Kamis, 11 April 2019

Cerita dari Kedai Kopi



Hujan belum lagi reda, saya masih bersama alunan samar musik di kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi tempat pindah kerja usai dari kampus. Ritme kerja memang berubah jauh sejak mendapat tugas tambahan sebagai Sekretaris Jurusan akhir januari lalu. Seharian bisa ngerjain ini itu, tapi di akhir hari berasanya nggak ngerjain apa apa. Karena yang dikerjakan biasanya hal-hal administrasi, rapat, urusan panitia ini itu. Habis waktunya untuk mengerjakan yang bukan “kerjaan sendiri”.
Pekerjaan yang semenjak pulang dari kuliah di Glasgow sudah padat, sekarang sudah semakin padat merayap. Tapi mungkin  kondisi seperti itulah yang saya butuhkan saat ini.
Makanya, seringkali saya mampir ke kedai kopi ini usai dari kampus untuk menyelesaikan kerjaan saya sendiri. Seperti nulis manuscript artikel jurnal yang susah sekali mencari waktu ketika berada di kampus. Selain kadang waktunya memang nggak sempat, juga distraksinya banyak. Bila di sini, lumayanlah cukup produktif, dan hasil artikel yang terbit pun mulai bertelur satu per satu. Saya tidak ingin pekerjaan tambahan menjadi sekjur membuat publikasi ilmiah saya macet. Banyak orang ketika terjebak dalam tugas tambahan, akhirnya melupakan atau tak sempat waktu untuk menulis publikasi.
Saya sendiri, tidak menyangka ketika saya pada akhirnya memutuskan untuk bersedia untuk duduk dengan tugas tambahan. Semenjak jadi dosen, saya tidak pernah berpikir untuk mau ataupun berkeinginan ke arah situ. Saya menilai diri sendiri sebagai pribadi yang tidak terlalu bagus jiwa kepemimpinannya. Saya dulu yang pernah bertanya pada teman-teman semasa kuliah S1 :
            “Kerjaan apa ya yang nggak usah ketemu atau ngobrol dengan banyak orang?”
Begitu lontaran pertanyaan saya. Mencerminkan betapa payahnya kemampuan interpersonal saya dengan orang lain. Dan rasa rasanya berinteraksi dengan orang lain membutuhkan energi yang banyak dan melelahkan.
            “Pegawai perpus tuh, nggak usah ketemu sama orang banyak” jawab sahabat saya dulu sewaktu jaman kuliah S1.
Tapi hidup terus berubah, mungkin saya juga banyak berubah. Walaupun secara pribadi, saya masih saja pribadi yang introvert, yang kadang habis energi ketika banyak berinteraksi dengan orang, kemudian butuh waktu sendiri untuk mencharge energi. Tapi kehidupan berubah, dan saya harus mencoba melenturkan diri pada perubahan.
Pada akhirnya saya bersedia untuk menjajal untuk bekerja dengan tugas tambahan, dengan risiko pekerjaan akan tambah banyak, nggak bisa "ngilang-ngilang", dan waktunya akan banyak tersita untuk urusan pekerjaan. Satu hal lagi, risiko nya adalah nggak bisa apply post-doc dikti atau program lain yang mengharuskan meninggalkan kampus dalam jangka waktu yang agak lama selama periode dengan tugas tambahan. 
Jadinya ketika melihat pengumuman Dikti untuk tawaran post doc 3 bulan tahun ini saya cuma melihat dengan nanar *risiko harus diterima 😁
Kadangkala, kita harus menjajal untuk keluar dari zona nyaman. Mungkin saatnya untuk melemparkan lagi titik yang harus saya kejar. Beberapa tahun belakangan, saya tidak punya titik yang saya kejar. Dulu saya selalu melemparkan titik ke depan, dan membiarkan diri saya untuk berupaya mewujudkannya.
Sudah agak lama, saya tidak punya titik itu lagi. Saya kebingungan ketika akan melempar titik itu...mau ngapain lagi? mau mengejar apa lagi? Kali ini, saya menemukan titik yang ingin saya tuju.
Karena itulah, saya sering ada di kedai kopi ini, agar mempunyai lebih banyak waktu dan energi untuk menulis publikasi-publikasi ilmiah dan hal-hal lainnya.
Karena saya ingin membiarkan diri saya menapaki jalan untuk menuju titik yang saya lempar itu.
Mungkin ini untuk seseorang yang pernah berkata pada saya
“ Seeing you grow up and jump as high as possible is my happiness”

Atau mungkin ini untuk diri saya sendiri.***



Society, 11 April 2019



Selasa, 05 Februari 2019

Glasgow dan Sepenggal Cerita Hidup




“ Kita cenderung mengingat hal-hal yang indah yang pernah terjadi dalam hidup kita. Mungkin itulah yang membuat kita kuat untuk menghadapi kehidupan selanjutnya”


Kalimat itu saya dengar di serial drama korea “Encounter” yang baru-baru ini saya lihat. Mungkin benar juga kalimat tersebut.
Kita cenderung mengingat hal-hal yang indah, dibandingkan ketika menghadapi masa masa sulit. Itulah kenapa, ingatan tentang Glasgow hampir selalu tentang kenang yang indah. Tiap kali melihat postingan beberapa akun IG yang saya follow tentang Glasgow, ada desir rindu itu. Rindu mengenang segala macam kehidupan yang pernah terjadi. Juga rindu untuk mengunjungi tempat itu lagi.

Padahal masa-masa itu, bisa dibilang merupakan saat saat yang banyak kesulitan. Saya sering dihadapkan pada kondisi yang serba tidak pasti. Terutama yang berurusan dengan studi saya hihi..
            “ Please send me asap (as soon as possible-red)”
            “ Could you finish it soon..
Kalau udah membaca email dari supervisor semacam ini. Deg! Saya harus siap sedia. Kuliah di luar negeri memang tekanannya berbeda. Karena lingkungan dan bahasa yang berbeda. Seringkali saya merasa “bego” banget, trus mau nanya-nanya rasanya gimanaa gitu. Stress-nya lumayan nampol pokoknya. Apalagi kalau berurusan dengan kerjaan lab hehe. Ketika harus presentasi untuk seminar internal atau eksternal, haduuuuh rasanya deg degan dan mulesnya berhari hari haha..
Beda banget sih sama kalau kerja di sini. Ibaratnya semua kerjaan di kampus sini masih dalam tataran “ I can handle it!” cuma butuh kerja lebih keras ataupun lebih lama kalau banyak yang harus dikerjain.
Tapi selama studi di Glasgow, rasanya seringkali harus menghadapi situasinya yang saya nggak tau bisa apa enggak. Mewek malem malem begitu baca email supervisor.. pernah, terus jalan ke lab sambil nangis.. pernah. Ataupun diam diam ke toilet lab karena pengen nangis nggak ketauan pun pernah.

Padahal supervisor saya sebenarnya baik. Baik banget malahan..cuma agak rewel hehe. Saya semakin merasa supervisor saya baik banget itu bahkan ketika saya sudah back for good ke Indonesia. Dia masih ngirimi external hardisk berpasword, nanyain kabar kalau ada berita bencana di Indonesia, bahkan nanyain gimana cara memberikan sumbangan untuk korban bencana. Pengalaman mendengar banyak cerita cerita “menyeramkan” dari beberapa temen yang juga studi PhD membuat saya bersyukur punya supervisor yang baik.

Tapi tetap aja ya, hubungan student-supervisor yang hampir 4 tahun tetep aja ada masa-masa kala dia sensi dan marah. Tapi lagi lagi kalau sekarang lebih terkenang banyakan yang baik-baiknya.
Saya masih ingat, betapa melegakannya saat saat jam pulang dari lab. Lab saya pindah ke daerah Garscube setelah saya menginjak tahun ke-empat studi. Bus nggak ada yang sampai ke sana. Jadi tiap hari setidaknya saya harus jalan kaki 2 kali 30 menit untuk pulang dan pergi. Dan letak lab saya itu hampir kayak antah beratah, semacam daerah pinggiran Glasgow yang jarang pemukiman. Ketika jam pulang dari lab, berjalan kaki menuju bus stop rasanya pikiran saya sudah senang. Bahkan rencana untuk mampir ke Morrison –Salah satu nama supermarket di Glasgow-aja bawaannya udah happy!. Mampir ke Morrison untuk beli buah, atau kadang memburu ikan yang harganya lagi diskon. Salah satu supermarket favorit saya di Glasgow!

Sayangnya waktu tahun 2017 lalu kembali ke Glasgow, saya tidak sempat ke Morrison dekat bus stop ke arah lab saya. Waktu itu 2 minggu rasanya singkat dan terlalu banyak yang ingin saya lakukan.
Saya tidak tahu kenapa masih saja ada rindu itu.
Padahal hidup saya di Glasgow adalah barisan hari hari yang sederhana
Rutinitas yang biasa saja. Memasak seusai pulang lab, berkumpul bersama teman-teman, ataupun jalan jalan di akhir pekan.
Iya saya rindu.




Untukmu yang Menggangap Hidupnya “Begini gini Aja” #10yearschallenge



Kalian pernah nggak merasa “hidupku kok begini gini aja ya”? hayoo pernah enggak? hehe jangan khawatir, saya juga kok pernah merasa begitu.
Terkadang melihat kehidupan teman-teman seangkatan yang sudah begini sudah begitu..jadi rasanya kok saya begini gini aja.  Apalagi dengan era sosial media sekarang ini, semuanya berseliweran tiap harinya yang menyebabkan benih-benih “comparing to others” itu mudah sekali menggejala.

Itulah mengapa kita sering merasa “kok hidupku begini gini aja ya”. Apalagi kalau tidak terjadi perubahan perubahan signifikan dalam hidup di permukaan. Maksud saya di permukaan itu yang terlihat jelas seperti lulus kuliah, mendapat pekerjaan, menikah, punya anak, punya rumah dan hal hal yang membuat perubahan hidup bisa terlihat dengan jelas.
Sebagian besar orang yang fokus melihat pada perubahan perubahan di permukaan ini. Saya pun terkadang begitu.
Mari lihat ke dalam. Lihat ke dalam..
Satu-satunya yang tahu pasti perubahan dalam hidup adalah dirimu sendiri. Namun seringkali kita lebih sering berfokus pada hal-hal di permukaan dibandingkan perjalanan ke dalam diri.

Look at the details,
Kita sering lupa mengapresiasi diri sendiri, terhadap keberanian-keberanian yang pernah kita buat dalam mengambil keputusan dalam hidup. Terhadap kerja keras yang telah kita upayakan. Terhadap upaya upaya kita untuk menerima kehidupan yang terjadi.
Saya, bukan lagi saya 10 tahun yang lalu. Tentu saja kalian juga.

Beberapa waktu lalu sempat menjadi trend 10 years challlenge, yang menampilkan foto 10 tahun yang lalu dibandingkan dengan foto sekarang. Kita kebanyakan lebih banyak menilik seberapa orang berubah secara penampilan, soalnya yang nampak memang hanya gambar dalam foto. Tapi perjalanan selama 10 tahun terakhir yang persis tau pasti adalah diri kita sendiri.
Ini yang seringkali kita lupa.
Kalau saya melihat foto di atas, yang sebelah kiri itu ketika saya sedang short course bahasa Italia di Perugia. Foto tersebut diambil seusai kuliah di salah satu gedung Universita per Stranieri di Perugia. Saya masih nampak polos dan kurus di foto tersebut, tapi senyumnya nampak masih sama dengan foto sebelah. Yang berbeda dan tidak orang lain lihat adalah..senyum sebelah kiri adalah semacam senyum penaklukan mimpi mimpi, kemenangan atas perjuangan tak kenal lelah..dan kebanggaan. I proud of myself. Gampang sekali untuk mencintai diri sendiri waktu itu. 
Kalian mungkin pernah juga ada dalam tahap itu.

Tapi senyum sebelah kanan, adalah semacam senyum yang mengatakan betapapun hidup memberikan banyak jalan sulit, kehilangan orang orang tercinta, bahkan kehilangan harapan..tapi hidup terus berjalan dan dihadapi dengan senyuman. Dan senyum itu adalah upaya belajar untuk bisa mencintai diri sendiri kembali.
Mungkin juga kalian pernah ada dalam tahap betapa sulitnya kembali mencintai diri sendiri lagi. 
Iyah, hidup terkadang berjalan tidak sepenuhnya seperti yang kita inginkan. Tidak seperti yang kita rencanakan.

Tetaplah berjalan..Tetaplah hadapi. Lalu mungkin.. di sepanjang jalan ke depan, kita akan menemukan harapan lagi.***




Kamis, 03 Januari 2019

Seperti Kemarin


Pic Source : Puung from Pinterest

Mungkin ada satu hal yang tidak kamu tahu, kalau aku sering merekam wajahmu dalam ingatku.
Mungkin karena aku tahu, waktu bagi kita.. bisa habis kapan saja.
Aku masih merekam, kilasan senyummu kala kita menapaki jalan-jalan di antara daun daun gugur yang menguning.
Atau senyummu yang menyeringai nakal, ketika melemparkan tumpukan salju yang kau bentuk bola bola padaku,
“Sakit tahu!’, kilahku. Lalu kau pura pura merasa bersalah..dan detik berikutnya harus bersiap siap dengan lemparan bola saljuku. Lalu kita tertawa di antara bulir bulir salju yang turun dari langit..walau kaki hampir membeku, dingin merayapi kulit. Tapi hati kita menghangat.
Bus berhenti beroperasi kala itu. Lapisan es terlalu tebal, membuat kita harus berjalan menembusi dingin saat langit mulai menggelap.
Aku juga merekam tawamu. Saat dengan randomnya kita pernah bermain badminton di dekat danau perdesaan antah berantah. Berbekal tiket bus, dan sepasang raket karena digodai langit  yang membiru cerah.
Dalam sepersekian detik itu, aku merekam tawamu yang bahagia. Tak biasanya tawamu serenyah itu. Kala angin menerbangkan shuttlekok seenaknya sendiri, lalu tawa kita terdengar di udara. Rekaman itu masih jelas. Seperti kemarin.
Seperti saat kita bersepeda, menyusuri sungai ataupun taman taman kota, menunggu senja.
Ada banyak rekaman rekaman itu.
Senyum di wajahmu.
Kadang kadang aku mencari cara, bagaimana caranya membuatmu tersenyum. Aku tak pernah pandai melucu, tak sepertimu yang jenaka.
Aku rindu membuatkan telur kecap, iga lada hitam, sate padang, nasi goreng putih atau hanya sekedar semangkok mie rebus telur yang mudah sekali membuat wajahmu berbinar.
Aku pun masih mengingat, kala menjahit dengan tangan.. lengan jasmu yang terlalu panjang.
Rasanya seperti kemarin
Seperti kemarin
Waktu kita telah usai.
Tapi biar kukenang rekaman rekaman itu.

Rasanya seperti kemarin.***