Sunday, 29 July 2012

Jalan-Jalan Sore

Kelvingrove Art Gallery and Museum
Sabtu yang santai, diawali dengan ngobrol online denganmu walau belum cuci muka ehehe..lalu beres-beres kamar dan kemudian membuka message di Facebook dari mba Adrianti, salah seorang rekan di Glasgow yang juga mengambil PhD di Stratclyde Uni menanyakan apakah pesanannya (ragi tempe) sudah dibawakan. Sambung bersambung ngobrol dengan beliau di inbox Fb, akhirnya janjian jam 2 siang di BBC Scotland sekalian nonton opening ceremony Olimpiade di London dengan tehnologi pertelevisian terbaru yang diberi label Super Hi-Vision, kebetulan mba adrianti punya tiket berlebih satu. Aih, sip lah. Lalu bersiaplah saya jalan-jalan, iyaps jalan kaki. Jauh juga sih sebenarnya, dan juga jalannya saya cari di google  maps ahaha. Dulu pernah mengunjungi Exhibitionnya Glasgow bareng Wina dari Itali, seingatku BBC Glasgow letakknya tidak jauh dari situ, karena bangunannya tinggi dan tulisan BBC Scotlandnya terlihat. Humm susahnya disini, jalur bus-pun sangat terbatas ke lokasi tertentu, yah contohnya saja untuk ke arah BBC Scotland hanya ada jalur 100, dan itupun lewat city centre, huaah bolak balik dong. Dan enggak ada angkot, becak atau ojek, adanya cuman taksi yang mahalnya selangit ehehe..so, mendingan jalan kaki saja sambil berolahraga.
Maka bersiaplah saja dengan rok batik, tanpa jaket..yeaaah kan katanya summer ahaha. Lumayan juga cuaca sekarang ini, dibandingkan dengan saat aku meninggalkan Glasgow medio Februari lalu. Langit biru jadi semakin sering terlihat, dan siangnya jauh lebih lama. Dulu jam 8 pagi saja masih gelap, sekarang jam 5.30 sudah mulai terang sampai agak menggelap jam 9.30 malam. Dan yeaah, pastilah kami disini mengalami puasa lebih panjang daripada di Indonesia. Imsak pukul 3 pagi dan buka puasa pukul 9.30 malam. Seru kan ehehe..
Berbekal oret-oretan di kertas, mulailah jalan-jalan ditemani si angry bird merah—si mp3 yang mengalunkan deretan lagu-lagu di telinga. Cuacanya lumayan cerah jadi menyenangkan untuk jalan-jalan. Aku melewati CVR (Center of Virus Research) tempatku biasa nge-lab setiap hari kerja, lalu melewati Kelvongrove Art and museum. Humm selain bangunan utama Uni Glasgow, bangunan museum Kelvingrove ini salah satu bangunan favoritku. Aih, begitu menawan, hingga tak bisa menahan godaan untuk berpose berlatar belakang bangunan cantik ini. Walau sendirian, aku tak kehilangan akal untuk sekedar bernarsis ria..yeaaah self timer mode ON. Walau di dekatnya ada bus stop yang ada beberapa orang yang menunggu bus berikutnya, ah toh tak kenaaal...nekad sajaaaah. Dan dengan sekali jepretan tadaaaa...jadilah foto ini hihi...

Self timer euuy..

Beberapa kali juga kameraku mengarahkan lensanya mengabadikan bangunan yang membuatku jatuh hati itu. Lalu saat persis di depan Kelvingrove, banyak turis-turis yang tengah berfoto di depan kelvingrove, maka aku minta tolong pada seorang ibu-ibu untuk memfotokan aku di depan kelvingrove..hihihi..inilah fotoku bersama angrybird merah.


Sebenarnya sudah semenjak lama aku ingin masuk ke dalamnya, tapi belum dapat partner yang kuajak kesana. Kalau sendirian, huaaah susah narsisnya, masa pake self timer muluuuu..ahaha..
Melihat jam tangan (eh masih diset waktu indo), akhirnya melihat jam hp, sudah hampir jam 1.30 lalu segera bergegas melanjutkan langkah lagi mencari jalan menuju BBC Glasgow. Huaaah memang jauh ternyata, agak ngos-ngosan juga, setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam (dikurangi berhenti di kelvingrove untuk foto-foto), akhirnya nemu BBC Glasgow juga, dan aaaa akhirnya ketemu dengan mba adrianti dan anak-anak (Hani dan Diya)...huaaah berpelukan. Kami kemudian masuk ke BBC Glasgow. Tak setiap saat BBC buka untuk umum, jadi beruntunglah aku bisa memasuki BBC Glasgow ini. Setelah dikasih tanda berupa gelang ungu (kayak pas mau ke Jatim Pask di Malang sajah), kami menunggu acara di sambil ngobrol sebentar, lalu berkeliling melihat-lihat beberapa sudut yang menarik.
Lihatlah model televisi awal, ultra T22 televisian, hihi lutjuuu yah bentuknya..ini model televisi awal yang mulai diperkenalkan tahun 1938. Dan disitu juga ada beberap model kamera yang digunakan untuk meliput olimpiade dari tahun ke tahun. Ini dia fotonya

Model Televisi Awal, Tahun 1938
Kamera yang dipakai meliput Olimpiade Tokyo 1954
Nah, yang akan kami saksikan ini adalah tehnologi terbaru pertelevisian yang digunakan untuk meliput olimpiade 2012 di London yang bernama Super Hi-Vision. Humm benar-benar peradaban sunggu berkembang dengan kemajuan tehnologi yaah..
lalu kami masuk ke dalam Studio B BBC Glasgow, dan menikmati suguhan tehnologi tinggi Super Hi Vision dengan layar sungguh lebar, seakan kami menonton langsung opening ceremony london Olympicsnya. Humm sungguh menghibur dan sebuah pengalaman yang berharga ehheehe, si akhir pertunjukan kami bertepuk tangan tanda terimakasih atas kesempatannya pada BBC Glasgow. Usai nonton opening ceremony, kami sempet berfoto di Glasgow Science centre (dan belum sempet lihat-lihat masuk)...kapan-kapan deh ehehe.
Akhirnya kami berpisah, aku jalan kaki lagi menuju flat, dan mba ad beserta anak-anak menunggu bus yang akan mengantarkan mereka ke city centre.
Berlatar BBC Scotland/Glasgow

Di depan Glasgow Science Centre
Yeaaah, setidaknya sabtu ini menyenangkan dengan jalan-jalan sore. Walau pulangnya gerimis rintis turun, ah Glasgow cuacamu selalu saja galaaauu :D
Kapan-kapan lagi akan kuceritakan jalan-jalanku berikutnya ehehe...

Kapan jalan-jalan ke wageningen? Ke paris? Itali? Semoga setelah lebaran yaaah. Puasa sampai lebaran ini di sini-sini saja duluuu ehehe

*Sebenarnya postingan ini untuk memastikan padamu aku baik-baik setelah tragedi kemarin hihi, Aku baik-baik saja..dan akan baik-baik saja. Cheers..



Thursday, 26 July 2012

Menikah atau Bekerja??


Entah mengapa tertarik menulis tentang ini, mungkin karena beberapa waktu lalu, seorang sahabat menceritakan kegundahan hatinya padaku. Tentang pinangan seseorang namun mengharuskannya berhenti bekerja,
            “ Aku sudah berupaya sejauh ini, di titik ini. I am such a hardworking person. Masa harus melepas semua ini.” tuturnya kala itu.
Oh yeah, dia dengan posisinya yang sudah cemerlang di perusahannya itu dan mengingat perjalanan yang harus ditempuhnya, merasa sayang bila harus berhenti dari pekerjaannya itu. Ia gamang.
Kau, kalian? Memilih bagaimana?
Aku? Ahaha tanya padaku ;p
Jeleknya adalah terkadang saya terlalu spontanitas, terlalu main tabrak, tanpa terlalu banyak pertimbangan. Berbanding terbalik dengan sahabat saya ini yang banyak pertimbangan sebelum melangkah. Risiko, kecemasan sudah dipikirkannya jauh hari.
            ahaha gitulah, makanya aku kadang jadi stress duluan” ungkapnya.
Memilih pilihan, sungguh sangat subjektif. Karena “the why” orang toh berbeda-beda yang cukup untuk menjustifikasi segala macam apapun pilihannya tak bisa didebat orang lain. Kenapa? Eh apakah selalu harus ada “the why” dalam setiap pilihan apapun? Milih menjatuhkan cinta pada siapa? Sepertinya tidak ehehe...
Tentang pertanyaan di atas, pernah terlintas dalam pikiran saya tentu saja, dan pasti ada di pikiran banyak perempuan lainnya. Seorang sahabat yang tahun lalu menikahpun harus meninggalkan pekerjaan yang telah digelutinya selama bertahun-tahun untuk pindah bersama suaminya.
            tuh kan, akhir-akhirnya begitu juga” cemas sahabatku itu, setelah beberapa contoh-contoh nyata di sekitar kami tentang hal tersebut.
            Sepertinya aku ndak siap” katanya lagi.
Aku bisa memahami itu, sungguh-sungguh memahami itu. Tapi bila aku dihadapkan dengan pertanyaan itu, dan aku pun pernah mengajukan pertanyaan itu pada diri saya sendiri, jawabku sangat sederhana,
            I will trade everything just to be with him ” kataku pada sahabatku tadi itu. Lalu dia spontan tergelak,
            “ Huaaah so sweeet...gombaaal tapiii” diakhiri kalimatnya dengan tawa kami berdua. Kok gombal sih?
Seperti kataku tadi, saya termasuk dalam golongan orang yang nabrak-nabrak. Otak saya sering nakal untuk bilang ‘
            “ ntar pasti dikasih jalannya kok; ntar pasti terselesaikan kok; kan bisa dikompromikan kok, ah pasti ntar ada kejaiban kok; ntar Tuhan pasti bisa menjadikannya jadi mudah kok.” Ahaha parah emang.
I will trade everything just to be with you,
Pasti jawabanku ini mengejutkan bagi beberapa orang yang menyebutku carier minded—(karir dalam artian mereka adalah pekerjan—baca deh bukunya Rene Suhardono, Your job is not your carier haha promosi malah). You totally wrong about me, guys ehehe. Banyak yang mengira saya menunda menikah karena terlalu fokus pada pekerjaan, padahal..padahal...ahaha..;p
Perempuan bisa berkarya di mana saja, kapan saja, entah itu bekerja atau ibu rumah tangga. Apalagi karir adalah sesuatu within me, yang tak pernah bisa lepas walau “pekerjaan/job” mungkin terlepas. So why should worry?
Nah jeleknya, ntar di kalau sudah jalan, pasti sering terjadi hidup ala roaler coster, eh kok jadi begini yah? Haduh gimana inih? Ahaha...
Mungkin saya harus belajar lagi untuk lebih banyak mempertimbangkan sesuatu sebelum melangkah, tapi nggak mau juga terlalu banyak pertimbangan, ntar kapan jalannya dong.
Nah kalau nabrak, trus jadi jungkir balik (kata anak muda : galauuuu), mungkin jurusnya tinggal DOA,
Seperti kata Fadh Djibran
“Doa adalah cahaya bagi ketidakmengertian kita. Kata ayah, di tengah dunia yang gelap, malaikat pembawa rahmat hanya dapat melihat mereka yang menyalakan cahaya. Mereka yang berdoa adalah mereka yang sedang menyalakan cahaya dirinya dan memberi tahu para malaikat bahwa mereka masih mengingat Tuhan di dunia—meski tidak selalu mengerti. Mungkin, doa juga merupakan cara kita untuk belajar mengerti’


Termasuk itu pula satu-satunya jurus terakhir yang bisa saya lakukan saat ini, ahaha berdoa, pengakuan terhadap ketidakmengertian, tapi tetap menyalakan cahaya agar berjalan menuju pengertian-pengertian yang dimaksudkanNya. 
Maka, dalam pilihan apapun, berdoalah dan nyalakan cahaya hatimu, agar siapa tahu mendapat petunjuk pemberianNya.
Worry Less, Do More Sis !!

(untuk sahabatku yang tengah menggalau dengan pilihannya, nyalakan saja cahaya di hatimu, Tuhan akan menuntun dan mempermudah segalanya bagimu).

*Glasgow, 26 July 2012. 08.45 harusnya sudah mau berangkat, tapi yang menyebalkan mood nulis dateng di saat-saat yang tidak tepat. Langsung kabur mandiiiii ;p)

Wednesday, 25 July 2012

Pergi//Pulang




Malam kota itu menghampiri kita lagi, kita masih diberi waktu. Setidaknya untuk sebuah makan malam, terakhir sebelum pergi. Pergi/lagi/lagi/pergi/lagi//ah..
            Why you eat so slow?” tanyamu sambil mengamati caraku makan malam itu. Pelan-pelan mengunyah, pelan-pelan menyendok salah satu makanan favoritmu itu. Pelan-pelan, seakan ingin mengajak pelan-pelan waktu.
Aku tersenyum, tak menjawab. Mengaduk aduk lagi nasi goreng di piringku,
            I will tell you later” jawabku sambil tersenyum. Ah, “later” lagi. Seberapa banyak waktu yang tersisa hingga berani sering-sering menggunakan kata “later”? tak seorangpun tahu. Aku sebenarnya menghindari mengucap kata “later”, dan kau menolong dengan kemudian berkata,
            I guess I know why!” selidikmu memburu.
Aku tetap diam, tapi menyisakan senyum.
            You just want to stay closer with me much longer” lirik matamu mengintimidasi dengan pernyataanmu. Lalu senyummu itu terkembang. 
Beuh..
Fiuh..
Definetely true!

Aku ingin memaku waktu/agar dia tetap diam disitu/membeku/
Tapi jiwa-jiwa yang bertumbuh tidak pernah tinggal pada sesuatu yang diam

Maka aku akan  pergi/pulang
Bersama waktu/bersama kamu

n     (Sebuah dialog yang kucuri dengar di sebuah tempat makan di suatu kota, nampak manis..nampak, mungkin memang demikian adanya, manis..atau jangan-jangan lebih manis lagi ;p sepertimu, aih )



 


Thursday, 12 July 2012

Merasai Pesona Candi Ratu Boko


Alunan gending mengalun liris di telinga saat baru saja mobil hantaran kami berhenti di pelataran objek wisata Candi Ratu Boko. Dengan tiket tembusan dari Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko sebesar Rp. 30.000 kami bisa menikmati fasilitas mobil hantaran langsung ke Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 20 menit dengan perjalanan mobil dari Candi Prambanan. Jalanan yang sepi melewati pedesaan, diakhiri dengan jalanan yang semakin menanjak ke arah perbukitan, dan nantinya akan sampai di candi yang dibangun pada Abad ke 8 ini.
Dengan langkah santai kami menuju ke arah candi, sementara terdengar suara petugas yang menjelaskan tentang sejarah candi yang dibangun pada pemerintahan Rakai Penangkaran ini. Sepi dan damai, begitulah yang kesan yang tertangkap saat langkah kaki mulai melangkah naik, sementara sudut mata mulai menangkap bayangan candi yang menjulang di antara perbukitan. Ada getar indah saat menangkap pandang ke arah candi itu. Bangunan bersejarah selalu mampu memberikan ruang pada masa lalu dan perabadan untu bercerita kembali. Dan itu pula yang kutemukan di Candi Ratu Boko. Bila ditilik dari bentuknya, memang tak semegah candi Borobudur atau seanggun Candi Prambanan, tapi tetap layak untuk dikunjungi.
Bangunan candi yang memang kentara hasil pemugaran, dengan batu-batu candi yang terlihat masih baru. Berdiri (lagi) menemani waktu, agar manusia kini mampu membacai kembali tentang kehidupan masa lampau yang pernah manusia sebelumnya telah lewati. 

Berbeda dengan kebanyakan candi lainnya, Candi Ratu Boko ini mempunyai ciri-ciri yang merupakan tempat tinggal, ditandai dengan adanya atap dan tiang.  Saat kita memandangi istana/candi ini, maka bangunan yang paling mencolok terlihat yakni bagian tengah yang terdiri dari gapura utamanya. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Kemudian, bagian tenggara meliputi Pendopo, tiga candi, kolam, balai serta kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.
Silahkan berpose dengan latar belakang istana yang walaupun tak lagi lengkap ini, dijamin eksotis ehehe. Bila tak lelah, silahkan menjelajah ke berbagai bagian dari istana ini, karena areal istana ini cukup luas sehingga menguras energi untuk mengitarinya.


Di depan pelataran candi, ada hamparan rumput yang dinaungi pohon rindang, hingga leyeh-leyeh di atas rerumputan sambil memandangi bangunan bersejarah diselingi sendau gurau sahabat seperjalanan merupakan aktivitas yang menyenangkan. Kemudian di bagian bawah/pelataran juga ada bangunan untuk bersantai, dengan hiburan gending jawa lengkap dengan karawitan dan sinden, serta resto dengan pemandangan perbukitan yang menawarkan pengalaman tak terlupakan
Jadi tak ada ruginya kawan, untuk mengunjungi tempat ini dan kembali merasai kedamaian penuh pesona candi Ratu Boko.


Terimakasih sahabat Bala kurawa atas kebersamaan perjalanan yang begitu indah dan mengesankan-(Sepenggal Catatan perjalanan 24-25 Maret 2012 lalu)

BEGO


Angin lewat, semilir bergulir, lalu senyap.

I just want to give the best for him” kataku singkat.
Trus kapan dong kapan kamu try to give the best for yourself ? ” tanyanya dengan nada menyudutkan,
“ When I give the best for him” jawabku yakin, dan ditutup dengan sebuah lengkung senyumku.
BEGO” timpalnya, dengan wajah masam. Lalu dia berlalu.

Dalam lalu-nya, aku mendoakannya, semoga suatu saat dia dianugerahi dan diberkahi dengan sebuah ke-bego-an oleh Tuhan.
 Yang mungkin suatu kala tak mampu lagi menghitung untung-rugi, tak peduli lagi menang atau kalah, karena dengan memberi, apapun keadaannya, kondisinya, takdirNya, seseorang akan tetap jadi pemenang. Setidaknya pemenang bagi dirimu sendiri.

BEGO.
Akan kuingat kata itu,
Dan tiba-tiba aku bersyukur menerima anugerah itu.

Salam kasih dengan terus memberi kasih dan menjadi terbaik dari diri kita sendiri.

12 July 2012


Wednesday, 11 July 2012

Di Ujung Senja


Malang, kota ini masih saja seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya, walau lebih ramai, dan beberapa bangunan modern mewarnai tata kotanya. Namun satu hal, kota ini terlalu penuh kenangan, hingga menjadi salah satu kota yang sangat kuhindari untuk kukunjungi, walau sejujurnya aku merinduinya setengah mati. Andini, perempuan bermata binar dan berpipi merah itu menyesaki hatiku. Sepertinya setiap jengkal dan sudut kota ini menyimpankan kenanganku bersamanya, itu terkadang yang membuat hatiku sesak.
            “Terserah mas saja, Andin akan nungguin mas pulang,” rasanya masih terngiang-ngiang kalimatnya itu. Lalu aku mengulurkan tanganku untuk menggengam tangannya, ia nampak terkesiap, namun membiarkan tangan mungilnya kugenggam lembut, hingga rasanya tak ingin pernah kulepaskan lagi. Lalu dengan jelas kulihat perubahan mukanya, semburat merah yang tiba-tiba menjalari pipinya, lalu ia memalingkan muka, berpura-pura memandangi pak kebun yang tengah merapikan taman di kejauhan. Ah, aku hapal setiap perubahan mimik mukanya itu, dan sering menduga-duga hatinya dari teorema-teorema yang kususun setelah hampir tiga tahun bersamanya.
Kala itu dengan gamang kusampaikan kabar bahwa aku berhasil menggenggam beasiswa master ke University of Maastricht di Belanda, impianku sejak dulu, akhirnya mewujud. Namun justru dengan binar dan pekik bahagia perempuan itu begitu bahagia mendengar kabar itu,
            “ Andin seneeeeng banget. Andin selalu ingin mas mendapat apa yang mas inginkan. So happy for you..really happy for you, dear.” Katanya dengan matanya yang semakin nampak berbinar-binar saat kuberitahukan kabar itu.
Tapi itu berarti harus meninggalkannya, perempuan itu, yang memberitahuku bagaimana rasanya hidup yang sedemikian berwarnanya. Meninggalkan Andini adalah perkara tersulit yang harus kulakukan.

                                                                    
                                                                                                       ***


            Belanda ternyata menghilangkanku, aku hilang tertelan dalam pesona hingar bingar tanah antah berantah yang membuatku kehilangan diriku sendiri. Impian kadang bisa meracuni bila terlalu banyak ditelan, dan aku tak sanggup menjagai diriku dari hasrat untuk menaklukkan tantangan-tantangan yang rasanya semakin kutaklukkan, semakin muncul tantangan-tantangan baru lagi. Semuanya mengaburkanku dari bayangan Andini yang menungguiku. Sampai akhirnya,
            “ Mas, Andin tak bisa menunggui Mas terus bila tak ada kata pasti. Ibu dan Bapak menanyaiku, Mas Pras melamarku. Bila mas tak juga mengambil keputusan, Andin akan patuh kata Bapak dan Ibu,” tulis Andini kala itu di emailnya. Jarak memang kadang membutakan, dan keinginan yang terlalu tinggi kadang melenakan. Bagaimana bisa waktu itu kupikir, aku bisa dengan mudah mendapatkan perempuan lain yang jauh lebih baik, lebih cantik dan lebih berpendidikan tinggi dibandingkan Andini. Aku mendiamkan email itu berkarat tanpa balasan di inbox emailku.
            Waktu berlalu, berempat musim datang silih berganti,  jadwal kuliah yang berlarian, dan gelar pendidikan tinggi yang telah tersemat, kemenangan-kemenangan hidup yang akhirnya tergenggam oleh tangan-tanganku. Namun tiba-tiba, hatiku hampa. Ada yang kurang menghiasi hari, tak ada lagi senyum sapa Andini yang manis, candaannya yang lembut, pipinya yang merona saat kugodai, atau diamnya yang justru terkadang menggemaskan. Hatiku kosong. Pulang ke tanah air, aku kembali ke Bandung, tanah kelahiranku. Sesekali terlintas untuk mengunjungi Malang, mencari Andini. Tapi, rasa bersalahku terlalu dalam pada perempuan berpipi merah itu. Aku kalah, bertahun-tahun hidup dalam sejarah bersamanya, tanpa mampu mencipta sejarah baru, mungkin itu kutukan untukku.
                                                                                                      ***
            “ Dhan, elu sudah denger kabarnya Andini belum? Kaget kayak disamber geledek aku denger info dari Mutia tadi pagi,” Ninit, sahabat karib Andini saat kuliah tiba-tiba menelponku. Deg! Hatiku bereaksi.
            “ Memang kenapa?ada apa dengan Andini?” tanyaku dengan nada memburu.
            “ Andin dan suaminya meninggal, Dhan, kecelakaan mobil tadi pagi. Aku nggak bisa layat, besok aku terbang ke Hanoi, urusan kerjaan. Kasian Galuh, Dhan, semata wayang dia sekarang. Kalau ada waktu, pergilah ke Malang,” kata-kata Ninit seperti menghantam dadaku, langitku menggelap seketika. Semuanya terlihat hitam. Kelam.
                                                                                                     ***
Galuh, gadis kecil itu menggamit lenganku, seperti tak ingin melepaskannya. Kemudian dengan muka cerianya ini mengajakku memasuki rumahnya yang tertata rapi, dengan sentuhan-sentuhan tradisional Jawa yang kental.
            “ Om mau minum apa? Nanti Galuh ambilin,” Galuh menawariku minum. Hujan di luar sudah mereda. Aku seperti memasuki dunia antah berantah, walau inilah risiko dengan memberanikan diri mencari jejak-jejak Andini di kota Apel ini.
            “ Apa saja om suka kok,” jawabku sambil tak lepas mengamati setiap sudut rumah ini. Andini, kehidupan seperti apa yang kau jalani setelah berpisah denganku? Hatiku menderu bertanya. Foto berpigura, gambar keluarga kecil itu terpampang di ruang tengah. Ah senyum itu, senyum Andini, masih saja seperti dulu. Senyum yang bahkan masih tetap manis walau telat menjemputnya karena ban sepeda motorku kempes. Lalu gambar lelaki di sebelahnya itu, hanya sekilas kutatap, karena tak kuasa hatiku menahan rasa tertohok yang dalam kala melihat lelaki itu. Dia lelaki yang sungguh sangat beruntung, kilas pikirku sejenak.
            “ Om Ardhan itu temannya Bunda pas kuliah yah?” Galuh, gadis kecil nan manis itu datang membawakan secangkir teh hangat untukku.
            “ Iya, tapi beda fakultas, “ jawabku singkat, karena tak yakin Galuh sudah mengerti apa itu istilah fakultas.
            “ Kalau beda fakultas, kok Om sama bunda bisa saling kenal?” tanya Galuh yang tiba-tiba menggamit lagi lenganku, duduk dekat-dekat denganku. Entah mengapa aku terkesiap dengan sentuhan tangan si gadis kecil  itu yang nampak begitu manja menggelayut di lenganku. Aku tergeragap, seperti hatiku yang baru saja digenggamnya.
            “ Humm..kenal pas ada acara-acara kampus gitu deh,” Hanya itu yang mampu kujelaskan pada gadis berumur tujuh tahun itu. Ada sesuatu pada gadis kecil itu yang mengingatkanku pada Andini, ya..senyum itu benar-benar menjelma ada pada putri kecilnya.
            “ Bunda cantik enggak pas kuliah Om?pinter enggak? Om nggak nakalin Bunda kan dulu pas kuliah?” Ceriwis tanya Galuh yang memberondongku dengan pertanyaan. Pertanyaan itu mau tak mau mengulik sejarah lama yang walau telah dibawa lari waktu, tapi rasanya kenangan itu tetap ada di sana, di hatiku.
            “ Manis, seperti Galuh. Dan pinter juga loh, makanya Galuh harus rajin belajarnya, biar pinter kayak bunda,” Kujawab sambil mengusap-usap lembut rambut hitam panjang si gadis kecil itu. Galuh malah makin erat menggelayut pada lenganku, dan merebahkan kepalanya di bahuku. Dan anehnya hatiku berdenyar, namun beberapa detik kemudian merasakan ketenangan luar biasa. Entah mengapa ada rasa ingin melindungi gadis kecil ini.
            “Eh Om, Galuh mau kasih makan si Mimi sama Momo di taman belakang, ikut yu Om,” Galuh tiba-tiba menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya ke taman belakang.
Taman yang hijau dan asri, nampak damai saat kakiku melangkahkan kaki. Mataku beradu pada kandang-kandang mungil di pojok, dimana Galuh dengan sigap membuka pintu kandang lalu hap..hap..keluarlah kelinci-kelinci berbulu putih berlompatan di rumput yang basah sehabis hujan. Lalu aku jongkok, menikmati melihat betapa telatennya gadis kecil itu memberi makan, sambil sesekali mengelus-elus punggung kelinci-kelinci itu.
            “ Lucu kan Om, Bunda yang kasih hadiah Mimi dan Momo pas Galuh ulang tahum, seneng banget Om, soalnya mereka lucu-lucu,” terang Galuh dengan ceria. Aku tersenyum mendengarnya. Lalu aku menyalangkan mata mengamati taman belakang ini, lalu hatiku terkesiap, saat pandangan mataku tertumbuk pada dua buah kursi taman kayu dan sebuah meja bundar tertata di sana. Ada vas bunga dengan bunga yang telah layu terdapat di sana.
Perlahan aku bangkit dan mendekati kursi taman itu, lalu pelan-pelan duduk di kursi itu. Hatiku merasa Andini begitu dekat, ada di situ.
            “ Mas kalau nanti suatu saat kita punya rumah, mas mau rumah seperti apa?” tanya Andini dengan matanya yang berbinar-binar, hampir selalu mampu menyilaukan hatiku.
            “ Mas pengen punya taman belakang yang asri, ada kelinci-kelinci lucu, trus ada kursi taman dan meja, jadi kalau pagi-pagi kita berdua bisa minum teh bersama, sambil ngobrol-ngobrol pagi hari, pasti romantis kan?” paparku kala itu.
Seingatku dulu Andini hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum manisnya, kemudian pipinya tiba-tiba bersemu merah, merona. Tak berkata apa-apa setelahnya, hanya memainkan bilah-bilah rambut hitam panjang dengan tangan kecilnya. Memang begitulah Andini, tak banyak bicara. Tapi sanggup membuatku melakukan apa saja untuknya, untuk menjaganya, mencintainya, menyayanginya.
            Dan rasanya ada yang menyesak dalam dadaku, menyaksi sebuah gambaran indah dulu yang pernah kuutarakan. Andini mewujudkan gambaran rumah yang dulu ingin dibangunnya bersamaku. Kelinci-kelinci lucu dan kursi taman tempat kami bicara berdua, persis seperti gambarannya. Ah, Andini..rindu mendesak-desak dadaku.
            “ Om kok ngelamun, betah ya Om duduk di sini. Ini tempat favoritnya Bunda loh, Om. Bunda tu sering bawa laptopnya ke sini, lalu menulis sambil bawa secangkir teh. Galuh sering sungkan kalo mau ngajak main Bunda kalau bunda lagi duduk lama-lama di sini, nggak tau juga kenapa Bunda betah banget di tempat ini,” Galuh tanpa diminta berbicara banyak, ah terlalu banyak tentang bundanya itu.
Mataku berembun, dadaku sesak, hatiku penuh seketika, penuh kenangan seorang perempuan yang dulu mengisi hidupku. Kupeluk tubuh gadis kecil itu erat-erat, ingin kujagai dan kulindungi gadis kecil itu, seperti dulu aku ingin menjagai ibundanya, tapi tak bisa.
Di ujung senja yang merona, seperti jiwaku yang terasa hidup kembali, hidup karena sinar dari mata gadis kecil ini, dimana aku melihat Andini dalam dirinya. Hidupku selanjutnya adalah tentang aku dengan gadis kecil ini. Kupeluk ia lebih erat lagi, kuusap rambut hitam panjangnya dengan penuh sayang. Andini, akan kujagai engkau yang kini ada dalam diri putri kecilmu ini. ***

 



Monday, 9 July 2012

Menyusuri Indahnya Tepian Pantai Gunung Kidul

Pantai terkadang adalah tempat rehat jiwa, membiarkan tarikan nafas senada dengan aliran debur ombak yang menemui bibir pantai, kemudian menjauh lagi, ritmis. Karena itulah aku merindu pantai, menyegarkan kembali raga yang lelah karena banyak hal yang mendera raga ini, begitu juga jiwa yang butuh jeda, pada banyak cerita yang akhir-akhir ini harus ditanggungnya. Maka, segera kuiyakan ajakan seorang sahabat baik, mba nuk, untuk refreshing di akhir pekan ini. Jalan-jalan ke pantai Gunung Kidul merupakan rayuan yang sulit untuk kutampik.
Sabtu pagi, seusai sarapan pagi, kami meluncur ke UNY untuk ketemu pak supir, karena mba nuk menyewa supir kantornya untuk mengantarkan kami ke lokasi. Yeaaah, pak supir yang bernama pak Edi itupun kaget karena ternyata yang harus dianternya cuma kami berdua ahaha dikirain rombongan hihi ;p
Lalu sekitar jam 9 pagi, kamipun meluncur menuju daerah gunung kidul. Bersama obrolan ringan, alunan lagu, dan pemandangan sepanjang jalan. Beneran piknik hihi...soalnya pemandangan sepanjang jalan juga cukup menghibur mata, yeaaah apapun tentang jogya memang menenangkan jiwa  (haiaaaah ;p).

Jalanan memang kemudian lumayan berkelok-kelok dan menyempit. Sempat pula melewati daerah bukit bintang, yang terkenal menjadi tempat populer untuk melihat jogya dari atas saat malam. Heuuuu kepengeeeeen banget kesini pas malam-malam suatu saat nanti.
Perjalanan memang cukup lama sampai ke lokasi, mulai melewati daerah-daerah tak berpenghuni, serta bukit-bukit menghijau. Gunung kidul, kujejakkan kaki ke sini entah berapa tahun lalu, lama sekali sudah. Saat dulu masih semester awal kuliah S1 di Biologi Unsoed, pas praktikum Struktur Perkembangan Hewan ke pantai Krakal dan Kukup, jaman masih muda dulu hehe.
Dan tentang Gunung Kidul, adalah tentang kisah Galaksi Kinanthi-nya Tasaro GK. Karena salah satu setting tempatnya adalah gunung kidul.



Engkau ingin tahu mana saja tempat yang kukunjungi? Garis pantai yang mengingatkanku akan tali kasih Ajuj dan Kinanthi. Doaku untuk keduanya menyaingi jumlah pasir putih yang menumpahi lidah-lidah pantai di sepanjang batas daratan gunung kidul (Tasaro GK)

Pantai-pantai di sepanjang batas daratan gunung kidul memang beraneka, kalian bisa memilih mau pergi kemana, karena sepanjang batas itu menawarkan keindahannya masing-masing walau sepintas hampir sama. Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Indrayanti, alasannya adalah bujuk rayu promosi dunia maya. 
Ahaha iyaap, beberapa fanpagenya Jogya yang kulike di jejaring sosial facebook (pengen ngitung berapa kali aku nge-like setiap ada postingan gambar tentang Jogya hihi)sering mempromosikan tempat-tempat wisata di Jogya. Dan pantai indrayanti ini tergolong pantai “baru” karena sebelumnya yang dikenal wisatawan biasanya seperti Pantai Baron, Kukup, dan Krakal. Maka benar saja, di petunjuk jalan, pantai Indrayanti belum ada di papan, tapi jangan khawatir karena jalannya memang searah, sepanjang batas daratan itu memang menyusur pantai-pantai nan indah itu. Dan pantai indrayanti terletak di bagian timur pantai sundak. Saat mobil sudah mendekati kawasan pantai, sekilas saja juga mengundang kesan indaaaaaaah, bikin enggak sabar turun dan menyusuri bibir pantai. 


Pantai indah, bersih dan terkelola dengan baik. Yups, karena pengelolaan pantai ini kabarnya dikelola oleh swasta, dan “Indrayanti” adalah nama pemilik cafe dan restoran di tempat itu,sehingga nama pantai yang awalnya “Pulang syawal” itu lebih terkenal dengan sebutan Pantai Indrayanti.
Pasir putihnya yang bersih, debur ombak yang ritmis menemui tepian pantai, hummm..indaaah. Sayangnya karena musim liburan, banyak pengunjungnya jadi rameeeee....Coba kalau sepi, tiba di sana menjelang senja, duduk di pasir-pasir itu sambil melintas cakrawala menyaksi mentari yang menua, heuuuu...deng..deng....banguuuuun...
Karena terlampau ramai, aku sama mba nuk beralih ke pantai sebelah, cuma jalan kaki saja dan hummm lebih sepi, dan lebih nyaman untuk duduk nongkrong sambil menikmati es kelapa muda.
Rehat, ya rehat yang cukup sempurna. Melupakan sejenak riset, administrasi, urusan pribadi dan memberikan waktu untuk istirahat bagi diri sendiri. Kadang, jiwa serta raga butuh jeda.
Jeda yang istimewa, meluangkan waktu di antara deretan rutinitas adalah hadiah bagi jiwa. Terimakasih atas kebersamaan yang istimewa.


Bulir-bulir pasir putih di tepian pantai itu mengajariku,
Bagaimana belajar mencintai tanpa terlalu takut lagi akan kehilangan,
Cinta, masih bisa tetap ada di situ, seperti bulir-bulir pasir putih itu,
Baik ombak datang menghampiri atau menjauh pergi, pasir itu tetap menyimpan semua
Entah dalam kebersamaan ataupun keterpisahan
Cinta itu mungkin menanti, tapi yang jelas ia terus memberi..

“ Apa di masa depan, biarkan
 Tersenyumlah, Tuhan mencintaimu lebih dari yang kamu perlu (Galaksi Kinanthi-Tasaro GK)

Lalu biarkan tembang Kinathi mengalun..

Mangka kanthining tumuwuh
Salami nipun awas eling
Eling lukitaning alam
Dadi wiryaning dumadi
Supadi nir ing sangsaya
Yeku pangreksaning urip
(Tembang Kinanthi : yang bisa berarti bergandengan tangan)

Dan kutinggalkan pantai-pantai indah Gunung Kidul dengan harap suatu saat akan kembali lagi. Menyusuri lagi pasir putihnya, semoga bisa menangkup senja dengan mentari membulat merona, atau mentari yang merekah mengawali hari. Suatu saat nanti!!

(merampungkan tulisan ini sembari menemanimu mengisi form dari jauh, 9 July 2012. 22.47)

Friday, 6 July 2012

Bila



Bila,
Masih terus bisa duduk di sampingmu, walau tanpa sepatah kata
Menikmati laju angkutan kota yang membelah kota
Sambil sesekali memainkan ujung lengan bajumu,
Sambil berdoa, pak supir salah peta
Hingga membawa kita berdua ke lain benua
Ah, langka
Berdua nyata adalah langka,
Tapi berdua jiwa adalah nyata,
Hingga kupastikan tak ada lagi bila,
Karena walau langka,
Masih ada,

( beralih ke jendela revisi : 1 Nuclease-free microcentrifuge tube is added by  2pmol of gene –specific primer, 10 pg-5µg total RNA, 1 µl 10 mM dNTP Mix and then added by sterile, distilled water to 13 µl...hoaaam...)

Masih di tempat yang sama, 6 July 2012

And then,

Saat bahagiaku, duduk berdua denganmu
Hanyalah bersamamu,
Mungkin aku terlanjur tak sangup jauh dari dirimu
Dudududu.... (Bahagiaku, Andien-Ungu)


Manis



Hanya ada kami, Mada dan aku.  Dan waktu serasa diam di situ, memacari kami berdua, dalam mesra yang sempurna.  Matanya memandang padaku, kehangatan semena mena menjalari hatiku. Tak bisa kutampik, tak bisa kuacuhkan. Lalu diam, kata yang tak biasa saat kami berdua. Biasanya celotehnya bisa A sampai Z bicara tentang apa saja, dari hal paling remeh temeh sampai tentang masalah negara sekalipun. Biasanya waktu terasa melesat-lesat bila aku bersamanya. Tapi kali ini, hanya matanya yang tak lepas dariku. Hingga waktu seakan terhenti.
            Kenapa?” tanyaku pada akhirnya, memecah keheningan.
Kudengar desah nafasnya perlahan.
            Enggak, hanya ingin memandangimu saja.” Jawabannya lugas seperti biasa, tapi tak membuatnya   mengalihkan pandangan matanya dariku. Ah Mada, bila sudah begitu aku selalu jengah dibuatnya, kikuk dan tak tahu harus bagaimana. Fiuh, tidakkah dia tahu betapa tidak mengenakkan dipandanginya lama lama begitu rupa.Tapi begitulah Mada, Madaku, lelakiku.
            Apaan sih...tuh tehnya dingin, ayo minum..minum,” kataku mencoba mengalihkan perhatiannya.
            Bukannya sudah tau, kalau aku minum teh memang nunggu agak dingin kan?”jawabnya lagi. Egh, gagal!
            Apaan sih, udah deh…” aku mencubit pinggangnya. Dia pura pura menghindar, sambil tertawa. Dia paling tau jurus andalanku bila sudah mulai kehilangan ide harus menghadapinya bagaimana.
        Kenapa hidung kecilku sayang?” tanyanya merajuk. Bila sudah begitu, rasanya ingin melakukan pencubitan berantai.
            Enggak” jawabku dengan nada tinggi dan ketus, pura-pura galak. Karena toh aku tak pernah bisa galak padanya, pada siapapun lebih tepatnya.
            Kalau udah galaknya muncul, tambah lucu deh,” godanya lagi. Dengan raut muka yang selalu sanggup menerbitkan senyumku.
            humm..dasar..serba salah semua. Diem salah, galak juga salahkataku merajuk.
            Iya, salahmu jadi manusia manis.” Katamu singkat, namun rona merah di pipiku menjalar seketika.
Lalu tiba-tiba pandanganku mengabur.
PING! Bangun tidur...cuma mimpi.....maaf sudah menganggu dengan postingan tidak jelas ini hihi. 

NB. Mada adalah nama fiktif belaka, dan apabila ada kejadian yang hampir serupa itu pasti hanya kebetulan semata. Ahaha kayak berita kriminal dan ending tulisan sinetron Indonesia ;p

-Kota Kita, 6 July 2012.

Thursday, 5 July 2012

Sapu Tanganmu




Kau sudah hendak beranjak pergi, walau kutahu gamang dalam hatimu. Selalu begitu. Ritual meninggalkan, hanya beralih peran, aku atau kamu.
Lalu ketika tatap terakhir hampir lalu, kubilang padamu,
            “ Bawa sapu tangankah?” tanyaku spontan. Lalu sapu tangan yang biasanya kau simpan di saku celana bagian kiri kau ulurkan padaku, dengan muka sedikit bingungmu.
            “Pinjam” kataku singkat. Langsung kuambil sapu tangan itu dari tanganmu. Kupegang erat.
            “ Untuk apa? “ tanyamu bingung. Tak ada jawaban. Sepi. Hanya detik-detik menjelang kau pergi. Membalikkan punggung dan meninggalkanku.
Begitu, selalu begitu. Aku dan kamu, selalu bertukar posisi, meninggalkan atau ditinggalkan.
Sapu tangan ini ada di dekatku kini, hingga aku bisa terus menciumi keberadaanmu. Aroma jejak-jejakmu yang tertinggal di situ, sanggup membuatku bertahan sampai aku pergi nanti, tanpa bermata “ikan koi” lagi.
Atau mungkin bisa menjadi alasan “ ingin kembalikan sapu tanganmu, bisakah bertemu sebentar saja sebelum aku pergi?” agar kurekam lagi engkau terakhir kali.
Selalu begini, ritual kita..membiasakan “pergi”.
Tapi aku baik-baik saja. Selalu mencobai baik-baik saja, biar tak ada lagi “ikan koi”, seperti inginmu, maumu. Selalu, melihatku baik-baik saja.
“Baik-baik ya..” ribuan kali. Semoga akan bertambah lagi hihi...

Tetaplah menjadi bintang di langit
   Agar cinta kita akan abadi
   Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
   Agar menjadi saksi cinta kita
   Berdua”

(di antara deretan lagu yang kau kopikan kala itu) –di kota kita, 5 July 2012. 23.37