil.
            “ Ngobrol itu maksudnya “berbagi hidup” tapi tetap menikmati rutinitas hidup seperti halnya minum teh hangat manis. Sok filosofis ya aku,” ungkapku.
            “That’s you, El. That’s makes you different. Well, trus kamu begini mau sampai kapan? Ini seperti bukan kamu yang pakai logika dalam mengambil keputusan.” Telisiknya, sambil mencari-cari jawab pada mataku.
            “ You did your last battle. Aku juga ingin begitu, Mas. I will do my last battle. Biarkan aku memutuskan kali ini berdasarkan...semacam firasat.. pertanda barangkali.” Jawabku, sambil ragu memilih kata-kata yang tepat.
            “ Kamu gila El, gimana ntar kalau firasat atau pertanda kamu itu ternyata salah?” sergahnya. Tangan kanannya memperbaiki letak kaca mata minusnya.
            “ Ya terima kenyataan kalau aku salah lah, Mas. Bukankah hidup juga tentang belajar menerima? “ jawabku singkat. Sebenarnya kalimat itu juga menjawab keraguan pada hatiku sendiri. Mas Dias tersenyum padaku. Dia sedang belajar hal yang sama pada detik terakhir setelah kalimatku terucap. ***

Flash Fiction—
Ndalem Pogung, Jogya 1 April 2013. 1.34. am. Ampun deh ini kepala kalau udah mau nulis, enggak mau tidur kalau belum kelar jugaaa...baiklah, saatnya zzzz.