Monday, 28 September 2015

Pencarian ke dalam Diri




Saya baru saja melihat tayangan “Satu Indonesia bersama Reza Rahardian” di Net TV melalui Youtube. Silahkan kalau mau ditonton bisa diakses di sini. Iyah, salah satu bonus tinggal di sini adalah akses internet yang super cepat, jadi bisa nonton live streaming ataupun menonton video-video di youtube yang ternyata banyak sekali yang dapat kita ambil manfaatnya. Kali ini saya ingin nonton yang ringan-ringan saja, tapi menyaksikan tanyangan tersebut saya sempet merinding.
Ih, gila keren banget ya kalau orang cinta saya apa yang dikerjainnya. Orang yang berjalan di jalur jalur passionnya. Reza rahardian salah satu contohnya. Dari tayangan yang saya saksikan, jelas sekali bagaimana dia mencintai seni peran dalam hidupnya. Saya jadi teringat dengan pembicaraan saya dengan rekan saya di Glasgow beberapa saat yang lalu. Di sela-sela undangan acara silaturahmi Idul Adha di flat Teh Siska.
            “ Belum tau sih mbak, soalnya setelah setahun di sini aku malah menemukan beberapa hal lain yang aku sukai.” Begitu kata rekan saya tersebut ketika saya tanya apa yang akan dikerjakan setelah dia pulang ke Indonesia nanti.
Dia baru saja merampungkan studi masternya di bidang Public Health, basicnya ia adalah seorang dokter yang sebelumnya bekerja di WHO Jakarta. Tapi kemudian dari percakapan kami, saya menangkap dia masih mencari cari apa yang ingin dia lakukan untuk hidupnya.
            “Tadinya sih aku lanjut S2 karena pengen jadi dosen sih mbak, tapi setelah di sini..bla blaa..” dia banyak bercerita tentang perjalanan dan pencarian-pencariannya. Tentang hobi baru memotretnya. Kalau orang melihat hasil-hasil fotonya, mungkin orang akan mengira kalau dia sudah lama menekuni dunia fotografi. Padahal ternyata baru semenjak di Glasgow katanya.
            “Makanya aku belum tau mbak. Yang jelas aku mau lakukan apa yang aku inginkan dulu” sambungnya.
Aku sih mendukungnya. Hidup terlalu mahal untuk dijalani dengan pilihan salah. Walaupun ada orang yang mungkin pernah bilang : “Cintai apa yang kamu kerjakan, bukan kerjakan apa yang kamu cintai”
Well, kalau bisa cinta sih silahkan silahkan saja. Tapi orang bermacam-macam, ada yang bisa ada yang enggak bukan?
Contoh gampangnya saja soal cinta pada lawan jenis. Sahabat saya  adalah orang dengan karakter yang gampang mencinta orang yang mencintainya lebih dulu, memberikannya perhatian, bla bla bla..udah pasti jadi. Dan ada banyak orang yang memang seperti itu. Tapi ada pula yang lain, kayak saya misalnya hahah..saya bukan tipe orang yang gampang mencintai baik orang atapun hal, bidang. Dan waktu pun bahkan tidak membantu, bahkan dengan mengamati variabel waktu inilah saya menjadi semakin yakin itu, bahwa bertahun tahun kalau nggak suka ya tetep aja nggak suka.
Saya hanya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tiap orang berbeda-beda, termasuk dalam menentukan apa yang ingin ia kerjakan dalam hidupnya. Ada yang asal mengerjakan sesuatu, yang penting apa yang dia kerjakan mendatangkan uang, mampu menghidupi dirinya atau keluarganya. Udah, cukup itu. Tapi ada pula yang memerlukan semacam “rasa”, reason, atapun orang biasa menamainya passion untuk menjadi tenaga penggerak untuk apa apa yang dia kerjakan. Saya tidak ingin bilang yang X lebih baik dari yang Y ataupun sebaliknya. Orang berbeda-beda dan bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri-sendiri.
Saya termasuk ke golongan orang yang mempertimbangkan rasa dalam hal-hal yang saya kerjakan. Saya tahu betul mana yang saya sukai mana yang tidak, walaupun begitu saya masih dalam pencarian jalur mana yang harus saya fokuskan. Saya masih belum pasti.
            “ Mbak siwi nggak niat untuk post doc?” beberapa saat lalu Teh Siska bertanya pada saya.
Post Doc? Enggaklah, buat menyelesaikan PhD aja udah struggle begini, apalagi post doc. Saya lebih memilih mengerjakan hal-hal lainnya. Post doc itu semacam researcher di luar negeri yang bekerja dalam suatu  lab group. Tugasnya mengerjakan penelitian, menulis grant dan juga menghasilkan paper. Sangat ilmiah, itu sih pointnya. Saya sih saat ini belum kepikiran sama sekali ke sana. Saya berpikir rada nggak cocok untuk saya.
Setelah selesai studi ini, tentu saja saya kembali ke institusi dan bekerja lagi menjadi dosen. Saya cukup menikmati peran itu, walaupun saya masih merasa belum menemukan jalur yang benar-benar saya cintai. Sesuatu yang bisa saya kerjakan suka rela, nggak kenal waktu, berasa capek tapi seneng, jatuh bangun tapi tetep cinta. Ahaha saya masih dalam perjalanan pencarian.
Saya dulu berpikir kalau mungkin saja saya menemukannya dalam dunia kepenulisan. Yeah I feel it, but..mungkin juga ada di beberapa bidang lainnya. Saya suka mencobai hal-hal yang baru, belajar hal-hal yang baru. Saya mencoba merasai apakah yang saya lakukan itu membahagiakan untuk saya atau biasa saja. Bertumbuh, bertumbuh dan bertumbuh. Mungkin itulah yang semakin saya rasakan menjadi sebuah kebutuhan.
Ada gerak maju, berjalan, mencari, menemukan, merasai, mempertimbangkan. Sepertinya memang hidup adalah perjalanan tak hentinya untuk mengenali diri sendiri. Ah ya, mungkin demikian.

Salam,
Glasgow, 28 September 2015. Saat daun daun sudah mulai berubah warnanya.
 
 

Sunday, 27 September 2015

Akhirnya Submit!




Nampaknya saya harus berbagi berita bahagia ini, walaupun perjalanan belum usai tapi rasanya penghujung sudah kian mendekat. Kamis tanggal 24 September kemarin saya sudah submit thesis saya, alhamdullillah akhirnya. Tentu saja ada rasa lega luar biasa, walaupun memang belum bisa lega sepenuhnya karena masih menunggu ujian viva voce-ujian doktoral, yang merupakan tahap krusial untuk menentukan apakah saya layak mendapatkan gelar doktor (PhD). Dan tentu saja setelah itu adalah tahap revisi, tergantung berapa waktu yang diberikan untuk revisi thesisnya. Walaupun tahapan masih beberapa langkah, namun rasanya perjalanan sudah hampir sampai di penghujung. Untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Beberapa saat lalu saya iseng membuka kembali folder foto-foto lama saya, dan ternyata baru menyadari kalau saya tiba di Glasgow pertama kali itu tanggal 23 September 2011. Dan saya selesai mengerjakan thesis tanggal 23 September 2015 (submit tanggal 24 karena nunggu binding jadi saja). Kebetulan banget ya persis empat tahun di tanggal yang sama, padahal nggak sengaja. Saya masih ingat pertama kali ke Glasgow, dan perjuangan selama empat tahun lalu. Perjalanan panjang yang tidak mudah tentu saja, tahapan studi yang paling berat yang pernah saya lalui. Dan kebetulan pula, dihadapi di saat-saat yang memang berat sepanjang studi. Well, saya bisa katakan energi saya tidak sepenuhnya dialokasikan ke studi saya.
Pada sekitar tiga bulan menjelang deadline submit, saya pun sebenarnya agak cemas kalau tidak bisa menyelesaikan sesuai deadline. Apalagi karena banyak sekali masalah yang datang bertubi-tubi yang menyita waktu dan energi untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah setelah itu saya punya waktu benar-benar untuk semedi total, fokus untuk menulis thesis, dan syukurlah akhirnya selesai dan submit juga. Rekan se lab saya tidak bisa menyelesaikan, kemudian meminta extension 2 bulan. Ah, saya hanya tidak ingin berlarut-larut memikul beban ahaha..jadinya ingin sesegara mungkin menyelesaikan, dan kemudian segera melangkah untuk merancang dan menjalani tahapan hidup selanjutnya.
Sekarang ini lumayan bisa punya waktu untuk berleha-leha sejenak. Sejenak doang, soalnya supervisor saya sudah mengirimkan pesan “ take one day off and then we continue to work on your paper” . Aih, si supervisor saya itu memang gila kerja ehehe. Saya pun sebenarnya sudah harus mulai ancang ancang belajar untuk viva nanti. Nanti dulu lah ya, nikmati dulu kebebasan sejenak. Dengan nulis nulis nggak jelas, baca buku yang nggak ilmiah dan menyenangkan diri sendiri.
Ah, terimakasih pada yang telah membantu saya selama studi. Terutama pasangan saya yang telah mendampingi dan membersamai saya sejak awal studi hingga kini, dan semoga di perjalanan hidup  saya seterusnya. Ada banyak kejadian saat dialah satu-satunya yang saya andalkan untuk berbagi beban. Jauh begini, nggak mungkin saya merepotkan kedua orang tua ataupun membuat mereka khawatir. Saya harus membuat beliau yakin saya baik-baik saja, sehat, studi lancar, keuangan cukup dan bla bla bla yang membuat hati mereka tentram.
Walaupun padahal ahaha..rasanya jatuh bangun dan banyak airmata sepanjang perjalanan ini *ahah drama bangets. Tapi begitulah, saya harus berterimakasih pada pasangan saya yang bersedia membersamai saya dalam kondisi apapun. Menguatkan, memberikan dukungan, bantuan dengan penuh kasih dan cinta.
Dan tentu saja terimakasih pada sahabat sahabat, rekan dan banyak sekali orang yang telah berjasa membantu penyelesaian studi saya. Mohon doanya untuk kelancaran viva saya nanti ya. 

 

Friday, 18 September 2015

Sepotong Cerita dari Bandara




“Pramugari di sini nggak mesti cantik ya?” tiba-tiba saja terlontar kalimat demikian, kala saya melihat pramugari yang berlalu lalang di depan kami.
Kami tengah berada di salah satu bandara di UK, menyesap secangkir kopi sejenak sembari menunggu jadwal penerbangan.
“Iyah yah, biasa aja ya. Bajunya juga sopan,” tukas seseorang di samping saya.
Saya menyesap kembali secangkir coffee latte yang saya pesan di gerai kopi Costa. Angin bulan September berhembus lumayan kencang menerpa kami yang berada di bagian luar bandara. Bandara ini tidak terlalu nyaman, tidak ada ruang duduk tunggu kecuali yang berbayar yang disediakan. Jadi kami akhirnya menghabiskan waktu dengan memesan kopi dan memilih menikmatinya di luar, di kursi-kursi yang disediakan gerai kopi itu.
Kami masih mengamati pramugari-pramugari itu. Penampilannya biasa saja, bajunya sopan, cara jalannya pun nampak bisa, tidak dibuat buat agar terlihat menarik. Kami akhirnya terlibat percakapan mengenai penampilan.
            “Nyatanya banyak stigma negatif pada perempuan karena penampilannya dalam pekerjaannya. Kayak SPG misalnya,” lanjut obrol saya. Masih banyak kan industri-industri yang mengatasnamakan kepentingan marketing kemudian mengharuskan perempuan untuk berpenampilan “gimana-gimana dalam artian yang jadinya kurang sopan”.
Kalau diamati di sini, banyak front liner, pegawai yang sejenis customer service itu penampilannya biasa. Nggak harus yang berkategori cantik, langsing, tinggi, dan sejenis kriteria lain yang biasanya di Indonesia identik dengan persyaratan pegawai yang biasanya berurusan dengan konsumen langsung.
            “Kadang kala fungsi utamanya yakni melayani jadi hilang esensinya yah kalau terlalu mengedepankan penampilan, walau nggak semuanya sih begitu,” sahut teman seperjalanan saya itu.
Iyah sih, padahal yang yang paling utama itu sifat bisa berkomunikasi dengan baik, nyaman diajak bicara, luwes, ramah dan bermisi untuk melayani.
Kami sering nggak habis pikir kenapa kebanyakan pegawai administrasi  di Indonesia jutek jutek, harus siap stok sabar banyak-banyak deh kalau mau berurusan dengan hal-hal seperti itu. Nggak semuanya sih tentu saja.
Saya juga jadi teringat pembicaraan kami tentang bagaimana orang-orang sini menujukkan “kelasnya” atau eksistensi atau apalah yang dibilang keren bagi masyarakat. Kalau di Indonesia kan kebanyakan masyarakat menilai dari penampilan, ya penampilan fisik misalnya fashion, tas dll yang bermerk, mobil yang bla bla bla, rumah mewah, life style yang glamour,  dan punya ono lah itulah.
Kami akhirnya jadi tertarik mengamati apa yang ditunjukkan orang-orang sini untuk menunjukkan kekerenan mereka ya? Soalnya untuk penampilan relatif biasa saja. Supervisor saya biasa ke kampus pakai jins dan kaus, atau hem pendek kalau acara-acara resmi. Begitupun yang lain-lainnya seperti post-doc pun berpakaian kasual. Belum pernah sekalipun saya melihat mereka pakai pakaian formal dengan jas, dasi blaser dll, bahkan di acara konferensi internasional. Jadi ngebayangin sih kalau misal mereka kemana gitu, nggak ada lah yang tau kalau mereka itu ahli kelas dunia di bidangnya.
Mobil? Kebanyakan orang sini pergi menggunakan transportasi umum. Okelah, karena fasilitas transportasinya sudah memadai ya. Tapi dengan itu pun, saya bisa melihat mereka nggak ada tuh pakai mobil untuk gaya-gaya-an atau ingin menunjukkan kelas sosial mereka. Kayaknya nggak ada denger-denger cerita rekan-rekan di lab yang saingan mobil jenis x, y..begitu ada yang beli x, pada mau ganti type ini, type itu. Kayaknya nggak pernah denger aja sih sejenis pembicaraan yang model beginian.
Kenapa yak di Indo itu percakapan sejenis di atas untuk sering banget terdengar? Ehehe.
Makanya kami penasaran, apa “sesuatu” yang mereka tunjukkan untuk menunjukkan mereka keren nya? Apa memang mereka nggak butuh juga menunjukkan ke-keren-an mereka? Mungkin juga sih..buat apa juga sih keren ditunjuk-tunjukkan? Ahaha.
Tapi beneran dengan mengamati fenomena-fenomena seperti itu jadi belajar banyak juga sih. Bukan untuk membanding-bandingkan di sini begini, di Indonesia begono. Kok kesan-nya semua yang di Indo jelek, di sini baik. Heheh enggak kok, pastilah banyak yang baik-baik dari Indonesia. Tapi kalau ingin mempelajari yang baik-baik di sini boleh juga toh?
Angin mulai berhembus lebih kencang, saya merapatkan coat yang saya pakai. Dan kami kemudian memutuskan untuk ke dalam ketika jadwal keberangkatan rekan seperjalanan itu kian dekat dan saya juga harus kembali ke Glasgow.
Eh kalau kalian menunjukkan ke-keren-an kalian lewat apa? Ahah iseng nanya ;p

Salam di awal musim gugur dari Glasgow. 18 Sept 2015

 

Sunday, 13 September 2015

Goenawan Mohamad dan Harapan




“Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup—yang sebentar, tapi menggugah, mungkin indah. (Catatan Pinggir, GM)

Tempo hari saya menghadiri salah satu acara Discover Indonesia yang diselenggarakan di Glasgow, In conversation with Goenawan Mohamad. Saya mengenal nama itu, tapi saya belum begitu sering membacai tulisan-tulisannya. Beberapa bait prosa yang dibawakannya pada saat acara tersebut membuat saya penasaran, ramuan kata-katanya tak biasa.
Secara sosoknya GM juga seorang yang lugas dan cerdas. Bahasa inggrisnya juga sangat bagus, mampu membuat acara semacam talk show itu menjadi enak dinikmati,
Tapi bukan itu yang ingin saya cermati, saya tertarik bagaimana beliau memandang “harapan” yang tidak biasa seperti orang kebanyakan.
Atau mungkin kebanyakan orang demikian, tapi tak terlontarkan dalam kata-kata seperti yang saya kutipkan di awal tulisan ini. Saya membacai beberapa tulisan beliau melalui websitenya, dan semakin sering saya menjumpai bagaimana beliau memahami harapan dalam konteks realitas.
Harapan, yang saya kenal seringkali dianut oleh dua kutub. Kutub optimisme dan kutub pesimisme. Bagi si kutub optimisme, harapan adalah energi penggerak laju hidupnya. Bagi si pesimisme, mereka sering kali berkata, jangan berharap agar tidak merasakan kekecewaan.
Saya dulu adalah si penganut si optimisme. Jalur jalur hidup saya kebanyakan ditempuh oleh semangat-semangat harapan. Saya terbiasa mengandalkan harapan untuk mewujudkan banyak impian-impian saya. Impian-impian yang seringkali tak berani diperjuangkan orang-orang yang tak berani berharap.
Saya kadang-kadang tak tahu bagaimana mewujudkan apa yang ingin saya raih, tapi yang saya tahu saya punya harapan dan keyakinan. Terkadang hanya itu.
Tapi manusia bersikap seringkali sesuai dengan pengalaman hidupnya, bagaimana lingkungan ia ditumbuhkan dan orang-orang di sekelilingnya.
Dulu saat mendengar tentang gagasan “makanya jangan berharap agar tidak merasakan kekecewaan” saya sungguh tidak bisa mencerna gagasan tersebut.
Saya maklum dan mengerti maksudnya, tapi saya sungguh jauh dari tipikal penganut kutub tersebut.
Agar tidak merasakan kekecewaan? Ah, jadi kau takut kecewa? Ah, jadi kalian tidak berani sakit dan menghadapi saat saat sulit?
Tapi kemudian kehidupan membawakan saya pengalaman-pengalaman tak biasa dimana saya harus menghadapi tumbangnya harapan-harapan yang tak terbayangkan. Bukan berarti perjalanan saya ke belakang berlalu tanpa pengalaman harapan yang tumbang dan kekecewaan. Banyak sekali, tak terhitung jumlahnya, tapi kala itu selalu saja harapan itu tak pernah lepas. Tapi ada waktu ketika harapan besar yang saya ikatkan selama masa waktu yang panjang, serasa kandas dengan cara yang tak terbayangkan. Tidak ada yang lebih merubuhkan saya si penganut harapan ini daripada kehilangan harapan.
Dalam perkabungan perkabungan itu saya merasai bagaimana rasanya tidak mempunyai harapan. Tidak bisa.
Saya masih ingat saat saat sulit itu.
Saya juga masih ingat sebuah kalimat yang saya dengar kala itu,
“Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu hidup lagi?,” begitu tanyamu waktu itu. Di samping sayu dan matinya harap di mataku.
“ Beri aku harapan” kalimat itulah yang saya lontarkan kala itu, di antara bisu yang lebih sering terjadi.
Mulai saat itu saya belajar, bagaimana berharap di tengah optimisme dan pesimisme sekaligus. Karena saya tahu, harapan itulah yang tetap membuat langkah langkah saya hidup.

Kita tak meng-harap. Kita ber-harap. Kita tahu bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap, terang tak pernah sepenuhnya membuat siang. Di dalam celah itulah agaknya harapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita jika kita tak melepaskannya.” (Catatan Pinggir, GM)

Jika kita tak melepaskannya, ah ya. Saya tetaplah si optismisme itu, yang kini bisa belajar melihat dari sisi pesimisme.
Saya tetap membuat rencana-rencana, walau tahu rencana-rencana itu mungkin saja mentah ataupun bisa saja diijabah. Saya tetap menaruh harap, walaupun tahu masa depan bisa membawakan saya pada keputusan-keputusan Tuhan yang tak bisa kita kendalikan.
Kini, tiap hari kau semakin melihat..mata saya semakin dihidupkan harapan. Harapan yang pelan-pelan menghidupkan lagi semangat dan hidup saya.

sebagaimana Lu Xun, penulis Cina, menyatakan, “Harapan adalah seperti jalan di daerah pedalaman, pada awalnya tidak ada jalan setapak semacam itu, namun sesudah banyak orang berjalan di atasnya, jalan itu tercipta.” (catatan Pinggir, GM)



Pertemuan saya dengan Goenawan Mohamad, mengingatkan saya lagi tentang harapan. Beliau menghadirkan sisi harapan dalam konteks yang begitu manusiawi. Bukan hanya dalam bunga bunga optimisme, tapi juga harapan dalam perkabungan-perkabungan dan kekecewaan. Saya menamainya, kepasrahan.
Terimakasih

Glasgow, 14 Sept 2015. Ketika gerimis dan sinar matahari datang sekaligus, begitulah..seperti pelajaran tentang manajemen harapan, dalam optimisme dan kesiapan pesimisme sekaligus.