Thursday, 30 October 2008

Aku dan Pergumulan Batinku

Pernahkah engkau bertanya kenapa jalan hidup ini atau itu yang harus kau tempuh? Tuhan..mengapa Engkau beri aku pekerjaan disini, bukan di tempat yang kuinginkan? Bukannya ingin menggugat Tuhan dengan segala keputusannya, tapi ingin mencari makna di baliknya.
" Entahlah..kita lihat kemana nasib akan membawaku" begitu ujar sahabatku yang mampir ke kampusku kala itu. Namun peryataannya barusan membuatku tergelitik untuk menyergahnya.
" Bukan nasib yang akan membawamu. Tapi dirimu yang akan menentukan dan nasib akan mengikutinya"
Ekstrem? hehe.. mungkin! Bukannya menampikkan peran Tuhan sebagai penentu utama, tapi bagiku, nasib adalah kerjasama kita dengan Tuhan. Aku percaya takdir itu banyak, memang keputusan akhir ada di tangan Tuhan tapi aku juga percaya sepenuhnya usaha dan perjuangan kita akan membawa pada takdir mana yang diberikan olehNya. Dan karena itulah aku kini bertanya.
"Tuhan, aku harus tetap disini dan melanjutkan jalanku disini atau aku harus berusaha mengikuti jalan lain yang terus saja menarik-narikku?". "Apa yang Ingin Kau mau aku mengerti?
Argghh.. aku mungkin terlalu banyak bertanya. Tapi begitulah caraku untuk merasa dekat dan sefrekuensi denganMu. Karena aku tahu Kau akan memberikan pertanda dan pada akhirnya aku akan mengerti akan jawabanMu. Walaupun kadang aku harus mengerti dengan berlalunya waktu.
Yup...ini masalah pekerjaanku. Bukankah penting untuk merasa engkau ada di tempat yang kau anggap cocok?. Aku tahu ada banyak orang yang menghadapi pergumulan batin yang sama denganku. Ada seorang karyawan kantor yang ingin jadi atlit, ada jurnalis yang ingin jadi pengusaha, pengusaha yang ingin jadi pengacara. Banyak hati yang terpaksa tunduk akan realitas jalan hidup, keharusan dan keadaan.
Memang aku mencintai profesiku sebagai pengajar, merasakan daya hidup yang meluap saat belajar bersama para mahasiswa yang aktif, selalu ingin tahu dan penuh semangat anak muda. Energi positifku selalu meluap bila bersama mereka. Tidak ada yang salah dengan itu.
Pada mulanya aku merasa semua berjalan baik-baik saja. Aku mendapat pekerjaan yang menurut orang-orang terbilang cukup mapan, paling tidak membuatku stabil secara finansial (walaupun tetep aja kurang ehehe..). Aku sudah tidak lagi dilanda kecemasan akan mencari-cari pekerjaan. Orang bilang aku harus bersyukur.
Pada mulanya aku berusaha keras mencari pekerjaan, namun setelah mendapatkannya, aku butuh eksistensi!!! aku butuh jalur untuk berkembang! aku butuh kepuasan dan penghargaan pada diriku sendiri atas apa yang kulakukan.
Apakah pada titik ini aku dibilang tidak bersyukur????. Pertanyaan inipun juga terlontar dari seorang teman di LIPI yang merasa pekerjaannya tidak memuaskan dahaganya atas perhargaan terhadap diri sendiri.
Semua orang harus tahu dan punya tujuan hidup. Aku berpendapat hal-hal itu adalah pergumulan batin, perjalanan manusia menemukan dirinya.
Aku melakukan pekerjaan dan kewajibanku dengan baik. Itu salah satu caraku untuk bersyukur. Tapi mencari dan ingin melangkah kemana suara hati membawamu?? Apakah itu salah?
Sekarang aku seperti ditempatkan di sebuah tempat yang asing. Menemukan pada suatu titik aku tidak berada dalam kompetensiku. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, bukan yang ingin kulakukan. Dunia biologi molekuler masih menungguku di ujung sana, mengerjap-ngerjap mempesonaku. Plus informasi beasiswa ke luar negeri tentang biologi molekuler membuatku ngileeeerrr. Tapi aku telah masuk sistem, dan terikat tanggung jawab dan konsekuensi. "Hati-hati PNS juga kadang-kadang berarti penjara"hehehe.
"Va dove ti porta il cuore Pergilah kemana hati membawamu!" begitu ujar Suzanna Tamarro dalam bukunya.
Dulu aku pernah mendengar nasihat :
" Bukan hanya melakukan hal-hal yang kau senangi, Tapi menyenangi hal-hal yang kau lakukan"
Aku yakin kalian sudah pernah mendengarnya. "Menyenangi hal-hal yang kau lakukan???" apakah itu berarti manifestasi dari kata "kompromi" berdamai dengan keadaan??
Heehh..maafkanlah bila pertanyaan dan tulisanku terlalu berat. Karena aku tengah terpesona dengan misteri kehidupan. Mengutip sedikit barisan kalimat Paulo Coelho:
" Aku sama seperti orang-orang yang mendengarkan hati mereka. Orang yang terpikat oleh misteri kehidupan. Orang yang membuka hatinya terhadap mujizat, yang merasakan kebahagiaan dan antusiasme dalam segala sesuatu yang mereka lakukan"
Hmm..Tuhan, sekarang aku terus bertanya, mencari jawab dan aku yakin Engkau akan membuatku mengerti suatu saat!!

By The River Piedra I Sat Down and Wept

Judul Buku : By the River Piedra I sat Down and Wept
(Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis)
Penulis : Paulo Coelho
Isi : 222 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Hampir semua buku karya Paulo Coelho membuatku geleng-geleng kepala..."kereeen". Tidak banyak buku yang membuatku mengkerutkan kening, berpikir, mengulangi kalimatnya lagi atau pada akhirnya membuatku tersenyum. Dan salah satu alasan mengapa aku begitu jatuh cinta dengan karya Paulo Coelho adalah tulisannya mampu menjawab banyak pertanyaanku tentang esensi hidup. Aku pernah mengalaminya dengan karyanya yang terkenal, The Alkemist, dan begitupun dengan karya-karyanya yang lain. Dan juga dengan buku ini dimana tulisannya mengalir penuh kedalaman. Seperti juga sentuhannya dalam menciptakan tokoh Pilar, seorang wanita yang lahir di sebuah kota kecil di padang Soria. Pada mulanya ia seorang wanita yang selalu takut untuk mengambil resiko, ia memilih kehidupan yang mudah, aman, menghadapi kehidupan yang telah diperkirakan sebelumnya. Tapi kemudian pertemuannya kembali dengan teman yang merupakan cinta masa kecilnya saat ia menghadiri khotbah lelaki itu di Madrid, hidupnya berubah.
" Kau harus mengambil resiko. Kita hanya dapat memahami keajaiban hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal yang tak terduga untuk terjadi"
Aku tersadar, sering kita menutup pintu hingga tidak mengizinkan hal-hal yang tidak terduga untuk terjadi. Kadang rasa aman itu membahayakan karena ia terkadang membawa kita menjadi defensif dan pengecut.
"Kebahagiaan terkadang adalah berkat, namun lebih sering berupa penaklukan. Saat magis membantu kita berubah dan mengantar kita mencari mimpi-mimpi kita. Benar,kita akan menderita, kita akan menghadapi masa-masa sulit, dan kita akan mengalami banyak kekecewaan. Namun semua ini hanya sementara, tidak akan meninggalkan bekas yang kekal. Dan suatu hari kita menoleh, dan memandang perjalanan yang telah kita tempuh itu dengan penuh kebanggaan dan keyakinan. Betapa malangnya orang yang takut mengambil resiko. Mungkin orang ini takkan pernah kecewa, mungkin ia takkan menderita layaknya orang yang mengejar impiannya. Namun ketika orang ini menoleh ke belakang. Ia akan mendengar hatinya berkata " Apa yang kau lakukan dengan semua mujizat yang Tuhan berikan dalam hidupmu?"
Ahh...aku mengangguk setuju. Benar-benar mengacungkan jempol dengan apa yang disampaikan oleh buku ini.
Pilar pada akhirnya mengambil resiko, melakukan perjalanan bersama cinta masa kecilnya ke suatu daerah di Prancis. Dalam perjalanan itu, Pilar melakukan pertarungan dengan hatinya. Kembali ke Zaragoza tempat kehidupan yang lebih mudah menunggunya, atau mengambil resiko melanjutkan perjalanan menjelajahi daerah-daerah yang belum pernah ia tahu, bertemu dengan orang-orang yang belum pernah ia kenal, merasakan sebuah kehidupan yang spontan.
Perjalanan itu membawanya ke suatu pembelajaran yang dalam. Ia belajar untuk menyingkirkan "Yang Lain" dalam hidupnya. "Yang Lain" adalah bagian diri yang mengatakan siapa kau seharusnya, tapi bukan siapa engkau sesungguhnya.
Setiap manusia mempunyai "Yang Lain" dalam dirinya. Pernahkah kau bertanya apakah ia berkuasa dalam dirimu atau telah mengalahkannya dan membiarkannya hanya mengawasi kita di sudut?
Perjalanan itu pula yang membuat Pilar kembali percaya akan cinta, kembali percaya pada TuhanNya. Seperti halnya buku-buku Paulo Coelho yang lain, tetap sarat akan aroma spiritual religius sehingga kadang aku harus memilah bila ia mulai bertutur tentang Bunda Ilahi atau sisi feminisme Tuhan.
Namun ada baris yang membuatku tersenyum, sebagai penganut pluralisme ia berkata:

" Penganut Budhha benar, penganut Hindu benar, Penganut muslim juga benar. Setiap kai seseorang mengikuti jalan menuju iman, ia akan bersatu dengan Tuhan. Tuhan itu sama, meskipun ia memiliki ribuan nama, tergantung kita memilihkan nama untuk diriNya".

Tulisan yang penuh kedalaman dari Paulo Coelho selalu membuatku angkat topi. Ia mampu mengajak pembaca menyelami diri sendiri, mengajukan pertanyaan-pertanyaan esensi yang sering dilupakan manusia sehingga manusia sering tidak mampu melihat keajaiban yang terjadi setiap hari. Kisah yang dibawakannya selalu sederhana, tanpa kisah yang dibuat terlalu rumit dan berbelit. Tapi sederhana, dalam,dan sarat makna, begitulah ciri khas tulisan Paulo Coelho menurutku. Tulisannya yang sederhana itu terasa jauh lebih bermakna daripada membaca kisah yang penuh romantika, mencipta alur dan adegan yang terkadang tidak perlu dan aku hanya menemukan akhir yang penuh dengan kekosongan. Aku terpikat dengan kepiawaiannya dalam bertutur dan membungkusnya dalam suatu cerita yang menyentil-nyentil esensi kita sebagai manusia. Mungkin karena aku banyak membaca karya-karyanya hingga seorang sahabat berkomentar.
" erggghh...makin hari kau semakin seperti filusuf saja" hehe..aku hanya mencoba untuk hidup dengan esensi, bukan menjalani hidup yang mengalir dengan kekosongan.
Bukankah manusia harus terus belajar dan melangkah?
take a risk..take a chance..Make a change..
And break away!!!
hehe..yup..lagunya Kelly Clarkson!!

Tuesday, 28 October 2008

Adakah persahabatan sejati antara pria dan wanita???


Dengan penuh tanya aku menulis tulisan ini, mengulik sedikit tentang konsep hidup yang aku anut. Setelah tadi sore seorang sahabat dengan muka kusut masai menceritakan masalahnya. Entah mengapa akhir-akhir ini orang-orang sekitarku banyak mempercayaiku menjadi "tong sampah"mereka. Bagiku itu suatu berkat, saat manusia lain mulai membuka hati dan "bicara" dengan benar-benar bicara padaku. Curhatnya sore itu..membuatku bertanya kembali..apakah memang benar-benar ada sebuah persahabatan sejati antara pria dan wanita?kalau kau tanya pandanganku..aku yakin ada persahabatan sejati antara pria dan wanita. 
Dan aku punya sahabat pria yang bahkan sampai mati akan kukenang sebagai sahabat, karena ia telah menyentuh hidupku dengan caranya yang tak pernah terganti. Walaupun tak pernah disadarinya, karena dulu ia hanya mengenal satu cara untuk memperdulikanku yakni "dengan mengejekku".
Kemarin saat mendiskusikan dengan teman sekantor di ruangan kami yang terlalu luas untuk kami berlima, ia mempunyai pandangan lain tentang persahabatan antara pria dan wanita, ia bilang tidak ada persahabatan sejati antara pria dan wanita karena nantinya semuanya kan berubah saat hidup berubah. Menurutku, persahabatan hanya akan berubah manifestasinya bila hidup berubah, Tapi jiwa persahabatan itu akan terus ada seiring dengan perubahan. Kembali ke soal curhat sahabatku itu, dalam gundah ia bercerita bakwa suami dari sahabat wanitanya marah besar setelah membuka sms di HP istrinya. Yah, hal yang selama ini kukhawatirkan terjadi juga. Dulu saat tahu bagaimana cara mereka berkomunikasi bahkan setelah salah satunya menikah, aku khawatir cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Mengapa tiba-tiba persahabatan seperti sebuah dosa? Yang salah bukan pada persahabatannya. Akupun tidak ingin bersikap menghakimi salah satunya. Aku tahu hidup tidak sesederhana kata-kata bijak yang kubaca di buku. Tapi aku hanya berpendapat, intinya terletak pada ketidakrelaan melihat hidup berubah..  

"dari dulu aku memanggilnya dengan panggilan kesayangan itu..dari dulu ia begini..begitu..itu hanya perhatian remeh temeh, aku tidak menyangka hal itu akan membuat suaminya marah besar" 

demikian kira-kira cerita temanku itu.
Perhatian remeh temeh?Bukankah kasih sayang adalah kadang dimanifestasikan pada perhatian pada hal yang remeh temeh? Hidup terus berjalan, sahabat pria atau wanita cepat atau lambat akan menikah, sebuah perubahan yang tak bisa ditawar, mereka akan punya orang lain tempat ia akan berbagi hidup. 
Tapi itu bukan berarti kehilangan rantai erat persabahatan yang telah lama kita bina. Walaupun terasa tidak nyaman untuk diucapkan tapi kita harus berhadapan dengan "batasan". Manifestasi dari persahabatnpun harus berurusan dengan batasan dan perubahan hidup. Akupun tidak tahu seberapa jauh batasan itu, menurutku akan berbeda untuk masing-masing orang. Awalnya mungkin kita akan merasa kehilangan, namun pada akhirnya dengan batasan itulah cara kita menyayanginya.
Karena sahabat, kadang hanya dengan melihatnya di ujung sana baik-baik saja dan terus melanjutkan hidup dan mimpi-mimpinya akan membuatku bahagia. Melihatnya mempunyai seseorang untuk berbagi hidup walau itu berarti porsi hidupnya untukku akan semakin sedikit. Tapi persahabatan bukanlah jual beli dimana kita harus saling menuntut satu sama lain.
Ia bergerak bebas di antara jiwa-jiwa dua manusia***

Tuesday, 14 October 2008

Hidup kok gini-gini aja...


"Hidup kok gini-gini aja..belum jatuh cinta lagi, gaji belum gedhe, belum sekolah ke luar negri lagi!"
ups..itu curhatan temen pas chat di YM!
Lain lagi curhatan seorang adik angkatan yg kebetulan mampir ke kos " hidup kok ya enggak pernah lepas dari masalah ya, selesai masalah ini, dateng lagi masalah lain. Aku sering berdoa sama Tuhan, mbok dihentikan dulu masalah yang dateng padaku, biar bisa bernafas sebentar" ujarnya kala itu. hehe..lucu! Hidup kok maunya bebas masalah, justru dari masalahlah kalo menurutku hidup jadi punya esensi, ya to? Kalo hidup berjalan lurus-lurus saja, bebas hambatan, nggak ada jungkir balik, waduh..bisa dibayangkan malah betapa membosankannya hidup ini. Kadang mempertanyakan nasib atau kadang menghadapi kegamangan kelas berat, wajar saja..malah hidup jadi warna warni. Berkeluh kesah sejenak pun boleh-boleh saja. Asalkan jangan menyergap menjadi energi negatif yang membuat kelesuan hidup. Heehh..yang namanya manusia tetep saja tidak bisa lepas dari grafik naik turun energi hidup. padahal kata si suhu Gede Prama, harusnya kita sudah tidak lagi terpengaruh oleh naik turunnya arus hidup. Ibaratnya pepatah hidup itu berputar kadang di atas kadang di bawah itu nggak berlaku, kalo kita sudah bisa berpusat pada tengah roda. Hmm..katanya sudah mencapai sebuah keseimbangan internal ckckkk..jauh sekali kayaknya menuju perjalanan ke dalam diri untuk mencapai posisi yang seperti itu. Tapi menarik juga !

Sebuah puisi untukku....

Purwokerto masih dingin, hujan gerimis tak hentinya menyirami bumi purwokerto yang serasa sempit. Seusai mengajar sore itu, hmm..hiburan paling menyenangkan adalah berselancar dengan internet!dan kyaaa..ada email plus kiriman puisi untukku..kyaa senengnya!

PENSI DI NON PUOI VEDERCI.
SI, DI SOLITO, SI.
MA SIAMO L’ ARCOBALENO.
L’ARCOBALENO NEL TUO CUORE.
QUANDO PIANGI SIAMO SEMPRE CON TE.
LE LACRIME TI FANNO VEDERCI.
PERCHE’ IL CUORE E’ SERENO.
GUARDA IL CIELO BLU’.
IL CIELO CONTINUA DAL PAESE AL PAESE.
ANCHE L’ ARCOBALENO.
PENSIAMO COSI, SIAMO SICURI COSI.
ARRIVERA’ IL GIORNO CHE ASPETTIAMO.
SOGNEREMO DI VEDERTI, SOGNERAI DI VEDERCI
FINO A QUEL GIORNO
PIANGI QUANDO VUOI VEDERCI.
MA NON PIANGERE QUEL GIORNO
PERCHE’ LE LACRIME TI FANNO NASCONDERCI.
TI VOGLIAMO BENE, BENISSIMO CARA.

Perugia, sabato 11 ottobre'08

Wednesday, 8 October 2008

Purwokerto-Jogya-Barcelona


Judul yang aneh..sama seperti perasaanku yang aneh. Kupikir tak apa memperturutkannya sejenak, mengobati kepenatan mempersiapkan bahan kuliah.
Purwokerto-Jogya-Barcelona. Kau tau itu jurusan bis antar kota?ehehe..tidak percaya? Jumat kemaren sabahatku menaikinya! beneran! Tapi tentu saja jurusan terakhirnya adalah Jogya, bukan Barcelona. Barcelona hanyalah tulisan besar-besar yang terpampang di bagian depan atas bis. Jadi aku dan temen-temen yang menungguinya bercanda " u' jangan lupa turun di Barcelona! ehehe" Tapi kita semua tau bahwa ia tak akan pernah sampai di Barcelona dengan menaiki bis itu, kalo iya, akupun tak akan berpikir dua kali untuk menaikinya!!
Tapi bukankah itu tidak mungkin??
Sebagaimana halnya aliran magnet dari hati yang ada di Purwokerto sini ke sebuah hati di Barcelona, tapi nampaknya tergerus arus laut mediterania, atau mungkin malah berbalik arah, entah terdegradasi tempias badai di tengah perjalanan, aku tak tahu.
Begitulah, saat menemukan seseorang dengan kualifikasi fisik 7,5 lebih dikit dan masuk kategori ganteng, kualifikasi personal 8 dan intelektual 8.5 (pake kalibrasi gold standard dengan tingkat kesalahan kurang dari 0.05 hehe). Tapi sinyalnya byar pet karena kendala cuaca, magnetnya seperti kubilang dikacaukan angin yang menyebrang samudra. Tiba-tiba konslet dan padam!
Lalu tiba-tiba angin berteriak keras di telingaku " CINTA JUGA BUTUH KEMUNGKINAN!!!!"
wakakak..puas rasa menertawai diri sendiri, mahfum atas cibiran angin dan tersenyum pada akhirnya pada siapa yang Maha Pintar membolak balikkan hati. Ah Tuhan memang...
ehehe..maafkan atas tulisan yang tidak layak posting ini, tapi ada rasa yang menggelitik untuk tetap mempostingnya. Siapa tau suatu saat, bila membacanya lagi..akan bisa kembali menertawai diri sendiri.
Qualcuno a Barcelona, ti voglio bene sempre!