Saturday, 3 October 2015

"Take and Give" atau "Give and Give"?







Kalian sering mendengar tentang konsep “take and give” kan? Beberapa waktu lalu saya juga terlibat perbincangan mengenai ini dengan sahabat saya.
Menurutnya hubungan haruslah “take and give” agar seimbang, katanya. Saya yakin banyak juga yang mengiyakan apa pendapatnya. Saya pun dulu mengira demikian.
Take and give menjadi wajar dalam suatu hubungan. Hubungan apa saja, entah dengan pasangan, orang tua, sahabat, dalam pekerjaan ataupun yang lainnya.
Namun seiring waktu, saya belajar..nampaknya “take and give” menjadi semakin terlalu memberatkan. Kemudian saya belajar untuk bergeser ke dalam konsep “Give and Give”
            “Oh iya iya..kamu kan udah nggak butuh “take” lagi ya? “ kilah sahabat saya.
Nggak begitu juga sih, hanya saja..memberi dengan rumusan memberi dan harus menerima nampaknya menjadi semakin berat. Bukahlah lebih ringan bila bergeser menjadi memberi dan memberi, tak perlu tanpa banyak memikirkan tentang harus menerima.
Menurut saya, ada perbedaan fundamental di antara keduanya. Mungkin perbedaan itu terletak pada niat. Niat dalam hati, jarang sekali kita meneliti niat-niat dalam hati kita pada apa yang kita kerjakan, apa yang kita berikan.
Padahal niat, yang tersembunyi itu, seringkali menjadi landasan mengapa kita berbuat sesuatu.
Memberi dengan berharap menerima, bukankah menjadi begitu memberatkan?
“If all your “giving” is about “getting” think how fearful you will become?”
                                                                                                (Susan Jeffers)
Jika kita memberikan sesuatu, dengan harapan dapat menerima..bayangkan betapa diri menjadi dihinggapi banyak kecemasan, banyak pengharapan, dan banyak kekecewaan ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapmu.
Sedangkan memberi dengan sekedar memberi karena kasih, bukankah terasa makin meringankan?
Ini bukan bahasan tentang sok mulia atau sebagainya. Ini soal ketentraman jiwa. Bukankah dengan memberi saja tanpa harap menerima membuat perasaan kita menjadi semakin baik dan semakin bahagia?
Sesederhana itu sebenarnya.
Saya jadi ingat saat mendengarkan sebuah ceramah tahun lalu tentang zakat, tentang memberikan sebagian rizki kita. Baru kala itu saya mendengar sebuah pernyataan yang tak biasa saya dengarkan mengenai ceramah-ceramah zakat. Dulu sering kali saya mendengar ceramah seperti misalnya : Zakat itu bisa melancarkan rejeki, mana ada kau lihat orang zakat atau memberi lalu jadi bangkrut? Atau kalau sedekah sekian bisa lekas kaya, bisa cepat dapat jodoh..bla bla..bla..
Lalu kita memberi ataupun berbuat baik karena ada iming iming belaka? Ah, bukankah sering kalian mendengar kalimat-kalimat seperti di atas itu?
            “Manfaat zakat yang utama itu menentramkan hati,” saya masih ingat kalimat itu diucapkan saat ceramah. Nyes rasanya, kenapa jarang sekali yang menyentuh sisi ini?
Memberikan sesuatu ternyata pada dasarnya membuat diri menjadi semakin bahagia. Semakin ringan, dan semakin tentram.
Memberi dalam hal ini bukan hanya memberikan barang, uang atau materi, tapi juga memberikan waktu, informasi, perhatian, kasih sayang.
            When you give from a place of love, rather than from a place of expectation.
            More usually comes back to us than we could ever have imagined
 ( Susan Jeffers)
Yah, walaupun seringkali dengan memberi kita menerima jauh..jauh lebih banyak daripada apa yang kita berikan, namun rasanya akan lebih meringankan dan menentramkan bila memberi tanpa pengharapan.
            “Nggak fair dong, misal dalam hubungan..rasanya kita tuh kasih..kasih terus. Memberikan banyak kompromi, kasih perhatian..kasih hadiah bla..bla..tapi dianya kayak nggak tau terimakasih. Dianya nggak berubah juga.” Mungkin ada ya yang selintasan berpikir demikian. Atau mengalami hal yang demikian.
Menurut saya sih, memberi itu satu hal..kemudian bagaimana engkau memutuskan perlakuan ataupun keputusan pada orang lain itu sepenuhnya adalah hal yang lain lagi. Ada pertimbangan, ada logika, ada nurani. Dan itu terserah bagaimana pilihan pilihan yang kamu ambil. Hubungan bukan bisnis sih, kalau menurut saya.
Well, kadang mungkin konsep ini terlihat sok baik dan sok polos..padahal sih intinya cuma ingin membuat diri lebih ringan dan lebih tentram.
Saya pun masih belajar, kadang konsep masih hanya dalam tataran konsep, sedangkan praktiknya masih tersuruk suruk.
Namun bukankah yang terpenting kita belajar dan terus berjalan?
Mari.

Glasgow menjelang maghrib di musim gugur. Dengan kadar rindu yang agak terlalu.
3 Okt 2015.

3 comments:

litna ginting said...

Ia semoga bisa belajar konsep give give and give ini krn kalau konsep take and give itu pasti akan menimbulkan kekecewaan, krn jd tdk ikhlas

Siwi Mars said...

ehehe sepertinya begitu mbak, terimakasih sudah mampir baca :)

Muhammad Gilang N.A said...

arikel udah dibaca sampe bawah mba, lumayan masuk nalar juga sih dengan arti give and give , jadi memberi tanpa harus berharap hal yg diberikan balik sama kita , sama hal nya memberik tidak ikhlas ka mba ,

mampir di blog saya juga mba , www.gillz.id

Post a Comment