Senin, 25 Mei 2020

Cerita Tentang Rumah Mint


             


“Iya bu, tapi kalau harus bener-bener nyicilnya maksimal 1/3 dari penghasilan emang kudu yang cicilan sekitar 15 tahun,” begitu curhat seorang kawan yang tengah mencari rumah--Mencari tanah untuk membangun rumah, lebih tepatnya.
Dari curhatnya itu, saya kembali sadar bahwa mempunyai rumah pada saat ini memang tidak mudah dan butuh perjuangan. Punya cicilan selama 15 tahun nggak kebayang sih capeknya kayak apa, walaupun nilai uang cicilannya akan terus turun. Tapi pengalaman pernah punya cicilan tiap bulan itu rasanya nggak enak, kayak punya tanggungan gitu. Tapi di sekitar kita, banyak yang mengambil cara ini untuk memiliki rumah, biar nggak numpang sama mertua ataupun karena keinginan ingin mandiri. Saya pun membeli dengan cicilan kok.

Saya dulu belum terlalu “kenal” dengan financial planning. Jadi pengelolaan keuangan lebih ke asal-asalan saja, asal aman.Tujuan finansial juga nggak begitu jelas, mungkin karena masih sendiri jadi belum menganggap perencanaan keuangan itu penting. Tapi ada satunya sih nggak saya amati, kok dulu belajar ekonomi di sekolah nggak pernah diajari gini-gini ya? Coba gitu diajari financial planning, how to spending, how to saving ataupun investasi. Karena ternyata pengetahuan tentang hal hal tersebut sangat berguna untuk kehidupan kita.
Dulu, tujuan finansial saya paling-paling buat travelling. Karena saya suka jalan-jalan, dan menganggap pengalaman menjelajah itu hal yang berarti dalam hidup. Lalu sekitar 1 tahun sebelum saya pulang ke Indonesia, ada teman yang menawari saya rumah. Dia mau pindah ke lain kota karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di sana. Waktu ditawari rumah, saya merasa belum kepikiran memiliki rumah,
            Nantilah, masih sendiri juga”-mungkin ini yang membuat saya merasa belum perlu. Ditambah juga, waktu itu saya belum memantapkan hati untuk tinggal di Purwokerto.
Tapi akhirnya saya pun memutuskan membeli rumah--bukan rumah temen saya yang nawari itu sih. Tapi yang tidak banyak tahu bahwa saya menghabiskan tabungan saya agar memperbesar DP rumah sehingga cicilan yang harus saya tanggung nggak terlalu banyak. And then, kejutan setelahnya adalah saya nggak dapat beasiswa perpanjangan Dikti untuk menyelesaikan S3 saya di Glasgow. Itulah yang membuat saya jualan tempe, bakso, sate, bolak balik Glasgow-Edinburgh tiap minggu pas Ramadan untuk jualan, agar saya tetap survive.
Ada satu momen yang masih terus saya ingat, ketika saya ikut bazar Ramadan di Glasgow. Seorang teman dari Indonesia yang order masakan saya mengabarkan nggak bisa ke bazar karena anaknya masih tidur. Makanya saya mengantarkan ke rumahnya seusai kegiatan bazar. Dengan membawa orderan, saya ke rumah teman Indonesia tersebut. Sampai di pintu, saya serahkan orderan masakannya…tapi si mbaknya malah mrebes mili,
Lalu saya yang tadinya biasanya saja, jadi tertular ikut mrebes mili. Ah, kami yang hidup di negeri jauh dari Indonesia, mungkin memang tahu betul perjuangan masing masing dari kami. Cerita-cerita itulah yang membuat saya cinta sama rumah yang saya sebut Rumah Mint itu.
Sekarang, rumah mint sedang direnovasi karena pengen nambah dapur yang lebih luas di belakang. Karena saya suka masak dan dapur sebelumnya cuma secuil hehe. Sebenarnya soal finansial, saya termasuk pemain aman, tapi kok ya nekadan. Saya bingung juga menyebutnya tipe apa kalau baca di Buku-nya Mbak Prita Ghozie, perencana keuangan favortit saya. Saya tipe no-utang utang club untuk soal konsumtif-dan renovasi rumah bukan kebutuhan urgent, jadi jelas saya mengambil biaya renovasi dari tabungan. Oke itu sifat pemain aman-nya ya. Tapi nekadan-nya itu ketika udah hire tukang dan tau perkiraan biaya renovasinya yang bikin tercengang hahah..
Ternyata ya bikin bangunan jaman now mantep banget ya biayanya. Akhirnya rada ngebut juga kerjanya agar ada pemasukan pemasukan tambahan, dan Alhamdulillah masih aman sampai sekarang. Tapi perencanaan keuangan itu penting banget sih, sama punya tujuan finansial biar hidup lebih tertata rasanya. Dan, hidup dengan situasi finansial yang aman itu juga membawa ketenangan hati juga lho. Saya banyak mendengar permasalahan keuangan, bahkan katanya soal finansial juga berpengaruh pada kehidupan rumah tangga. Ada satu kalimat dari mbak prita ghozie yang saya suka banget, intinya bahwa kita hidup itu sesuai dengan kemampuan finansial kita. Dengan slogannya Live a Beautiful Life!
Kapan kapan saya review bukunya Mbak Prita ya.


Rabu, 20 Mei 2020

London : Sepenggal Cerita Tentang Kembali



London, Akhir Agustus 2019


Akhirnya saya menemukan koper besar saya setelah sekian lama menanti di tempat pengambilan koper Etihad di Bandara Heathrow, London. Hati saya rada deg-degan selama di pesawat, mikirin gimana nanti ke Flat Mita, sahabat saya dimana saya akan tinggal selama 2 hari di London. Biasanya saya selalu memesan tiket langsung ke Glasgow ketika mau “mudik”. Tapi kali ini saya memutuskan untuk memesan tiket ke London, alasan utamanya pasti karena harga tiket PP Jakarta-London lebih murah dibandingkan saya langsung PP Jakarta-Glasgow. Memang perjalanan ini ada sebagian yang menggunakan dana riset saya, karena ada tujuan akademik yang berhubungan dengan riset yakni presentasi di IMAV (International Meeting on Arbovirus) di Glasgow. Tapi saya juga modus memanfaatkan momen itu untuk mengambil cuti selama 2 minggu untuk “kembali” ke UK dan berencana untuk jalan-jalan di beberapa kota. Dan tentunya, ya merogoh kocek sendiri dong dari tabungan. Makanya tetep berhemat termasuk juga untuk tiket pesawatnya. Kedua, saya juga berencana untuk ke Birmingham, ketemu dengan sahabat saya mbak Isnia yang juga ikut konferensi di sana. Jadi okelah ya rute-nya dari London ke Birmingham, baru ke Glasgow.
Masalahnya, saya belum pernah ke London sendirian hihi. Kalau terbang pulang pergi ke Glasgow ya sering selama studi dulu, dan Glasgow itu rasanya sudah seperti rumah. Sudah terbiasa sesampainya bandara Glasgow yang kecil dan tidak terlalu ramai tinggal naik taksi atau ngebis. Sudah familiar dengan tempat dan rute-rutenya. Tapi London? Ish…hati saya agak-agak ciut.
            “Aku selalu males lewat London, ngantri keluar bandaranya panjang banget. Ribet pula,” kata salah satu sahabat saya. Hummm okee..dududu
Dan bener juga sih, karena Heathrow itu bandaranya gede banget jadi memang harus sabar mengantri. Di imigrasi sih mulus-mulus saja, mungkin karena visa saya tipe yang business (academic) ya jadi nggak ditanya macem-macem. Begitu keluar, yang pertama kali saya lakukan itu beli paket data, ganti nomer UK sementara. Soalnya saya butuh banget akses internet untuk cari informasi gimana menuju flatnya Mitha. Memang sih udah diancer-ancerin, naik subway ini, pindah ke jalur itu..habis itu jalan kaki. Awalnya membayangkan udah bikin hati ketar ketir. Karena saya itu nyasaran, trus..tau dong jalur subway-nya London..hadeww runyam. Kalau di Glasgow itu cuman lingkaran doang jalurnya, kalau London mah ampun.Tapi bagaimanapun saya harus mengumpulkan tekad, lha mau gimana lagi?

Begitu saya ganti kartu, minta tolong diaktifkan, dan tersambung ke internet kemudian whatapps aktif, hati saya agak lega. Saya kirimkan pesan ke Mitha kalau saya sudah sampai di Heathrow dan hendak mencari jalan menuju flatnya. Saya pun mengirimkan pesan-pesan pada keluarga dan orang terdekat kalau saya sudah sampai dengan selamat. Saya jadi kepikir sih, orang tua saya (yang sekarang tinggal ibu) tuh ajaib sih. Hampir nggak pernah lho cemas nanya-nanya…nanti kamu gimana? Naik apa…bla bla blaa..enggak!
Yang penting saya komunikasikan saya mau kemana, dimana, dan selalu kasih kabar via whataps ataupun telpon or  videocall. Udah. Saya bersyukur untuk itu sih..
Dengan bertanya ke petugas, saya mencari jalur dari di Bandara Heathrow yang ke arah akses subway/underground dan harus turun naik. Walaupun ada tangga berjalan, tetep aja ya koper segede gaban dan tas punggung bikin tarik nafas panjang-panjang. Tapi ternyata London memberi sambutan hangat, ketika saya tengah kerepotan dengan koper saya ketika di tangga. Dengan serta merta lho, ada orang yang bantu ngangkatin. Saya cuma bengong, dengan gesture bilang  “Udah nggak usah, itu berat”. Tapi dianya selow-selow aja dan bilang “ no problem” sambil senyum.
Hati rasanya menghangat dong kalau dapat kebaikan-kebaikan dari orang nggak kenal kayak gitu. Ya karena orang membantu tanpa syarat, tanpa pretensi apa apa. Dia bantu ya karena pengen bantu aja. Dan ternyata itu terasa banget bikin hati hangat. Dan mungkin juga karena tadinya saya nggak berharap banyak. Sejak dulu sebenarnya dari dulu saya nggak terlalu suka London. Ke London itu mirip rasanya kalau saya ke Jakarta, pengen cepet-cepet balik hihi. Apa yaa…kesan saya London itu kaku, dingin, orang orangnya sibuk nggak ramah. Eh tapi agenda mudik kali ini disambut dengan ramah.
Setelah men-top up kartu Oyster yang masih saya simpen, saya kemudian naik subway sesuai jalur yang sudah disebutkan Mitha. Seingat saya, harus sekali pindah jalur kemudian dari stasiun terdekat dengan flat Mitha harus jalan kaki. Dan Alhamdulillah dong, saya nggak nyasar dan nggak seserem yang saya bayangkan sebelumnya. Dari stasiun (lupa dong apa namanya haha)- saya jalan kaki ke arah flat Mitha. Saya pakai google map jadi lumayan banget menolong untuk sampai ke flat Mitha. Walaupun lumayan juga ya, geret geret koper dan tas punggung…setelah perjalanan dari Purwokerto-Jakarta; Jakarta-Abu Dhabi, dan Abu Dhabi-London. Rasanya badan udah campur aduklah haha..tapi pemandangan di kanan kiri kembali membuat saya mengenang nostalgia. 
Ada Tesco di pinggir jalan, lalu bis-bis berwarna merah khas London yang membuat saya seperti disambut kembali ke tanah Inggris Raya. Udara akhir bulan Agustus juga belum terlalu dingin, dan memang London tidak sedingin Glasgow. Membuat jalan kaki dari stasiun ke arah Flat Mita yang sekitar 20 menitan itu terasa nyaman. Kali ini Mitha tinggal di Zona 1, dulu banget pas saya mengunjunginya Tahun 2017 awal, dia masih tinggal di Zona 3 yang daerahnya agak kurang nyaman. Kali ini daerahnya terasa nyaman banget, dan akhirnya saya sampai dong di Flat Mitha dengan lancar selamat. Berasa prestasi gitu hahah..
Saya tiba di Flat Mitha dan rasanya udah pengen mandiiiiii. Sambil cerita ke sana kemari, dia menawari makan. Ada ayam goreng dan sayur, tentu menu yang istimewa di London. Saya bersyukur bisa punya tempat untuk numpang tinggal dan akan menemani saya jalan jalan selama di London. Thank you, Mitha!
Dari sepenggal cerita ringan ini, saya belajar sih bahwa berbuat baik dengan tulus itu akan terasa lho di hati orang lain. Dan kebaikan itu ternyata bahasa universal yang mampu menyentuh hati semua orang.***


-Cerita perjalanan saya ke UK Agustus-September 2019 lalu yang belum sempat tertulis-



Menepi di Tengah Pandemi

Dapur rumah mint

Suasana di luar jendela lenggang, sepi. Hanya nampak sesekali ada lalu lalang orang yang mau bekerja di sawah sebelah rumah. Seperti beginilah memang suasana sehari-hari di sekitar rumah. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta pada lingkungan daerah rumah ini..suasananya yang damai dan tenang. Sementara ladang jagung dan sawah di sebelah samping rumah itu layaknya bonus pemandangan yang setiap hari dapat saya nikmati dari teras atau sekarang dari balik jendela dapur. Udaranya masih segar dan bersih, apalagi saat membuka jendela pagi hari. Sungguh, ritual pagi yang selalu menyenangkan.
Saat ini dunia masih dilanda pandemi Covid-19 sejak kemunculannya Desember 2019 lalu. Dan sejak pertengahan Maret 2020, kampus sudah menerapkan kebijakan wfh/work from home. Bagi saya, situasi ini sungguh sangat tidak pas karena pada saat yang sama saya sedang renovasi rumah yakni menambah dapur di bagian belakang rumah. Sebelum wfh saya tidak merasa terganggu karena hampir pasti jam 8 pagi saya sudah bersiap ke kampus, hanya ngobrol ngobrol sebentar ketika ada hal yang perlu dibicarakan soal bangunan *yang seringnya saya nggak ngerti juga haha* tapi tetep harus mikir harus bagaimana :D

Kemudian saya seharian di kampus dan baru pulang ke rumah menjelang maghrib saat tukang-tukang sudah pulang. Jadi gangguan kericuhan dan keramaian di rumah sangat minimal. Tapi semenjak wfh, saya struggle untuk menghadapi kondisi bahwa saya harus stay di rumah, tetap harus ngerjain pekerjaan macem macem via online di tengah riuh rendah bunyi bunyian pekerjaan tukang. Setengah bulan belakangan akhirnya saya memilih untuk ke kampus untuk "melarikan diri". Pikir saya, paling tidak kampus merupakan tempat yang aman karena sepi, di ruangan juga sendiri dan sangat minimal berinteraksi dengan orang lain. 
Mulai kemarin tukang sudah mulai libur menjelang lebaran, jadi saya menikmati wfh full di rumah. Yah memang, kondisi pandemi ini banyak menggubah keadaan. Tetap saja, saya rindu untuk beraktivitas normal bekerja seperti biasa, bisa berinterasi dengan rekan rekan kerja serta para sahabat yang menceriakan hari. Saat ini, interaksi dengan orang lain menjadi sangat minimal. Memang masih bisa via whataps, google meet, zoom dan sarana sarana online lainnnya. Namun tetap saja terasa berbeda ya? tapi mau tidak mau, kita harus menerima kondisi seperti ini.
Kangen piknik..jalan jalan? banget. saya biasanya pasti secara rutin mengagendakan jalan jalan walaupun nggak jauh-jauh agar bisa menjaga ritme kewarasaan dan kebahagiaan. Kalau sekarang? memandangi sawah dari jendela dapur, merasakan hembusan angin mengayun-ngayunkan tanaman padi aja sudah bikin hati adem. Tapi kan tetep kangen menjelajah dunia! hehe

Situasi ini mengingatkan saya pas lagi ngejar submission thesis S3 waktu studi di Glasgow. Saya memutuskan untuk bekerja dari rumah, dibandingkan harus pergi ke lab untuk menulis. Saya ingat, waktu itu rekan seflat saya sedang pulang ke negaranya jadi saya praktis sendirian. Saya pernah merasakan nggak ngobrol langsung ketemu sama orang lebih dari semingguan. Karena di Glasgow, nggak setiap hari kita bisa ketemu temen-temen sesama Indonesia. Paling kalau ada acara pengajian, PPI atau ada acara khusus lainnya. Sementara di tahun terakhir, sahabat sahabat dekat sudah semakin sedikit yang masih stay di Glasgow. Jadi rutinitas saya ya nulis, masak...kemudian agak siangan, pergi ke LIDL atau toko daging, sayur sekedar jalan jalan atau membeli bahan bahan makanan. Jadi ngobrolnya ya interaksi pas di kasir doang. Untuk seorang introvert seperti saya, yaaa oke oke saja sih ternyata ketika harus melewati kondisi yang seperti itu. 
Namun kondisi pandemi seperti ini terasa berbeda, karena mobilitas kita juga terbatas. Kalau nggak penting-penting amat, diusahakan tidak kemana mana. Mungkin saatnya untuk menepi sejenak dari hiruk pikuk rutinitas biasanya yang selalu berkejar kejaran. Walaupun pekerjaan di masa wfh ini juga ya terus berkejaran hehe...
Tapi sekarang saya punya waktu untuk memasak mempersiapkan menu berbuka puasa, menata nata rumah lagi. Memang masih belum selesai juga renovasi rumah mint karena ternyata bener kata orang "rumah tuh kalau diturutin nggak ada selesai-selesainya" hehe. Setelah dapur, saya pengen merenovasi teras depan juga biar bisa untuk nongkrong nongkrong dengan nyaman. Tapi so far, saya puas dengan hasilnya..seperti foto di atas itu pojok bar rumah mint setelah renovasi yang tadinya gudang yang jarang sekali dibuka. Sementara dapurnya sudah berfungsi walaupun belum ada kitchen set-nya. Nunggu ada rejeki berikutnya hehe..

Semoga kalian semua tetap sehat ya di tengah pandemi ini.***