Friday, 27 February 2009

Awas Merebaknya Chikungunya


Tak biasanya nyamuk-nyamuk begitu banyak beterbangan dan mengganggu kenyamanan di kosan. Uhmm..musim penghujan, selalu saja menyuburkan peranakan-peranakan vektor ini untuk belajar terbang dan mencari mangsa. Hmm, waspada!. Pastinya masyarakat sudah terbiasa dengan gembar-gembor pencegahan terhadap demam berdarah dan kewaspadaannya. Namun, masih banyak yang belum tahu bahwa selain penyakit demam berdarah, nyamuk Aedes aegypty inipun bisa membawa chikungunya virus (CHIKV) yang bisa menyebabkan penyakit chikungunya.

Kasusnya tidaklah usah mengambil contoh yang jauh, penyakit yang tergolong self limiting disease (penyakit yang dapat sembuh sendiri) ini baru saja merebak di daerahku, Kecamatan Ayah kabupaten Kebumen. Ratusan orang di empat desa terserang wabah Chikungunya. Studi epidemiologi menyebutkan adanya faktor resiko banyaknya polong (wadah nira) yang merupakan wadah bagi para penderes kelapa dibiarkan begitu saja hingga air menggenang sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk. Berikut sekilas mengenai penyakit chikungunya.

Pengertian Chikungunya.

Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia).

Penyebab Chikungunya

Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. virus Chikungunya ini masuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang sama juga menularkan penyakit demam berdarah dengue.

Gejala penyakit Chikungunya

Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah :

- tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di setiap persendian. (poliarthralgia) terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi tulang punggung.

- gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang tulang (sehingga dinamakan demam tulang atau flu tulang.)

- Gejala lain adalah munculnya bintik-bintik kemerahan pada sebagian kecil anggota badan, serta bercak-bercak merah gatal di daerah dada dan perut. Muka penderita bisa menjadi kemerahan dan disertai rasa nyeri pada bagian belakang bola mata.

- dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya.

Masa inkubasi dari demam Chikungunya dua sampai empat hari.

Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai 10 hari. virus ini termasuk self limiting disease alias hilang dengan sendirinya.


Diagnosa

Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini hanya bermanfaat digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari.

Bedanya dengan Demam Berdarah?

Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian yang terjadi pada demam dengue.

PENGOBATAN

Penyakit chikungunya tidak menyebabkan kefatalan yang berat sehingga penanganannya juga hanya bersifat simtomatis. Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan parasetamol. Sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal.

Pemberian chloroquin yang juga sekaligus sebagai antiviral. Aspirin, naproxen, ibuprofen, dan golongan NSAID (Non Steroid Anti Inflammatory Drugs) juga cukup ampuh meringankan beberapa masalah sendi, mengatasi nyeri, sekaligus menurunkan demam.Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.

Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar.

Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

PENCEGAHAN

Cara menghindari penyakit ini adalah dengan membasmi nyamuk pembawa virusnya. Ternyata nyamuk ini punya kebiasaan unik. Pertama, Mereka senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih. Kedua, Serangga bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Ketiga, nyamuk ini sangat menyukai tempat yang gelap dan pengap. Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.

Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari

Mari waspadai chikungunya!

(Dari berbagai sumber, termasuk cuplikan bahan kuliah semester ini, bahan riset..argggh mo bikin proposal riset chikungunya nih…belum mulai-mulai ehehhe, otak kebanyakan miring kanan dan kiri sih )

Wednesday, 25 February 2009

Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Internasional



Dear rekan sejawat,

Ada info nih, yang aku dapat dari situs DP2M DIKTI, maklum bila aliran informasi dari institusi byar pet, yah mungkin memang harus kreatif sendiri nyari ke pusat ehehe. Bagi rekan-rekan yang belum pernah mengikuti pelatihan penulisan artikel ilmiah bereputasi internasional yang berbahasa inggris, monggo bila berminat untuk segera menyiapkan naskah untuk diusulkan mengikuti pelatihan ini.

Syaratnya :

  1. Calon peserta telah menyiapkan naskah hasil penelitian atau pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk artikel ilmiah baik sendiri maupun kelompok untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional.
  2. Naskah tersebut disiapkan sesuai dengan petunjuk penulisan artikel pada jurnal yang dituju.
  3. Prioritas akan diberikan kepada naskah yang berasal dari kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Hibah Dikti, atau bagian tesis dan disertasi yang dibiayai BPPS.
  4. Melampirkan petunjuk penulisan artikel pada jurnal yang dituju.
  5. Peserta adalah dosen tetap PTN/PTS di bawah lingkup Diknas yang belum pernah mengikuti kegiatan sejenis dari Ditjen Dikti dan bukan profesor;
  6. Calon peserta yang lolos seleksi (memenuhi syarat) akan diundang dalam pelatihan yang direncanakan dilaksanakan pada bulan Juni s.d Oktober 2009
  7. Seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh DP2M Ditjen Dikti.

Naskah artikel ilmah yang diusulkan untuk dipertimbangkan keikutsertaan dalam program ini diharapkan sudah diterima selambat-lambatnya tgl 16 Maret 2009, dengan dialamatkan kepada :


Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional

Gedung D Ditjen DIKTI Lt 4

Jl. Pintu Satu, Senayan, Jakarta 10270

Telp (021) 57946100;Faks (021)5731846


Masih ada waktu untuk menyiapkan naskahnya bila berminat, untuk informasi lebih lengkap ataupun ingin mengetahui informasi program-program Dikti lainnya silahkan mengakses situs DP2M di www.dp2m-dikti.net.

Bila belum ada naskah berbahasa inggris yang siap, ada juga Pelatihan Penulisan Ilmiah Nasional, deadlinenya juga sama. informasi lebih lanjut ada di websitenya DP2M, monggo di browse saja.

Semoga informasinya bermanfaat, mari terus berkarya wujud sumbangsih kita pada bangsa..

Walah lebay..lebay ahaha, loh kan katanya “layanan prima”, hasil didikan prajabnya muanntep kan ehehe..!!

Monday, 23 February 2009

Kenapa Harus Menikah


Eitss jangan terpancing dengan judul yang provokatif di atas ehehe. Kenapa harus menikah?. Kata “harus” disini memang mengganjal di telinga, tapi justru itu menarik untuk membahasnya. Keadaan diri yang memang belum menikah, bertemu dengan orang-orang yang masih belum menikah, yang “enggan” untuk menikah, belum “butuh” untuk menikah atau yang ingin menikah tapi belum menikah membuatku tergerak ingin menuliskannya.

Seorang teman, wanita karir yang ingin segera melanjutkan jenjang S3nya namun harus ditundanya karena keinginan orang tua yang mengharapkan ia menikah dulu. Teman yang baru saja kukenal pun hampir sama, dengan usia yang telah menginjak kepala tiga, mapan, karirnya bagus, cantik, namun belum juga menikah. Ada banyak alasan dan latar belakang mengapa mereka belum juga menikah. Dan itupun pilihan mereka sendiri.

kenapa?aku memang belum ingin menikah!”.Uhmm..”Aku memang belum “butuh” untuk menikah” sergah yang lainnya.

Uff apakah memang telah terjadi pergeseran kebutuhan akan pernikahan?.

Aku sering mengatakan hal ini pada beberapa orang, tentang kebutuhan akan menikah bagi seorang wanita sudah bergeser.

Satu, kebutuhan finansial. Dulu, zaman ibu-ibu kita misalnya, dengan umur yang masih muda mereka sudah menikah. Mengapa? Alasan kebutuhan finansial salah satunya. Zaman dimana wanita masih dijadikan “konco wingking”, belum dihargai potensi dan eksistensinya membuat wanita menjadi tergantung secara finansial pada laki-laki. Wanita zaman dulu yang tidak punya keahlian, tidak cukup berpendidikan, tidak punya pekerjaan tentu saja mempunyai “kebutuhan” yang lebih untuk menggantungkan hidupnya pada laki-laki untuk menopang kehidupannya. Disinilah mengapa kebutuhan finansial merupakan salah satu alasan kebutuhan untuk menikah.

Namun hal itu sudah bergeser sekarang, seiring dengan emansipasi wanita dimana sekarang wanita telah berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Mempunyai pendidikan yang cukup baik, keahlian, potensi yang dikembangkan bahkan sekarang ini banyak wanita yang mempunyai karir yang cemerlang, menduduki jabatan-jabatan penting. Tentu saja dengan keadaan yang demikian, ia telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, jadi secara finansial ia tidak tergantung pada siapapun.

Alasan kedua adalah kebutuhan protektif, uhmm sulit mengistilahkannya. Maksudku begini, dulu banyak wanita yang mempunyai ketergantungan untuk dilindungi, diperhatikan secara protektif, ada alasan–alasan kesuperioritasan laki-laki. Harus dibantu ini itu, diantar jemput, dan lain sebagainya. Namun, fenomenanya sekarang banyak wanita yang ketergantungan akan kebutuhan itu semakin menipis. Nyaman dengan dirinya sendiri, biasa kemana saja tanpa tergantung laki-laki, melakukan hal-hal tanpa harus menggantungkan diri pada bantuan laki-laki, melakukan apa yang ia suka, kemanapun ia ingin pergi. So?..yah, kebutuhan akan itupun semakin menipis. Sungguh bukan ingin mengatakan wanita sekarang merasa lebih superior, bukan demikian. Hanya saja mengungkapkan semakin menipisnya ketergantungan wanita terhadap laki-laki.

Nah, karena tidak tergantung pada kebutuhan finansial, tidak dependen terhadap laki-laki, sehingga kebutuhan untuk menyegerakan menikah semakin berkurang. Bilang saja kalau engkau tidak setuju, aku hanya mengungkapkan wacanaku saja ehehehe.

Sudah banyak yang menyergahnya, namun banyak juga yang menyetujuinya…ihihihi.

Dengerin deh refrain lagunya oppie:

“Aku baik-baik saja, menikmati hidup yang aku punya..

Hidupku sangat sempurna, I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah, bebas lakukan yang aku suka

Berteman dengan siapa saja..I’m single and very happy”.

Nah, refrain lagunya Opiie Andaresta ini pastilah lagu kebangsaannya para singel-singel bahagia ehehe, tuh kan kata-kataku beralasan bukan?(maksa kekekek).

Nah, kebutuhan terakhir inilah sepertinya menjadi kebutuhan yang membuat wanita ingin menikah. Kebutuhan akan cinta. Yap, menemukan seseorang yang biasa saja, namun memancarkan pesona diri yang menarik dan klik di hati (hii terinspirasi dari lagu nuansa bening yang tengah menjadi lagu kebangsaanku akhir-akhir ini). Kehadiran cinta yang membuat hidup terasa lengkap, inilah pada akhirnya salah satu kebutuhan manusia untuk menikah.

Apakah kau setuju?

Menghabiskan sisa hidup bersama seseorang yang kita pilih, membuat hidup terasa lengkap. Cinta, Cinta dan Cinta…itu yang dibutuhkan semua orang dalam keadaan, kondisi dan status apapun.

Jadi, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang inilah yang pada akhirnya menyebabkan manusia ingin menikah, menurutku..lagi-lagi menurutku yang bukan ahli kehidupan, tapi hanya ingin sekedar menuangkan pikiran saja. Hingga bila belum menemukan orang yang disebut “cinta’ rasanya memang belum urgent untuk menikah. Menilik dari pergeseran kebutuhan yang telah kukemukan di atas.

Memang ada kebutuhan lain seperti kebutuhan biologis, kebutuhan status sosial ataupun lainnya hal tentu saja menyebabkan manusia untuk menyegerakan untuk menikah. Jadi, bagi yang belum butuh menikah, semoga secepatnya ingin menikah ahahaha..



Pencerahan..Pencerahan, Kawan!!!


Wuih..kata-kata sakti ini biasanya yang menjadi alasan mengapa tiba-tiba saja kehidupan menjadi sangat baik-baik saja, tanpa mengubah keadaan apapun, namun hanya mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan!

Hiyakk..Pencerahan! begitu sering kubilang pada orang-orang di sekitarku.

“Aku pagi ini ketemu dengan si X, basa basi, kulempar senyum..senyummm..dengan benar-benar tersenyum”. Begitu ungkapku lewat chat pagi hari sembari menunggu acara Prayudisium mahasiswa.

Ehhee..karena biasanya menghadapi beberapa orang “antik” dengan tersenyum terpaksa, senyum basa basi, senyum formalitas, ah..kenapa untuk tersenyum saja rumit ya..

Dulu, saat kehidupan lebih sering berhadapan dengan orang-orang yang “lurus” senyumpun dengan mudah dan tulus terlempar spontan, dengan binar yang tidak dibuat-buat. Rasakanlah bila engkau tersenyum, apakah engkau benar-benar tersenyum atau hanya“berusaha untuk tersenyum”. Berurusan dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan harapan, kadang kala membuatku “berusaha untuk tersenyum” menghadapinya, ah tentu saja ini tidak baik bukan?.

Biarlah orang-orang yang telah mendholimi kita akan kena batunya suatu hari nanti”. Cerita si teman ke lain topik lagi.

Ah, jangan gitu..kasian. Urusanku berpikir positif, urusan orang-orang itu biarlah Tuhan yang mengurusnya”, jawabku.

Rupanya jawabanku yang “sok positif” ini mengundang keheranan padanya, hingga serta merta ia langsung menyambar dengan pertanyaan. “Wuih, sepertinya udah sembuh,bu? sudah bisa tersenyum lagi” ahahaha.

Yup..Pencerahan! pencerahan!, sahutku terkekeh.

Gerusan keadaan hidup, rutinitas, peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan, orang-orang yang “tidak sesuai” harapan kita, sedikit demi sedikit melunturkan pikiran positif kita akan hidup. Hal-hal itu harus diwaspadai karena tanpa disadari dapat mengikis setahap demi tahap pertumbuhan diri yang telah kita bangun.

Kadang menemukan diri tiba-tiba sulit untuk tersenyum, terlalu sensitif menghadapi perlakuan orang lain, merasa keadaan di sekeliling tidak sesuai dengan yang kita harapkan, hal-hal yang menghambat perkembangan kita dan lain sebagainya. Masalah yang mendera sepertinya telah menghabiskan energi kita, ataupun terjadi peristiwa yang cukup menguras pikiran dan melelahkan hati.

Kok, kurusan wi”, “You look so pale”, bla..bla..bla..komentar beberapa teman seminggu belakangan ini. Menandakan gejala kronis “lowbatt” tengah menghinggapiku.

Apa yang biasanya kau lakukan saat-saat lowbatt?

Biasanya aku langsung “lari” pada “komunitas lingkaran dalam kehidupan”. Istilah komunitas lingkaran dalam ini yang kumaksudkan adalah sahabat-sahabat dekat. Menceritakan hal-hal yang tengah terjadi, sedikit berkeluh kesah, berbagi pada sahabat dekat adalah obat penyembuh. Paling tidak, beban terasa terangkat hanya dengan menceritakannya tanpa merasa takut akan dihakimi, tanpa di”nilai”, tanpa perasaan khawatir. Didengarkan, dipahami, kadang diberi tanggapan, penenangan, dukungan. Sederhana, namun menyembuhkan, karena bukankah itu kebutuhan manusia untuk merasa diperhatikan, dikasihi, dihargai. Dan kami telah melakukan hal “saling berbagi” ini telah bertahun-tahun, walaupun terentang jarak dan telah berkutat dalam dunia masing-masing. Engkau mempunyai lingkaran dalam duniamu tempat kau bisa bicara apa saja?

Aku merasa beruntung mempunyai mereka dalam hidupku, tempat berbagi hidup, tawa, kesah, tangis dan mimpi.

PILIHLAH HUJANNYA”. Oh ya, aku ingin menceritakan sebuah kisah sederhana yang berhasil me”refresh” pertumbuhan diri yang tersendat karena gerusan hidup.

Seorang wanita tengah makan siang bersama sahabat wanitanya, ketika ia memandang ke luar jendela dan menyadari di luar sedang hujan deras. Ia mulai mengeluh tentang hujan itu. Temannya mendengarkan sejenak, kemudian berkata “ Sheila, pilihlah hujannya”

“Apa yang kaukatakan?”. Ia bertanya dengan nada frustasi. “Pilihlah hujannya, Pilihlah hujannya?Aku bahkan tidak memiliki payung”. Dengan pandangan penuh cinta sang teman memandang dan menjawab “Apakah hujan akan berhenti kalau kau menginginkannya? Apakah hujan akan langsung pergi? Mengapa tidak memilih untuk melihat keindahan dalam hujan dan biarkan hujan itu menambah keindahan harimu dan bukan menguranginya”. Pada waktu itu ia sungguh-sungguh mengerti apa yang temannya maksudkan. Jika ia memilih untuk bahagia dengan dirinya sendiri dan keadaan “tepat seperti yang sedang terjadi”, sama bersyukurnya untuk semua hal menakjubkan yang bisa datang bersamaan, pengalaman akan hidup bisa berubah sepenuhnya dan juga jauh lebih baik.

Cerita sederhana yang menggugah ini merupakan bagian dari buku yang tiba-tiba ingin kubaca dari rak bukuku. “ How Ordinary Woman can have an Extraordinary Life” karya Joy Weston, Gramedia Pustaka. Buku yang kubeli akhir tahun lalu, namun belum sempat kusentuh. Yah, kadang bila hidup baik-baik saja rasanya malas membaca buku-buku perkembangan diri. Itulah mengapa banyak yang berkata ‘saat-saat sulit” ataupun masalah adalah pelajaran terbesar dalam hidup. Entahlah, karena pada saat jiwa lapar akan pelajaran dan penghiburan, buku-buku pencerahan demikian mudahnya terserap hingga satu buku itupun terlahap hanya semalam. Tidak merubah keadaan apapun, tapi merubah cara pandang akan hidup. Itu yang selalu aku dapat dari buku-buku pencerahan, itulah mengapa aku senang mengoleksi buku-buku pertumbuhan diri. Bisa kubaca kapan saja lagi saat hidup perlu “di refresh” .

Kadang sebenarnya teori-teori itu memang sudah kita ketahui. “ bahagia bukan tujuan hidup, tapi cara hidup”, “Bahagia hanya masalah pilihan, dan aku memilih untuk bahagia, sesederhana itu!”misalnya kalimat demikian adalah kalimat wajib ataupun inti dari banyak sekali buku-buku pertumbuhan diri, namun membacanya lagi dengan berbagai cara penyampaian si pengarang, cerita-cerita menggugah, bagiku sangat inspiratif. Kinipun “aku memilih hujannya”, dalam artian melihat kehidupan, apa yang terjadi, orang-orang di sekitarku apa adanya namun dengan cara pandang yang berbeda. Dan anehnya, semua baik-baik saja tanpa aku merubah keadaan apapun, hanya merubah sedikit cara pandangku dan hidup terasa lebih cerah ahaha.

Terima kasih pada apa yang telah Tuhan anugerahkan padaku dalam setiap langkah!

I luv my Life!!! Really..really luv my life! Yap, hidupku yang luar biasa seperti biasanya ehehe….

00.39 am. 23 feb 09---

Saturday, 21 February 2009

Dialek Banyumasan, Bahasa yang Terpinggirkan


“ Pak, nggolet kerja nganah, kae lho anakmu loro wis njaluk duit (pak, cari kerja sana, itu lho dua anakmu sudah minta uang)”. Sepenggal dialog Simbok Fany yang tengah menggerutu pada suaminya Pak Dono Mbagongi.
Yap, salah satu dialog dalam sandiwara kelas A yang dipentaskan pada malam inaugurasi Prajab Golongan III minggu lalu di Semarang. Nampak kontras benar bahasa suami istri tersebut, dimana Pak Dono dengan logat Solo, ditimpali sang istri yang berdialek Banyumasan. Namun perpaduannya ternyata menyuguhkan sebuah tontonan yang apik.
Dialek Banyumasan, dalam realitanya sekarang ini menjadi bahasa yang terpinggirkan. Sudah semakin jarang orang asli Banyumas dan sekitarnya yang memakai bahasa tersebut, bahkan cenderung malu. Kenapa? hal ini muncul karena stigma katrok, ndesoni, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja berbeda keadaannya dengan bahasa jawa versi Yogya, Solo, atau bahkan Semarang yang cenderung lebih halus.
Bahasa yang terpinggirkan, bisa disebut demikian karena bahasa ngapak-ngapak ini mulai dijauhi komunitasnya sendiri, mungkin hanya orang-orang tua setempat yang masih menggunakan bahasa ini. Anak-anak muda yang telah merantau ke kota besar, biasanya pulang mudik lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia, ataupun bahasa gaul dengan "loe, gue-nya".
Dialek Banyumasan mempunyai kosakata sendiri yang lain dari bahasa jawa pada umumnya, logat dan aksen pengucapannya cenderung dengan nada tinggi hingga kadang terdengar “pletak pletok”di telinga.
Saya kira ibu-ibu tadi itu marah-marah sama saya, wi”. Ungkap seorang sahabat sekuliahan asal Klaten dulu saat pertama kali mendengar bahasa jawa versi Banyumasan yang cepat dan bernada tinggi. Aku tersenyum, maklum.
Bagaimanapun juga, dialek Banyumasan tetaplah kekayaaan budaya yang kita miliki. Dimana setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri yang menunjukkan betapa kaya rayanya ibu pertiwi akan khasanah budayanya.
Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.

Nih, beberapa bedanya..

Banten Utara

Cirebonan & Dermayon

Banyumasan & Tegalan

Jawa Standar

Indonesia

kita

kita/reang/ingsun/isun

inyong

aku

aku/saya

sire

sira

koen/rika

kowe

kamu

pisan

pisan

banget

tenan

sangat

keprimen

kepriben/kepriwe

keprimen/kepriben/kepriwe

piye/kepriye

bagaimana



Keacuhan anak muda sekarang yang lebih cenderung untuk menggunakan bahasa Indonesia memang sudah banyak diperhatikan oleh para budayawan Banyumas. Kecemasan akan kepunahan bahasa ngapak-ngapak ini memang tidak berlebihan, hingga budayawan Banyumas Ahmad tohari, M Koderi, Fajar P menyusun kamus Banyumasan. Tentu saja sangat disayangkan bila bahasa dialek Banyumasan ini tergerus kemajuan zaman.
Sebenarnya, akupun yang berasal dari daerah sekitar Banyumasan, pun mengalami kecenderungan yang sama, dimana dalam keseharian telah berganti menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Ihhihi..tuh kan, tertohok oleh tulisan sendiri.
Akupun masih tetap mempunyai subjektivitas pribadi dimana lebih merasa "teduh" dengan bahasa jawa versi Jogya, solo dan sekitarnya. Maklum saja dua tahun tinggal di tanah Jogya menyebabkan rasa memiliki tersendiri akan kota yang selalu memanggilku untuk kembali itu.
Dan resep dari dulu masih sama, bila dinyanyikan tembang jawa, apalagi "yen ing tawang ono lintang cah ayu..."ehehehe..langsung sembuh deh segala sakit penyakit ekekekek..
Posting ini sekaligus menyadarkan diri, bahwa penting juga untuk nguri-uri khasanah bahasa daerah.
hayoo..cah-cah banyumas dan sekitarnya..jangan malu pakai bahasa ngapak-ngapak. Mungkin saja terdengar eksotis di sebagian telinga orang ahahaha.

Wednesday, 18 February 2009

Pembelajaran Berulang

Beberapa waktu lalu, rupa-rupanya shout posting di facebookku menyebabkan beberapa sahabat bertanya-tanya.

Siwi Mars Wijayanti: tengah bertanya pada Tuhan, mengapa harus menghadapi hal begini lagi sih??

Ada banyak yang merespon, bahkan sampai ke hal fundamental. “Jeng, kok nanya sama Tuhan bahasanya begitu?”

Ehehe..maaf, kupikir Tuhan akan menyukai bila kita merasa dekat, dan aku suka bertanya dengan bahasaku, apa saja. Semoga tidak salah.

Saat itu aku bertanya, sebenarnya apa lagi ingin Kau mau aku mengerti, dengan memberiku pembelajaran berulang. Menghadapi kasus yang sama, agak lebih parah sedikit. Untuk kesekian kalinya. Itulah mengapa sampai terlontar “Apa lagi sih di balik ini semua?”. Tuhan memberikan kejadian-kejadian pada diri kita pastilah ada makna di balik semuanya. Ia ingin kita mengerti akan hal-hal yang Ia maksudkan. Dan mengapa harus berulang-ulang?

Ada satu celetukan seorang sahabat yang menanggapinya saat aku bercerita sambil makan siang di sudut-sudut kota Purwokerto.

“Sudah berasa tau banyak, bu?”

Hek…sederhana, nadanya pun biasa, tidak terkesan menyindir apalagi menghakimi. Aku tersenyum.

Aku sama sekali tidak merasa tahu banyak, hanya saja sedikit merasa “ufff kenapa lagi-lagi harus terjatuh pada hal yang sama, yang nggak banget, bukan aku banget”. Begitulah, heran mengapa Tuhan kembali memilihkan kejadian begini lagi. Pasti Ia ingin menyampaikan sesuatu padaku, yang belum jua aku mengerti.

Ribet ya mendengarku?ehehe..

Aku tahu dan ingat sekali kata-kata yang pernah kubaca di 7 habits, “Tak ada seorangpun dapat menyakitimu tanpa kau izinkan”. That’s absolutely right, I agree with that!

Bila orang lain berbuat tidak menyenangkan padamu, itu bukan serta merta ia bisa menyakitimu, kau merasa tersakiti atau tidak, itu tergantung dirimu sendiri. Kau bisa memilih untuk tidak ambil pusing, memilih untuk memaafkan, memilih untuk tidak peduli, memilih untuk bersikap biasa saja. Oh, sungguh banyak pilihan sikap kita pada semua keadaan yang terjadi dalam hidup, bukan?

Bila kini, merasa agak “tergores-gores” pun karena aku mengijinkan keadaan membuatku sedikit “jatuh”. Tapi tidak kuijinkan untuk berlarut memperturutkan alurnya. Aku berbalik, ingin tersenyum padaNya dan berkata “ Suatu saat aku yakin akan mengerti apa yang Engkau maksud, Tuhan”.

Aku tidak ingin merasa lelah akan hidup.

20.41 17.02.09

Tuesday, 17 February 2009

Jelagamu

Bubuk hitam mengendap dalam tubuhku

Menjadi nyawa sekaligus racun

Sepertimu

Nyawa sekejab, racun bertahap

Melunglaikan syaraf perasaku

Meski tetap membawa pelajaran yang sarat

Namun meninggalkan bekas karat

Jelagamu di cermin hati

Menangguk sisa sisa senyummu kemaren sore

Saat rintik hujan membawamu pergi

Mengabur dalam percikannya diciumi bebatuan

Menjadikannya loncatan ke hati yang lain

16.febbraio.09 22.26pm

Monday, 16 February 2009

Lengang

Duniaku seketika lengang

Seperti deretan pinus yang mengabur ditelan kabut

Di sepanjang jalan yang mencecar kenangan

Lengang hatiku, tawar ruhku

Hilangmu dibawa lari keadaan

Rapuhku yang terkuak jelas di matamu

Dan detik itu meluruhkan waktu,

Mengalah pada bising teriakan syaraf kepala

Menyetir urat-urat hati mengosongkan ruang

Dan seketika,

Lengang..

Lengang duniaku..

15.febbraio 09-12.00