Selasa, 10 November 2015

Berbagi Tips Tentang Menulis Thesis





Mumpung masih hangat baru selesai menulis thesis, saya ingin berbagi beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi saya kala menyelesaikan thesis. Oh ya, thesis adalah istilah laporan akhir untuk jenjang S3 di UK, sedangkan kalau di Indonesia thesis itu untuk jenjang magister (di Indonesia laporan untuk S3 disebut disertasi). Bukan karena saya merasa ahli nulis trus bagi-bagi tips, enggaklah. Niat saya hanya ingin membagikan pengalaman, siapa tau ada yang mampir ke blog ini yang tengah atau akan menulis thesis S3nya. Karena masa-masa thesis writing juga masa yang tidak mudah. Banyak lho mahasiswa yang stress karena susah progress, bahkan ada layanan konseling tersendiri yang disediakan di kampus kalau ada mahasiswa yang ingin curhat mengenai problematika selama thesis writing.

Untuk jenjang pendidikan S3 di UK, biasanya untuk yang based lab-work (atau terutamanya bidang sciences) 3 tahun diperuntukan untuk penelitian, kemudian 1 tahun untuk thesis writing. Sedangkan untuk ilmu-ilmu sosial, jadwalnya lebih fleksibel bisa dimulai kapan saja. Kenapa? Soalnya kalau udah capek lab work agak susah meluangkan waktu untuk nulis. Jadi memang biasanya supervisor biasanya mematok waktu 3 tahun untuk lab work, kemudian stop dan setahun berikutnya diperuntukan untuk menulis thesisnya. Kebayang kan kalau alokasi waktu normalnya untuk nulis dikasih setahun, it must be something serious!
Tapi untuk kasus saya, saya lab work 3,5 tahun karena sampel saya baru bisa dibawa ke Glasgow di penghujung tahun ke 3, jadi saya masih harus kerja lab untuk analisis sampel yang dikirim dari Indonesia. Jadi untuk thesis writing yang free hanya 6 bulan. Dan berapa bulan saya benar-benar mengerjakan thesis saya? Ahahah 3 bulan! Itupun yang benar-benar serius cuma 2 bulan yakni bulan Agustus dan bulan september. Tengoklah postingan blog saya bulan Juli, saya masih tiap weekend jualan di Edinburgh selama bulan ramadan karena masih harus mikir untuk biaya hidup. Dan kalau capek begitu produktivitas saya nulis thesis anjlok eheh. Barulah mulai awal bulan Agustus saya fokus lagi. Walaupun saat itu saya sendiri pun nggak begitu yakin, bisa selesai nggak nih cuma tinggal 2 bulan karena deadline submit thesis saya di akhir Bulan September. Kala itu saya sudah selesai 2 chapter, dan masih tersisa 4 chapter lagi yang harus ditulis.

Makanya teman lab saya sesama mahasiswa PhD, bertanya : “ How did you manage to finish all of your chapters in a very short time?”
Sementara dia tidak bisa menyelesaikan on time dan mengajukan perpanjangan deadline submit, dan dari kampus diberikan tambahan waktu 2 bulan yakni sampai akhir November ini untuk submit. 
Nah, saya ingin berbagi beberapa tips semoga bisa bermanfaat bagi yang akan atau sedang menulis thesis.

1. Benar-benar menulislah pada saatnya harus nulis!
Ini sih tips utama, soalnya dulu-dulu saat deadline masih jauh, iya sih memang berada di depan komputer dengan “niat” mau nulis thesis, tapi nyatanya in end of the day...progressnya nggak banyak, bahkan kadang-kadang nggak progress. Bagi yang sedang nulis skripsi atau disertasi S2 mungkin tips ini juga berguna. Karena pastilah sering mengalami hal ini. Niatnya pengen ngerjain, tapi nggak fokus..nggak konsentrasi, hasilnya nggak maksimal. Bahkan ini bisa memicu stress, soalnya kita merasa menghabiskan waktu yang lama, tapi ternyata progressnya nggak ada (minimal). Kemudian kualitas kerjaan/tulisan kita saat kita mengerjakannya dengan fokus dan penuh konsentrasi dibandingkan dengan fokus asal-asalan, it’s totally different!


Saya bahkan ketika baca ulang 2 bab yang saya tulis sebelumnya, sempet berpikir..ya ampun, ini tulisan apaaan..dan alhasil, saya banyak sekali mengubah 2 bab yang saya tulis sebelumnya. Jadi intinya, fokus dan konsentrasilah pada saat kamu nulis. Dan berita baiknya, dengan begitu kamu nggak butuh waktu yang lama untuk bekerja. Serius!
Dalam satu hari ternyata kalau diakumulasi waktu saya “benar-benar” menulis nggak begitu lama, tapi progressnya sangat signifikan. Karena pada saat saya nulis, keliatan hasilnya dan produktif. Bahkan saya nggak ada acara lembur-lembur nulis, karena saya manfaatkan maksimal untuk istirahat. Kenapa? Otak saya nggak berfungsi dengan baik kalau capek. Nulis itu menghabiskan energi yang banyak, karena otak difungsikan untuk berpikir. Makanya kalau nulis itu bawaannya lapaaaar mulu. Makanya selama nulis thesis, saya pastikan asupan makan cukup dan juga cukup istirahatnya. Dengan begitu kerja otak maksimal pada saat mengerjakan. Dengan metode seperti ini, ternyata progress nulis saya sangat cepat. Dan bisa menyelesaikan serta submit bahkan 5 hari sebelum deadline.

Saya jadi berpikir, mungkin benar juga negara-negara yang mulai mengaplikasikan jam kerja yang diperpendek. Karena memang ada batasan waktu tubuh bisa bekerja dengan maksimal. Sayangnya, di Indonesia (dan juga di negara-negara lain, jepang misalnya) masih ada anggapan kalau bekerja extra time itu berbanding lurus dengan produktivitas karyawan/pekerja yang lebih baik. Kalau saya sih lebih memilih bekerja secara efisien, *artinya saya jadi masih punya waktu untuk me time, jalan-jalan, nulis-nulis di blog, masak ahaha.

2. Ciptakan suasana yang kondusif untuk menulis
Nulis juga butuh suasana yang kondusif untuk bisa memberikan dukungan kondisi kerja yang maksimal. Nah, kalau soal ini setiap orang punya preferensi masing-masing. Kalau saya misalnya memutuskan untuk off dari kampus (nggak masuk kampus/lab lagi), hanya sesekali ke kampus kalau ada kepentingan saja. Karena saya lebih nyaman nulis di flat, karena bisa fleksibel istirahatnya dan juga lebih fokus. Tentu saja ini per orang beda-beda, ada yang lebih suka nulis di perpus, di kampus, atau di cafe. Terserah, yang penting ciptakan suasana yang kondusif agar kamu bisa konsentrasi dengan maksimal.

3. Take a break
Berikan tubuh dan otak istirahat yang cukup. Soalnya otak adalah amunisi utama untuk menulis. Kalau otak lelah karena terlalu diforsir, hasilnya juga nggak maksimal. Tetaplah berikan waktu untuk istirahat yang cukup. Saya masih tetep jalan-jalan di saat weekend misalnya untuk refreshing, mengambil jeda sejenak biar seger lagi otak. Sehingga esoknya juga bisa fresh lagi untuk bekerja/nulis.

Tetep dong acara jalan-jalan :)

 4. Don’t panic -- Don’t stress too much!
 Ini berhubungan dengan poin di atas sih. Kalau otak stress, nggak bisa jalan. Stress ini maksudnya stress yang berlebihan. Karena menurut saya “tekanan/stress” ini perlu juga untuk membuat otak bekerja. Rasanya ada adrenalin yang terpacu kalau ada target-target, daripada dalam kondisi terlalu santai. Tapi juga jangan stress berlebihan, kacau jadinya. Makanya manajemen stress itu perlu banget untuk menjaga mood tetep baik untuk nulis. Saya juga mengalami saat stressnya kebanyakan, pernah ada kala saat banyak sekali masalah yang muncul bertubi-tubi sehingga benar-benar membuat saya nggak bisa konsentrasi menulis. 


4. Deadline is important!
Nah ini dia, deadline itu penting untuk memacu kita. Deadline itu kasian sih, kadang-kadang kita benci sama deadline, tapi padahal kita juga sadar kalau deadline itu ternyata penting banget ahaha. Coba kalau kita kerja tanpa deadline, jadinya santai-santai kan. Otak juga jadi santai kerjanya kalau enggak ada deadline. Coba latih bikin deadline kecil-kecil sebelum “the real deadline”. Bikin deadline sendiri kapan kamu harus selesai nulis Bab X, atau kapan kamu serahkan revisi Bab Y. Dengan begitu kamu lebih bisa terpacu untuk menyelesaikan. Dan deadline/target-target kecil ini terasa lebih ringan untuk diselesaikan dibandingkan harus terpaku dengan dealine akhir. Thesis yang saya submit akhir bulan september itu setelah selesai ditulis per bab, kemudian diserahkan ke dua orang post doc (Mel dan Steph), kemudian setelah memperbaiki koreksian dari mereka berdua, baru bisa maju diserahkan ke supervisor untuk dikoreksi, kemudian melakukan revisi lagi. Nah, rentang waktu itu harus diperhitungkan. Oleh karena itu planning, eksekusi dan awareness pada deadline itu sangat penting sih menurut saya. Saat itu saya berpikirnya, saya harus selesai karena nggak mau mikul beban berkepanjangan. Memang sih bisa saja ngajuin perpanjangan deadline seperti sahabat saya itu, tapi it means stressnya berkepanjangan lagi. Karena setelah submit, saya masih harus menunggu dan menghadapi viva. Artinya masih ada beban lagi, makanya saya bersikeras untuk bisa selesai nulis thesis tepat waktu.

Dan alhamdulillah, sekarang bisa selesai semuanya dengan baik. Tinggal menunggu daftar revisian setelah viva yang akan dikirim, kemudian bisa melangkah untuk mengerjakan hal-hal lain. Karena masih harus mengerjakan revisian paper, dan melanjutkan nulis paper kedua plus sudah ada janjian meeting untuk sebuah project lanjutan. Alhamdulillah sudah ada project lanjutan yang sudah diawali dikerjakan dan sepertinya akan lanjut terus kolaborasi dengan orang-orang Glasgow dan Edinburgh. Siapa tau yah itu bisa membuat saya sesekali mengunjungi Glasgow lagi ehehe.

Demikian sedikit tips dari saya, semoga bermanfaat. Eits, dan yang terakhir ini juga penting. Semangat! Ini sih juga kunci dari semua aktivitas..dengan semangat kamu bisa menghadapi dan menyelesaikan apa saja.
Salam semangat dari Glasgow!

10 Nomber 2015. Glasgow yang diguyur hujan sedari pagi
 

Senin, 09 November 2015

PhD : Akhir Sebuah Perjalanan

Usai sidang viva bersama anggota lab dan examiner



Akhirnya, perjalanan panjang menempuh studi doktoral ini usai juga. Memang belum benar-benar usai, karena tetap harus tetap menyelesaikan revisi walaupun “minor revision” untuk benar-benar officially mendapatkan PhD. Namun kalimat di akhir sidang viva jumat tanggal 6 November lalu, yang berkata,
            “ We are happy with your thesis and performance on your viva, and we are glad to announce you that you deserve for PhD”,
Itu sudah membuat saya lega. Akhirnya, PhD!

Jumat lalu, hari yang bersejarah untuk saya. Langit Glasgow dinaungi hujan semenjak pagi. Setelah semalaman usaha saya untuk tidur hanya berhasil sedikit, paginya saya bersiap untuk berangkat ke CVR (kampus saya) untuk menghadapi viva jam 11.30 am. Saat itu rasanya sudah pasrah, setelah otak sudah dicecar oleh paper, review dan hasil browsing-an mengenai bidang yang saya teliti untuk mempersiapkan viva. Sebelumnya, saya pun sudah menjalani 3 kali mock viva untuk melatih bagaimana suasana viva dan membantu mempersiapkan materi. Dua mock viva sebelumnya bisa terlalui dengan lumayan baik, namun mock viva terakhir dengan 2 mahasiswa post doc (Steph dan Mel) serta supervisor saya, Alain cukup membuat saya kesulitan. Dan ternyata setelah selesai real viva, saya akhirnya tahu memang situasi itu sengaja diciptakan biar si mahasiswa serius dan bersungguh sungguh mempersiapkan viva. Ah, baiklah..memang setelah itu saya jadi makin serius, setiap hari kerjaannya baca paper demi mengejar pengetahuan-pengetahuan yang belum saya kuasai.

Ternyata viva voce ini bukan hanya menguji tentang hal-hal yang dilakukan selama studi, namun juga menguji fondasi dan keluasan pengetahuan mengenai bidang yang diteliti. Oleh karena itu, mock viva terakhir sering ditanya tentang current issue dengan cakupan materi yang lebih luas. Nah, di situlah saya kelabakan. Ketahuan saya kurang membaca paper paper yang lebih “broad” dan juga materi-materi lain yang berhubungan dengan bidang yang saya teliti. Beberapa hari menjelang viva, saya fokuskan untuk mengejar hal tersebut. Viva di UK bersifat sidang tertutup, hanya dihadiri 2 orang examiner (satu external examiner dan satu internal examiner) dan 1 convenor (semacam pengawas untuk memastikan semua berjalan dengan fair).  External examiner saya adalah Anna Bella Failloux, ketua department Virologi bagian Arboviruses and Insect vetors di Institut of Pasteur, Paris, sementara internal examiner saya Ben Brennan dari University of Glasgow.

Menurut informasi dari teman post doc, yang memegang kunci penting di viva itu “external examiner”, jadi kita harus menaklukan si external examiner yang memang biasanya lebih gencar bertanya. Saya sebelumnya sudah dikasih tips untuk “ngepoin” si external examiner dari Paris itu dengan membaca semua publikasinya. Dan beberapa hari sebelum viva, saya mencoba menjejalkan paper-paper si Anna bella ke otak saya. Piuhhh hari-hari menjelang viva saya rasakan memang saat saat yang berat. Rasanya pressure semakin meningkat.

            Tapi satu hal yang tak saya duga-duga adalah dukungan dan doa dari banyaaak sekali pihak yang datang pada saya. Ih, rasanya saya terharu. Banyak sekali yang mengirimkan japri whataps, bbm, message di inbox facebook untuk menyemangati dan mendoakan saya. Saya sempet ngerasa “kok mereka sebegitunya”—karena nggak nyangka banget mendapat perhatian begitu rupa. Pagi menjelang berangkat pun, beberapa sahabat dan orang orang terdekat mengirimkan pesan semangat dan doa. Tentu saja memberikan kekuatan untuk saya dalam menghadapi “peperangan” terakhir dalam studi saya ini.

Di awal jalannya viva, saya masih berharap untuk disodori pertanyaan “renyah” untuk disantap. Karena katanya beberapa rekan yang sudah melalui viva dan menurut beberapa website yang menulis persiapan viva, si examiner akan memberikan pertanyaan awalan yang relatif mudah seperti “ bagaimana awal terpikirnya ide untuk S3 ini?” dan pertanyaan semacam itu. Tapi ahik, ternyata saya langsung ditodong pertanyaan sejenis ini,
            “ Belakangan ini muncul serotipe virus baru yakni Dengue-5, apa yang membedakan serotipe ini dengan serotipe sebelumnya, dan apa implikasinya pada penyebaran penyakit demam berdarah?” tanya si Anna bella.
Phew, langsung ditodong pertanyaan yang bikin mikir. Dan setiap jawaban, dicecar terus merembet ke pertanyaan berikutnya.
Apa kira-kira implikasinya pada perkembangan vaksin dengue? Sampai mana yang kamu ketahui tentang pembuatan vaksin dengue ?
Ada di thesis saya? Enggak. Menyangkut apa yang saya kerjakan? Enggak. Bahkan merembet ke pertanyaan penyakit tular vektor secara umum. Memang sepertinya yang dibilang rekan post doc di lab, si penguji akan menguji sama mana limit pengetahuan kamu mengenai bidang yang kamu teliti. Dan saya pun berupaya untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dengan sebaik yang saya bisa. Beberapa pertanyaan yang sama sekali nggak pernah saya baca dan nggak tahu informasinya, saya jawab terus terang tidak tahu. Dan pernyataan untuk sesi Introduction-pun menghabiskan waktu selama 2 jam. Bisa bayangin dicecar pertanyaan selama 2 jam? Itu baru introduction (awalan).
            “Ayo siwi, ini terakhir kalinya, kamu harus bisa lewati ini,” itu sih yang saya hembus hembuskan ke pikiran agar tetap fokus, tetap semangat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan.
Setelah 2 jam-an, ada break makan siang. Dan tentu saja makan siang ala sini berupa sandwich dan buah. Biasanya saya males makan sandwich, tapi saat itu saya makan karena sadar saya butuh energi untuk melanjutkan perjuangan,
            “ Ayo silahkan makan, kita akan stay sampai jam 6 lho,” kata Anna bella bercanda. Beh, sampai jam 6? Tepaaar seteparnya dong.

Masalahnya tidak ada limit maksimal sampai berapa jam viva berlangsung, jadi sampai si examiner benar benar yakin telah menguji si kandidat doktor dengan menyeluruh. Itu yang bikin mules hahah. Untungnya kedua examiner tidak tergolong penguji yang “menyeramkan”, artinya bukan tipikal orang yang bertanya dengan nada intimidatif. Kalau galak-galak, bisa bubrah otak saya jadi kempes nggak bisa mikir heheh. Saat break makan siang, suasana terasa lebih santai, ngobrolnya juga informal. Saya juga merasa agak sedikit lega, karena setidaknya sampai break makan siang saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Walaupun ada beberapa pertanyaan nggak setelah dicecar ujungnya, saya nggak begitu mengetahui secara mendetail. Tapi feeling saya mengatakan masih wajar.

            “ Si penguji itu bakal menguji sampai limit mana pengetahuan kamu, kalau kamu nggak tahu bilang aja jujur nggak tau. Kan memang nggak mungkin tahu semua hal kan,” begitu sih wejangan Mel dan Steph, dua orang post doc yang ditugasi supervisor untuk membantu saya selama studi memang sangat baik dan helpfull.

Setelah break makan siang, viva dilanjutkan kembali dan alhamdulillah suasananya sudah lebih santai. Ternyata juga dari bab ke bab tidak terlalu mendetail ditanya, nampaknya mereka puas dengan apa yang telah ditulis dan jawaban-jawaban yang diberikan. Kekhawatiran saya akan bab yang tidak begitu saya kuasai karena menyangkut Mathematic modelling, serta bab terakhir tentang RNA interference ternyata juga bisa dijawab dengan mulus. Saya bela-belain PP ke Edinburgh demi konsultasi bab modelling ke Thibaud, kolaborator saya itu. Untungnya semua yang bekerjasama baik-baik semua, mau menyediakan waktunya untuk memberikan konsultasi persiapan viva saya.

Dan akhirnya setelah 3,5 jam viva, kedua examiner selesai dengan pengujiannya, kemudian Convenor mempersilahkan saya keluar, dan akan dipanggil kembali saat sudah ada keputusan. Dan begitu saya keluar, ternyata Alain, supervisor saya sudah menunggu di depan ruangan. Mukanya cemas hihih,
            “ How is it going? Bla bla blaa...
Saya sih bilang baik-baik saja dan kayaknya lumayan bisa menjawab pertanyaan. Kemudian berangsur muka cemas di wajah supervisor saya untuk berubah lega. Sekitar 5-10 menitan saya dipanggil kembali ke ruangan. Dan diumumnya bahwa penguji happy dengan thesis dan performa saya di ujian sidang viva ini, dan berhak menyandang gelar PhD, ahaaaay!! Done! Batin saya.

Usai viva, saya disambut dengan perayaan sederhana oleh anggota lab. Senang sekali dengan sambutan mereka yang meriah. Saya memang tidak begitu dekat dengan mereka semua, namun selama ini hubungan dengan mereka baik-baik saja. Alain, memberikan speech sebentar kemudian saya juga mengucapkan terimakasih atas bantuan mereka semua. Kedua examiner juga bergabung dalam perayaan sederhana tersebut. Di sela-selanya saya menyempatkan diri untuk menelpon si cinta untuk mengabari kelulusan saya dan memberitahu keluarga. 

Dekorasi buatan teman-teman lab

Bunga dan ucapan selamat dari teman-teman lab
 
Rasanya lega banget.  Kalau soal gelar doktor (PhD) yang sudah tersemat sih saya masih merasa biasa-biasa saja. Malah jadi pengen lebih banyak belajar lagi dan ingin segera bisa memberikan manfaat dari sedikit ilmu yang saya punya. Banyak hutang-hutang pengabdian yang harus saya bayar pada negara dan sesama.

Di akhir perjalanan studi ini, saya ingin mengucapkan terimakasih pada banyak sekali pihak. Saya menyadari bahwa penelitian dan studi saya melibatkan banyak sekali orang, pihak yang membantu penyelesaian studi saya. Dan juga banyak orang yang memberikan support dan doa luar biasa yang telah memberikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan perjalanan yang tidak mudah ini. PhD is not a joke! Banyak masa masa sulit, stress, tantangan dan kesulitan tapi juga banyak sekali pembelajaran dan warna warna indah di sepanjang jalan. Saya akui, ini jenjang pendidikan yang paling sulit saya selesaikan, dibandingkan jenjang pendidikan sebelumnya. Saya benar benar merasakan struggle-nya menghadapi masa-masa PhD ini.  Menyelesaikan perjalanan panjang ini rasanya sangat luar biasa.

Akhir perjalanan adalah saat untuk memulai menapaki perjalanan selanjutnya. Mari!

Glasgow, di penghujung musim gugur. 

 

Jumat, 23 Oktober 2015

Menjelang Viva

Musim gugur tahun lalu



Glasgow sudah memasuki musim gugur, salah satu musim favorit saya tentu saja karena pemandangan dimana-mana indah sekali dengan warna dedaunan yang berubah warnanya menjadi merah kekuningan itu. Berasa romantis gitu dimana-mana. Daun-daun berguguran, dan suhu udara sejak minggu lalupun sudah turun drastis.

Hari hari menjelang viva, saya pun mencoba fokus untuk belajar..heuu berasanya banyak banget yang nggak ngerti. Viva itu semacam ujian doktoral kalau di Indonesia. Tahap terakhir untuk meraih gelas doktor (PhD). Tadinya otak saya masih santai-santai, masih nonton film di youtube, nulis nulis yang nggak ilmiah, tapi tiba-tiba seminggu lalu datanglah email ke inbox saya yang mengabarkan bahwa akan ada 3 kali mock viva (semacam latihan viva), sekali dengan Mel dan Steph (dua orang Postdoc), kemudian dengan Alain (supervisor saya) dan kemudian dengan mereka bertiga. Jreng! Sejak saat itu otak saya mulai bekerja lagi dengan normal ahaha..memang kadang-kadang butuh digituin, biar bangun dan nggak santai-santaian.

Senin lalu saya sudah melewati mock viva tahap 1, minggu depan ada mock viva dengan supervisor saya dan minggu depannya lagi dengan mereka bertiga, beberapa hari sebelum viva saya yang sebenarnya. Haihh berasa serem serem gimana gitu sebenarnya. Tapi so far, baik baik saja. Cuma harus banyak belajar dan fokus, biar otaknya tetep jalan.
Dan mungkin juga sembari diselingi jalan-jalan #halaaah..kan belum foto-fotoan di antara guguran daun musim gugur.

Demikian sekilas cerita, belum bisa nulis-nulis yang macem-macem lagi. Mau pamit belajar dulu untuk persiapan viva, nanti setelah viva InsyaAllah bisa nulis-nulis nggak jelas yang lebih banyak lagi.

Salam dari romantisme musim gugurnya Glasgow
23 Oct 2015
 

Minggu, 11 Oktober 2015

Aisha, Seberapa Jauh Kita Kenal Dia?




Aisha, nama itu semenjak sekitar dua bulan lalu begitu menarik perhatian saya. Salah satu sahabat baik saya bercerita kalau ia memesan kindle buku “ Aisha, the wife, the companion, the scholar” dari amazon dan sedang merampungkan membacainya. Dari ceritanya itulah saya jadi tertarik untuk membacai tulisan tentang Aisha dari berbagai sumber. Hik malu memang, pengetahuan saya tentang salah satu isteri Rasullah SAW ini sangatlah sedikit. Seringkali yang sering terlintas selama ini, ya hanya Aisha-isteri Rasullah SAW yang dinikahi dalam usia yang sangat muda. Kemudian sedikit cerita tentang tuduhan perselingkuhan Aisha yang diceritakan dalam An-Nur. Lainnya nggak banyak ngerti hahaha..hiks.. ya perempuan muda yang dinikahi dalam usia yang belum dewasa memangnya bisa apa sih? Kasarnya begitu ya yang sempat terlintas..ya ampuuun parah ahah.

Nah..nah, ternyata setelah membaca tulisan-tulisan mengenai Aisha, saya gantian malah jatuh cinta berat. Keren banget ini perempuan, batin saya. Ternyata si perempuan muda ini memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah islam dan juga pergerakan perempuan dalam islam. Dan apalagi kisah cintanya sama Rasullah SAW ya yang sering kali bikin lumer ehehe. Karena di antara isteri-isteri Rasulullah SAW, selain Khadija, Aisha-lah isteri yang paling dicintai dan disayangi Muhammad SAW. Dari tulisan-tulisan yang saya bacai jelas sekali adanya equal relationship dalam pernikahan Rasulullah SAW dan Aisha. Padahal rentang usia mereka itu jauh banget ya, karena mereka menikah saat Rasul berusia 55 tahun, sedangkan usia Aisha sekitar 7-10 tahun, karena banyak sekali sumber yang menyebut usia yang berbeda-beda. Kenapa selama ini yang ditonjolkan adalah cerita pernikahan yang sangat muda ini ya? jadi selintas mengesankan kalau islam mendukung pernikahan di bawah umur. Padahal tidak demikian, bahkan Aisha tetap tinggal bersama orang tuanya, Abu Bakar dan Umm Ruman selama beberapa tahun sebelum akhirnya hidup bersama Rasullullah SAW. Konon pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisha ini dimaksudkan untuk mempererat hubungannya dengan Abu Bakar yang bermakna politis, dan secara budaya arab hal itu sering dilakukan dengan pernikahan.

“ In mecca, where belief, self sacrifice and bravery were so necessary, He gave him Khadija; In Medica, where the requirement of knowledge, intellegence and reasoning were felt, He bestowed him, Aisha. ( Aisha, the wife, the companion, the scholar)

Yang paling menarik dari sosok Aisha adalah kombinasi antara kecantikan, kecerdasan dan kematanganya walau di usia muda. Seperti disebutkan di beberapa tulisan bahwa Muhammad and Aisha had a strong intellectual relationship. Aisha merupakan salah satu dari 3 isteri nabi (dua lainnya yakni Hafsa dan Umm Salama) yang hafal Al Qur’an. Karena intelektualitasnya itulah Aisha dijuluki “Mother of Believer”. Ia juga menarasikan 2210 hadits yang tidak hanya mengenai kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW, tapi juga hal-hal seperti warisan, ziarah dll. Beberapa sumber juga menyebutkan kalau ia juga mempelajari beberapa bidang keilmuan seperti kedokteran dan kesusastraan. Whoah, mengagumkan sekali sih menurut saya.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, Aisha juga digambarkan manusiawi seperti pernah cemburu terhadap isteri-isteri nabi yang lain, mendebat nabi kala ada hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Kalau kisah tentang romantismenya dengan Nabi banyak bertebaran dimana-mana. Saya sih bayanginnya kalau mereka berdua tuh saling cinta banget, dan Nabi Muhammad SAW sepertinya can’t help fallin in love with her. Panggilan kesayangan beliau kepada Aisha pun unyu banget : “Aisy”. Kalau mau belajar menjaga keromantisan rumah tangga, sepertinya kisah Nabi Muhammad-Aisha ini harus banget dijadikan rujukan *kode ahah.  Ya soalnya ada banyak kisah-kisah yang membumi banget seperti kala Rasullullah SAW lomba lari sama Aisha, kala menggendong Aisha pas mau nonton pertunjukan, ataupun hal-hal yang sederhana seperti menyisirkan rambut atau mengoleskan krim ke tubuh Rasulullah. Dan pada akhirnya pun Rasulullah SAW di akhir hayatnya saat sakit-sakitan pun meminta ijin pada isteri-isterinya yang lain untuk dia bisa beristirahat di rumah Aisha, dirawat dan pada akhirnya meninggal di pangkauan Aisha. Aih, indah banget sih kisah cinta beliau berdua.

Sepeninggal Rasullullah SAW, peran Aisha sangat terasa terutama sebagai rujukan utama tentang praktik ibadah Nabi, dan banyak mengungkapkan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW. Coba deh baca-baca tulisan yang menyebutkan praktik-praktik ibadah Nabi Muhammad SAW hampir sebagian besar dikisahkan oleh Aisha. Kenapa bukan oleh isteri-isteri lainnya coba? Mungkin inilah keistimewaan Aisha dengan intelektualitas dan memorinya yang kuat.  Salah satu kontribusi intelektualitasnya yakni menjadikan teks verbal islam menjadi bentuk tertulis yang menjadi sejarah resmi islam. Beberapa kisah juga menyebutkan peranan politiknya pada tiga kekhalifahan yakni Abu Bakar, Umar dan Uthman. Ah, perempuan ini ternyata sangat memikat hati. Dan akhirnya saya pesan buku “Aisha, the wife, the companion, the scholar” via amazon dan tengah menunggu kedatangan buku itu di tangan saya. Habis penasaran berat dan pengen tau lebih banyak aja sih. Nanti kalau bukunya sudah datang dan sudah saya baca, InsyaAllah saya bagikan reviewnya. Semoga semakin banyak perempuan-perempuan yang terpesona untuk meneladani keistimewaan perempuan kesayangan Nabi Muhammad SAW, Aisha. 

 10 October 2015. Glasgow menjelang tengah malam