Saturday, 29 September 2012

The Martian and Venusian

Perempuan itu seperti gelombang, mengarak berbagai perasaannya yang datang silih berganti.

Saya runtut mendengarkan (membaca lewat chat-lebih tepatnya) gelombang perubahan perasaan seorang sahabat dekat yang tengah terkena “penyakit cinta”. Pagi hari ini dia bisa berbunga-bunga seperti dunia semuanya penuh semerbak cinta yang hanya miliknya, siang hari ia bisa tiba-tiba merasa tak dipedulikan, sore hari ia merasa lelah, mempertanyakan apakah yang tengah dinantinya layak untuk diperjuangkan. Malam harinya bisa saja ia merasa melonjak-lonjak dalam kebahagiaan paling tinggi yang pernah dirasakan, hanya karena hal yang  sangat sederhana. Bila saya membuat grafik pasti saya bisa memprediksi betapa grafik itu naik turun tak pasti, seperti gelombang menjelang tepi pantai. Begitulah perempuan. Dunia para venusian memang dunia yang terkadang sulit dimengerti, seperti juga dunia para Martian (laki-laki). Kita bicara dengan bahasa yang berbeda, merasa dengan cara berbeda, kebutuhan akan kebahagiaan yang berbeda serta mengendalikan perasaan/emosi/masalah dengan cara yang berbeda juga.

ahaha maaf aku menyebalkan, aku banyak sekali bercerita” katanya pada akhirnya, setelah ia merasa sudah terlalu panjang lebar bercerita.

Aku tersenyum. Wahai perempuan, memang begitulah caramu “coping emotion”. Mereka akan mencari seseorang terdekat untuk mendengarkannya. Cukup dengan didengarkan, ditimpali, diperhatikan, perasaannya akan kembali membaik.

Tapi jangan mengharap terlalu banyak bahwa laki-laki akan melakukannya. Mereka sebaliknya akan menghabiskan waktu main futsal, sepakbola, baca berita, atau main game. Mereka menghadapi masalah dengan terkadang mencari aktivitas untuk melupakan sejenak, untuk merefreshkan pikiran mereka dan menyelesaikannya. Itulah cara mereka ngumpet dalam “gua”mereka untuk sementara. Sedangkan bagi si perempuan, aksi si laki-laki yang tengah menarik diri, mencari ruang sementara dianggap sebuah pengacuhan dan ketidakpedulian. Martian dan Venusian benar-benar dua makhluk dari dunia yang berbeda, masing-masing ciptaan Tuhan yang menakjubkan. Terkadang yang dibutuhkan dalam perbedaan adalah mengerti.

Saya menyimak perbedaan emosi dan cara mereka mengendalikan emosi yang ada pada dua sahabat saya, yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Baiklah, hehe dua-duanya mempunyai masalah percintaan yang berbeda. Pada saat mereka ngobrol (sesi curhat) dengan saya, si sahabat perempuan cenderung sangat terbuka, menceritakan dengan detail emosi perasaannya. Panjang lebar mengenai perasaan hatinya, terkadang menanyakan pendapatku, atau kadang berkeluh kesah sendiri. 

            Aku gemes..kenapa laki-laki begitu. Aku uring-uringan mikiran dia, dia-nya nggak peduli. Kenapa sih laki-laki itu nggak menampakkan emosi mereka? kenapa mereka terlihat sangat terkendali? Eghh ” protes si sahabat perempuanku itu.

Lalu saya menimpali, dia bercerita lagi, dan pada akhirnya perasaannya akan kembali membaik. Perempuan cukup didengarkan, merasa diperhatikan, maka dunia akan nampak baik-baik saja bagi mereka.

Yeap, kita sering menginginkan si mahluk planet lain itu bertindak seperti yang kita mau, dan merasa seperti cara kita merasa. Padahal perempuan dan laki-laki memang berbeda, yeap we are different..

Sedangkan pada saat saya sedang ngobrol dengan sahabat laki-laki saya tentang masalahnya, cara berceritanya saja sudah berbeda. Dia hanya bercerita inti masalahnya saja, saya tidak tahu dan tidak diberi tahu “siapa” si X yang dimaksud, (walaupun saya bertanya penasaran ahaha) tapi dia tidak menceritakan detail-detail lainnya. Dia hanya bercerita tentang kondisinya saja dan sangat sedikit informasi yang diberikan. Lalu saat saya menanggapi ceritanya tersebut,  saya dengan tidak sadar memasukkan pendapat-pendapat saya pada saat dia bercerita. Kemudian serta merta dia berkata :

            “ Tenang Siw, I know what I’m doing” begitu dia bilang.

Ahaha...glek, saya lupa dengan siapa saya bicara..hey makhluk bernama laki-laki ternyata. Tepok jidat saya..lalu menambahkan,

            yeah, I believe in you” segera saya menanggapinya demikian. Man need trust, not advice ehehe..

    “Laki-laki itu seperti nahkoda yang sudah tahu arah kompas, kemana yang akan dituju        

Katanyaaa (biar nggak terkesan saya sok tahuuu ehehe soalnya masih belajaran juga), jangan terlalu banyak kasih laki-laki saran, nasihat-nasihat apalagi petuah hihi. Bagi perempuan, terkadang hal tersebut merupakan salah satu ekspresi kasih sayang mereka, tapi bagi laki-laki kadang bisa merupakan hal yang intimidatif, merasa “untrust”.

Kalau misalnya setelah berjalan dengan arah kompasnya itu, kemudian ternyata si laki-laki salah arah? Atau tidak berjalan sesuai harapan ataupun gagal? Ahaha aturannya, menurut “kitab”, jangan menyalahkan makhluk Martian itu. Cukup pahami saja, terus beri saja dukungan yang cukup, itu sudah lebih dari cukup bagi mahkluk Martian. Karena dengan menyalahkan akan menghujam-hujam sisi kelelakiannya. Being trusted is his primary need, not being cared for, berbeda dengan perempuan yang kebutuhan utamanya adalah diperhatikan/caring.

“When a woman's attitude expresses trust, acceptance, appreciation, admiration, and approval it encourages a man to be all that he can be”(JG)

Hihi ajaib ya ciptaan Tuhan.

Saya jadi ingat sebuah kejadian, sebuah percakapan yang sudah begitu lama, namun teringat saat saya menuliskan tulisan ini. 

            Aku mau ngomong sesuatu,” katanya suatu saat, beberapa tahun lalu. Dalam hati sudah berpikir, apa yang akan dibicarakannya.
            Apaan” kataku, mencoba agar suaraku terdengar olehnya, mengalahkan suara deru sepeda motor yang kami tumpangi.
            Kemarin rasanya bersalah, aku memandangi punggungmu sampai hilang di kelokan, andai saja aku bisa mengantarmu pulang ke kosan, sayangnya aku nggak bawa mantel, nanti malah kehujanan.” Begitu katamu, seakan dengan begitu hati-hati mengatakan hal itu padaku. Seperti baru saja mengatakan hal yang sangat penting. Hualaaah gubrak, sungguh lebay kalimatnya, padahal tempat saya meninggalkannya untuk pulang ke kosan hanya beberapa blok saja. Saya bukan tipikal perempuan manja yang harus diantar kemana-mana, saya bisa sendiri, begitu pikirku. Tapi hal tersebut ternyata penting bagi laki-laki.
Atau sebuah kejadian di suatu ketika, saat di perjalanan lalu sepeda motor yang kami tumpangi ternyata harus segera dibalikin, serta merta kubilang :
            aku turun sini aja, trus naik angkot ke kosan. Gampang kok, trus kamu balikin sepeda motornya,” begitu kataku, dan menganggap itu sebuah solusi yang tepat.
Lalu terdengarlah responnya,
            ih..memangnya kamu anggap aku laki-laki seperti apa, tadi kujemput di kosan ya harus dianter balik lagi ke kosan.”  hahaha gubraks,
lucu ya makhluk Venusian dan Martian itu.

Deep inside every man there is a hero or a knight in shining armor, men are motivated when they feel needed. Sifat seperti itu tumbuh natural dalam diri seorang laki-laki. Saya saja yang tidak tahu ahaha ;p

Perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda. Terkadang perbedaan inilah yang menimbulkan friksi, ataupun salah mengerti. Kita melakukan sesuatu dengan niatan untuk menyayangi, ataupun memperhatikan, bisa saja diterjemahkan sebagai bentuk ketidakpercayaan akan kemampuan laki-laki. We speak with different language, and need different fulfillment. Kita membutuhkan primarily needs yang berbeda :

  She Needs Caring and He Needs Trust
  She Needs Understanding and He Needs Acceptance
  She Needs Respect and He Needs Appreciation
  She Needs Devotion and He Needs Admiration
  She Needs Validation and He Needs Approval
   She Needs Reassurance and He Needs Encouragement

 Without an awareness of what is important for the opposite sex, men and women don't realize how much they may be hurting their partners (JG)

Hihi apaan coba posting tulisan ini ahahaha saya kesambet ;p

Love is magical, and it can last, if we remember our differences (JG)

 (Just wanna say, I feel blessed to know you and **** you, makhluk Martianku. My name is Mars, but now Mars is Venusian).

Glasgow, 30 September 2012. 10.30 pm.

Tuesday, 25 September 2012

Masih



Udara mendingin, musim gugur hadir tepat waktu nampaknya. Kala kau mulai menyapa :
Kamu : udah didownload belum?
Aku : Apa?
Kamu : cara analisisnya, kan udah dikirim email
Aku : iya..sudah,
Kamu : harusnya bisa dengan cara begitu, dicoba ya
Aku : he-eh iya,
Kamu : bagaimana, sudah jelas kan?
Aku : umm..masih,
Kamu : masih apa? Bingung? bagian mana yang masih bingung?
Aku : Masih rindu
Terlihat kelepak burung dara di kejauhan, lalu lengang.

Glasgow, 25 Sept 2012





Thursday, 20 September 2012

Abu




Mungkin abu ingin bercerita tentang keterlanjuran
Cinta api pada kayu,
Menjadikannya tercipta, tak peduli bahagia atau derita
Hanya ia mengada,
Cerita memang mungkin butuh ada,
Tentang bahagia atau derita, tanya manusia
Pilihan ada di hatinya
Api, Kayu dan Abu
Cinta, Kamu, Aku.
 
GLasgow, 20 Sept 2012. 5.10 pm

Tuesday, 18 September 2012

Keep Calm and Carry On


Detik berjalan, rasanya cepat sekali, malam kembali menjelang. Sepi, hanya bunyi detak jam dinding di kamar flatku. Betah sekali berlama-lama di sini, nyaman, luas, semuanya ada. Meja ini merupakan spot yang paling sering kutempati. Meja dengan laptop, sanggup membuatku bertahan di tempat yang sama dalam waktu yang relatif lama. Belajar, Nulis, browsing jurnal ataupun baca-baca berita terkini, chat, ataupun skype-an. Semalam sampai jam 1 saya mengedit sebuah cerpen dengan menambahkan sedikit polesan agar sesuai dengan tema project Antologi NBCMalang yang insyaAllah akan diterbitkan Bulan Oktober nanti.
Lalu membuka file-file lama dan menulis sebuah perjalanan (menatapi asrinya kebun teh wonosari). Aku banyak jalan-jalan, namun seringkali terlewat untuk menuliskannya kemudian mengabur kehilangan rasa. Menulis tentu saja membutuhkan sefrekuensi dengan kejadian, dengan pemikiran. Menterjemahkan apa yang ada di pikiran dan hati menjadi paragraf-paragraf yang bisa ditransferkan pada pembaca. Kadangkala bila kejadiannya sudah lama, harus berusaha “masuk” kembali agar mampu menghadirkan suasana yang hampir serupa. Asyik juga hehe, soalnya tentu saja sayang bila cerita-cerita perjalanan hanya tersimpan di dalam file tanpa dibagi pada orang lain. 
Apalagi untuk saya yang hobinya nulis, jalan-jalan dan foto-foto. Masa ngaku hobi jalan-jalan, blognya jarang cerita jalan-jalannya, enggak sip dong hehe. Jalan-jalan bisa menginspirasi untuk menuliskan cerita baru, dan cerita perjalanan selayaknya harus didukung oleh foto-foto yang bagus. Oleh karena itu, membeli sebuah kamera “beneran” sebagai alat pendukung menghasilkan tulisan bagus masuk dalam wishlist saya ketika pulang akhir tahun ini ke tanah air. Merambah ke tulisan traveling memang hal yang masih tergolong baru untuk saya. Masih banyak belajar tentang hal apa saja yang perlu disajikan dalam sebuah tulisan travelling. Tulisan catatan perjalanan saya yang berjudul “ Edinburgh, Si Jelita dari Scotlandia” dimuat dalam buku “ The Jilbab Traveler”nya Mba Asma Nadia bersama beberapa penulis lainnya. Saya juga akan menyelesaikan naskah untuk dimasukkan ke The Jilbab Traveler 2 yang bertema pengalaman jalan-jalan ke luar negeri dengan gratisan. Naskah saya yang berjudul “ Menjelajah Dunia dengan Biaya Cuma-Cuma” kini masih bolong sana sini, masih menunggu banyak sentuhan polesan.
Cinta memang sulit disembunyikan ehehe..passion saya di tulis menulis, travelling dan fotografi ini kadang membuat lupa waktu. Tapi setidaknya saya tahu passion saya yang ingin terus saya hidupi, dan saya bahagia dengan semua itu. 
Hidup kini, memang telah banyak berbeda, termasuk studiku. Kandidat doktor..heuu, bahkan saya sering nggak sadar diri sudah sampai tahun kedua studi doktoralku. 
            Gini-gini lho..calon doktor” katamu sambil mengunyel-unyel kepalaku dulu sewaktu sebelum saya berangkat. Kenapa? Kandidat doktor yang manja, galak dan  ngambekan? Hihi ;p
Saya masih terus berupaya menyelesaikan riset dan mempelajari banyak hal baru untuk keilmuan dan pasti berguna pada saat saya kembali ke kampus tempat saya bekerja. Label "doktor" pastilah tak berbeda dengan label-label lainnya karena yang menjadi esensi bukanlah label yang tersemat namun bagaimana ilmu yang didapat dapat lebih berguna nantinya.
Memang saya merasakan jenjang studi ini menjadi “fase terberat” dibandingkan dengan jenjang studi saya terdahulu yang tergolong amat mulus. Tapi mungkin memang standarnya lain, maka marilah tetap Keep Calm and Carry On ehehe..
Saya banyak pergi ke tempat-tempat jauh, bertemu dengan orang-orang baru, mengamati banyak hal, belajar ilmu-ilmu baru. Tapi saya juga lama meninggalkan rumah, lama tidak berjumpa nyata dengan keluarga tercinta, lama menahan rindu pada mendoan hangat, soto sokaraja, mie ayam pak kumis, Oseng-oseng iga, es duren purbalingga, Bakso Banjarnegara, es krim kopi Brazil, Gudeg Jogya, eh eh...makanan lagi yaa...ehehe..
Tapi begitulah hidup yang selalu berubah. Sahabat-sahabat saya pun terus bergerak berubah. Ada yang baru sampai di Aussie, ada yang akan segera berangkat awal tahun depan, ada yang hendak melahirkan, ada yang hendak menikah. Dan hidup..bergerak dan terus bergerak..
Mari terus bergerak dalam ritme masing-masing.
Malampun terus bergerak. Alunan lagu-lagu di Swaragama FM pun terus berubah-ubah, dan saatnya saya menyudahi tulisan ini. Temanya apa sih tulisan ini? Ahaha enggak jelas, bergerak ke arah yang tidak saya rencanakan pada saat saya membuka jendela word hihi. Ah baiklah, saya akan segera bergerak menuju naskah tulisan yang harus saya selesaikan, dan rencana eksperimen esok.
Mungkin saat ini gerakan perubahan ada yang tidak sesuai dengan harapan kalian, teruslah melangkah maju, Keep Calm and Carry On, guys!
Eh, Keep Calm and Eat a Lot ;p


Terdengar syahdu suara Andien dengan “Gemilang”nya di Swaragama FM
Tempatku tuju segala angan dan harapan
Tempat ku padu cita-cita dan impian
Tempat ku tuju setiap langkah yang berarti
Tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu

Waktu terus menguji tekad yang ku miliki
Kini tlah terbukti segala kan ku gapai
Rintangan ku hadapi cobaan ku lalui
Semua tlah ku dapati tetaplah gemilang


Glasgow, 18 Sept 10.00 pm
 

Menatapi Asrinya Kebun Teh Wonosari

Memasuki Kawasan Perkebunan Teh Wonosari, Malang

Udara sejuk begitu terasa saat sepeda motor yang saya tumpangi memasuki kawasan kebun teh Wonosari, Malang. Hijau..sungguh-sungguh hijau panorama yang menentramkan hati. Tempat ini, merupakan salah satu tujuan wisata yang ingin saya kunjungi. Keinginan tersebut terpantik saat dulu membaca rubrik travel di salah satu koran nasional, maka kebuh teh wonosari masuk ke dalam wishlist tempat yang ingin saya kunjungi. Maka berbunga hati tentu saja bisa mengunjungi tempat ini. 
Agrowisata Kebun Teh Wonosari ini berada sekitar 30 km utara kota malang, di lereng Gunung Arjuna, tepatnya di perbatasan dua desa, yaitu Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari dan Desa Wonorejo, Kecamatan lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Untuk bisa menjangkau tempat ini bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Lawang (hahah..kalau mauuu), bersepedaa (pasti ngos-ngos-an karena jalanannya menanjak), angkot (untuk menuju ke lokasi ada angkutan umum tetapi jarak tunggunya relatif lama. Yang paling nyaman mungkin dengan kendaraan pribadi seperti mobil ataupun sepeda motor karena jalanan cukup berliku dan menanjak. Tarif masuk kawasan agrowisata ini cukup murah hanya Rp. 8000 saja kok (dan Rp.11.000 pada hari minggu atau hari libur), cukup untuk menikmati ademnya kawasan yang sejuk menghijau itu. 
Begitu memasuki kawasan kebun teh, saya disambut hamparan kebun teh yang luasnya sekitar 1.144,31 hektar itu. Saya memang punya penyakit aneh, mempunyai perasaan berlebihan pada kebun teh. Dari dulu saya pengen banget pergi ke kebun teh. Kenapa? Saya sendiri tidak tahu penyebabnya haha. Kebun teh pertama yang saya lihat itu kebun teh daerah pegunungan dieng Wonosobo, namun hanya sekedar lewat saja. Jadi inilah kali pertama saya benar-benar bisa memetik sendiri daun-daun teh yang masih hijau dan ngumpetin beberapa helai di tas..sebagai kenang-kenangan..hihi ;p
Udaranya masih begitu bersih, hingga kawasan ini sangat cocok untuk berlibur menghilangkan penat, refreshing sejenak dari rutinitas. Bila waktunya pas, maka kalian bisa memperhatikan para ibu-ibu pemetik teh bekerja. Sayangnya (atau kebetulan ;p) pada saat saya ke sana, para pekerja sedang libur hingga perkebunan nampak lenggang. Hari kerja karyawan kebun teh berlangsung Hari senin-sabtu sampai jam 2 siang, jadi bila ingin melihat para pekerja kebun teh beraksi atau melihat pemrosesan di pabrik teh maka datanglah pada waktu-waktu tersebut.
 Pengunjung daerah wisata ini memang belum terlampau banyak, mungkin karena belum gencarnya promosi. Padahal daerah wisata ini cukup potensial untuk menjadi pilihan menghabiskan liburan.

Berlatar hamparan daun-daun teh
Di antara taman bunga
Saya menikmati berjalan-jalan dan foto-foto berlatarkan kebun teh dan taman-taman yang menghijau. Asrinya pemandangan sekitar memang membuat betah berlama-lama di sini. Saat itu cuaca mendung, dan gerimis rintis mulai turun. Kami memutuskan untuk berteduh di wisma rolas, sebuah wisma dengan arsitektur tradisional yang menawan..
            huaaa...aku pengen punya rumah seperti ini,” kataku spontan kala itu. Saya memang pecinta semua serba tradisional (memang cocok dengan ndeso-nya yah ;p).  Wisma yang serba kayu itu nampak begitu hommy dan nyaman. 


Berlatar Wisma Rolas

Huaaaah..bikin jatuh hati yaaah..

Ah lihatlah foto di bawah ini, bayangkan bisa senderan sambil membaca buku, dengan secangkir teh hangat dan gerimis rintis yang turun..ditemani kamuu uhuk, what a wonderfull world yaaa...hehe..ngimpi terooosss :D
Uhuk...saya suka sekali foto ini...tengkiu fotografeeeeer :)
Aaaaaa Surgaaaa...hehe ;p
Saya berteduh karena hujan nampaknya menderas, duduk-duduk di kursi kayu di ruang utama wisma tersebut. Sebuah percakapan hangat, kebun teh yang tengah diciumi gerimis dan udara yang mendingin. Sejuk dan damai suasana. Nampak beberapa pekerja kebun juga ikut berteduh dari hujan. Saat hujan mereda, saya mengeksplor wisma yang telah membuat saya jatuh hati ini. Ternyata di bagian belakang ada rumah panggung dimana terdapat kamar-kamar yang disewakan bagi pengunjung. Ada 10 kamar dengan rate @250.000/hari. Untuk wisma-wisma lainnya harganya variatif kok, kalau sewa bareng-bareng satu wisma pasti akan lebih murah. Heuu menyenangkan sekali rasanya kalau bisa meluangkan waktu tinggal di sini. 
Di rumah panggung, tempat kamar-kamar Wisma Rolas
Bagian Belakang Wisma Rolas
Wisma-wisma yang disewakan bisa satu rumah atau satu kamar, karena tempat ini sering digunakan untuk tempat meeting, pertemuan keluarga atau wisata rombongan. Wisma-wisma tersebut bisa dibooking online, sudah ada daftar harga dan gambar yang bisa kita lihat-lihat sebelumnya. Oh ya, di hari-hari libur, bila berminat cepatlah membooking dari awal, karena biasanya cepat penuh. Misalnya saja pada acara tahun baru tahun 2011, kami berombongan ingin membooking di wisma kawasan Wonosori ini tapi sudah fullbook. Humm, berarti menandakan kawasan ini cukup favorit untuk dijadikan tempat liburan kan..
Selain wisata alam kebunnya, di tempat ini juga terdapat berbagai pilihan fasilitas dan aktivitas. Ada kebun binatang mini, permainan outbound, ataupun menantang adrenalin dengan wahana ATV (All Terrain Vehicle).  Kereta mini yang berjalan memutari kebun teh juga ada, cocok untuk wisata keluarga.

Kereta Mininyaaaa...mau naik?
Bila kalian berminat dan pas pabrik tehnya buka, silahkan bisa melihat dan belajar bagaimana proses pembuatan teh langsung di pabriknya. Untuk oleh-oleh, ada kedai yang menjual berbagai varian teh dan kopi. Mulai dari teh celup, teh tubruk, kopi bubuk, instan dan lain-lain, lengkap disediakan. Setelah kucoba, tehnya rasanya memang jempolan, tapi untuk kopinya standar ehehe. 
Hujan mereda, lalu kabut tipis mulai turun. Humm suasananya memang membuat betah untuk berlama-lama di sana, tapi saya harus segera kembali pulang. Gerimis turun lagi, perkebunan kembali basah.
Mantel hujan, deru sepeda motor dan perjalanan pulang, semuanya layak untuk dikenang.
Mungkin suatu saat nanti, akan kukunjungi lagi tempat ini.
Suatu saat nanti.

(Cerita perjalanan 24 Januari 2011)
**Foto-fotonya saya masih kuruuuuus...hihi ;p

Glasgow, 18 Sept 2012

Monday, 17 September 2012

Wanna Grow Old With You


Cangkir teh di tanganku masih mengepul, tapi segera kubawa ke ruang tengah walaupun aku tahu nasibnya akan sama sebentar lagi. Nasib secangkir teh itu untuk menunggu beberapa saat agar tidak terlalu panas, untuk segera kau teguk. Selalu dan selalu begitu, nasib secangkir teh itu berpuluh tahun kusajikan padamu. Kalaupun aku menjadi secangkir teh itupun aku akan sama dengannya, menunggu beberapa saat, untukmu. 
Begitu hendak sampai ruang tengah, aku terheran..Uhmm kenapa suara ketikan di keyboard tak lagi terdengar, hening. Kulangkahkan kaki segera ke ruang tengah untuk segera membawakan secangkir teh untukmu. Untukmu, yang pasti sudah lelah seharian ini, dan harus menyelesaikan deadline laporan untuk esok hari.
Sampai di ruang tengah, kudapati layar laptop itu masih berkedip-kedip. Sementara engkau menelungkupkan tangan sebagai sandaran kepala, menggeletak dengan mata terpejam. Ah, kali ini secangkir teh nampaknya akan bernasib lain
Kuletakkan secangkir teh itu di meja, lalu aku mendudukkan diri di sofa hijau lumut dekat meja kerjamu. Memandangimu yang tengah tertidur, rasanya ingin ikut bersama mimpimu dalam setiap helaan nafasmu yang teratur.
Aku selalu suka memandangimu tertidur, diam-diam mengamati ekspresimu yang tengah pulas terlelap. Dulu kau pernah bilang,
            Kalau mas tidurnya ngorok bagaimana?” tanyamu menggodaiku.
            Nanti adek rekam, trus adek jadikan ringtone Hp” jawabku ringan. Lalu engkau tertawa, dengan udara yang menyambut tawamu dalam bahagia.
Dan kini aku memandangimu yang tengah terlelap, di antara tumpukan kertas kerja dan layar laptop yang masih berkedip. Pasti penat ragamu, lelah dengan segala aktivitasmu hari ini. Menatapimu tertidur, merasakan duniamu dekat dengan duniaku. Melihat kamu tanpa label-label beraneka rupa yang terkadang menjauhkan aku dan kamu. Hingga ingin rasanya berlama-lama memandangimu tertidur. Ikut bersama naik turun helaan nafasmu, mungkin bercerita tentang harmoni. Mungkin tentang impian yang masih kita yakini, mungkin tentang masa indah yang selalu kita ulangi. Lalu menghapali lagi detail raut mukamu, walau sudah kupandangi berkali-kali.
Teh di cangkir di meja itu sudah tak lagi panas, kuambil dan segera menyesapnya. Hangat, sepertimu yang menghangatkan duniaku.
Aku tahu dunia tak cuma berisi canda tawa, gurau, bahagia, tapi juga ada luka, masalah, mungkin juga derita. Tapi saat memandangimu tertidur, semuanya menjadi sama, damai terasa di dada. Dan aku ingin bisa memandangimu tertidur berpuluh puluh tahun lagi. Lalu kadang sehabis bangun, kita bicarakan tagihan rekening listrik, arisan, atau iuran sampah, tapi itulah percakapan paling romantis sedunia yang ingin kubagi denganmu.
Teh di cangkir sudah habis kusesap, dan engkau masih terlelap. Malam sudah menua, jarum jam sudah mencapai angka satu. Ku-sleep-kan layar laptopmu, lalu kuambil selimut untuk menyelimutimu yang masih tertidur dengan posisi yang tak biasa. Aku mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningmu, usapan ringan di rambutmu, lalu engkau bergerak sebentar, tersenyum dalam tidurmu. Mimpi apa sayang? kejar-kejaran sama kura-kura ya? lalu kembali lelap kau tertidur.
Detik berlalu, dan aku ingin terus memandangimu tertidur sampai aku ikut terpejam di sofa hijau lumut itu. Untuk nanti beberapa jam kemudian, dengan mata kriyip-kriyip dan  rambut kusut, berkata padamu.
            Bangun, shalat malam dulu, habis shalat, mas selesaikan kerjaannya, trus adek bobok lagi yaa.. ehehe.” Aku gemar mencadaimu selalu. Tapi nyatanya, aku segera ke dapur dan menyiapkan secangkir teh hangat untukmu. Cangkir berukuran sedang, satu sendok makan gula, dan teh celup vanilla yang cukup lima kali dicelup-celupkan agar tidak terlalu pekat.

-------

Dan aku memandangimu tertidur lagi kini, dengan rambut yang tak setebal dulu, tak lagi hitam legam seperti dulu, beberapa uban sudah menghiasi rambutmu. Tubuhmu  sedikit mengurus, kadang kau terbatuk, dengan nafas yang pendek-pendek.

Aku tetap mencintaimu, dan tetap selalu suka memandangimu tertidur.
I wanna grow old with you..

 
  
Glasgow, 17 Sept 2012.