Friday, 17 July 2009

Maukah hanya jadi orang yang kerdil?


Pagi hari saat mentari belum lagi nampak di Jogya, dari ruang duduk kamar 293 Sudirman Room hotel Inna Garuda aku menikmati pagi dengan secangkir kopi plus creamer yang baru saja kuseduh. Uhmm..beberapa hari ini akan menikmati fasilitas yang disediakan negara yang sungguh begitu nyaman, dan sebagai imbal baliknya semoga ilmu yang kuperoleh selama pelatihan ini bisa bermanfaat, minimal bisa kutularkan pada para mahasiswaku.

Seperti ucapan yang masih terngiang dari bapak Mien Rifai kemaren sore di sesi pertama

Saya teringat ucapan guru besar saya dulu, seorang pendidik dikatakan berhasil bila mampu mendidik lima orang yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Namun sampai setua ini saya merasa gagal. Sampai saat ini saya baru bisa mendidik tiga orang yang diakui reputasinya di dunia. Saya bangga sebagai pendidiknya karena mereka diakui, bermanfaat dan dibutuhkan di mana-mana, mendunia, disitulah terletak kebanggaan seorang pendidik

Lalu ada penggalan kalimat yang juga menyentuh

” Bukankah selama ini kita dibesarkan untuk menjadi orang yang kerdil? Kadang kita dididik untuk tidak lebih besar dari pendidik kita?Kita dididik untuk mempunyai pandangan yang sempit

Subhanallah bapak ini...aku tergetar mendengarnya. Jarang kudengar kata-kata inspiratif dari seorang pendidik dengan dedikasi yang begitu tinggi seperti beliau. Raganya sudah renta termakan usia, perkiraanku beliau sudah memasuki umur 70 tahun, sudah pensiun dari pekerjaan resminya. Tapi lihatlah beliau, walaupun dengan suara yang agak cadel karena giginya yang sudah tak lagi utuh itu dengan begitu semangat menyampaikan materinya. Beliau masih sangat dibutuhkan negara dengan menjadi pembicara DIKTI dimana-mana, masih menjadi tim akreditasi jurnal nasional, masih meneliti di laboratoriumnya, dan masih menghasilkan jurnal ilmiah internasional..ckckck..salut berat untuk bapak Rifai..Angkat topi buat beliau.

Seorang peneliti dikatakan masih hidup bila ia masih melakukan penelitian, masih terus mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya. Untuk apa menjadi guru besar dengan gelar serentet tapi ia telah berhenti melakukan penelitian. Kalau seperti itu sudah dinamakan ”mati”ilmunya, sudah ”masuk kotak”!

Dan kalimat itu keluar dari seorang ilmuwan dengan usia yang sudah tak lagi muda. Benar-benar sebuah pemikiran yang progresif. Banyak lagi kalimat pencerahan beliau yang membuatku berpikir dan merenung. Beliau mengemukakan esensi pekerjaan sebagai seorang peneliti, pendidik..jauh dari embel-embel naik pangkat, jabatan, perolehan angka kredit dan lain sebagainya. Bukan semua itu tidak penting, tapi beliau mengemukakan sumber esensi, motivasi terdalam bagi seorang peneliti, dan dengan itu atribut-atribut seperti tunjangan fungsional, reward, dan sebagainya adalah imbal balik dari kinerja kita. I totally agree with that!!!

Kita bekerja membutuhkan jauh lebih dari sebuah gaji yang tinggi, tunjangan yang terus naik. Ada sesuatu di balik suatu pekerjaan yang membawakan artian hidup tentang makna dan misi kehidupan yang harus dijalankan. Kepuasan batin yang ditandai dengan menyatunya kita dalam pekerjaan, merasakan ada daya hidup seiring nafas pekerjaan kita. Hal itulah sebenarnya yang masih kucari.

Dari beliau aku belajar banyak, menengok masih banyaknya lubang-lubang jalan pemikiranku yang harus ditambal. Apa yang kulihat dari bapak Mien Rifai berdasarkan apa yang beliau sampaikan adalah bahwa beliau telah mengerti dan menjalani dengan sangat baik perannya tentang untuk apa seorang manusia dilahirkan di dunia.

Seorang manusia dilahirkan, dibesarkan, menuntut ilmu, bekerja, menikah, punya anak, berkarya...untuk apa?apa yang kau mau?apa esensi dari itu semua?

Pernahkah kau tanyakan itu pada dirimu sendiri?. Aku sungguh ingin melihat manusia dalam diriku. Manusia yang bukan hanya ragawi, tanpa jiwa manusianya yang utuh.

Ah, sesi pertama yang sungguh inspiratif dan merupakan topik yang tepat mengawali pelatihan ini karena tanpa akar, sumber dari dalam, pelatihan penulisan artikel ilmiah nasional hanya akan berjalan normatif.

Andai saja banyak orang Indonesia yang seperti bapak ini uhmm..sungguh bangsa ini masih sangat membutuhkan orang-orang seperti beliau.

Saya bisa menerbitkan tulisan saya di jurnal ilmiah dari skripsi di S0 saya, ke jurnal ilmiah yang paling sulit ditembus di Inggris. Andapun bisa, kalau anda mau..masalahnya apa anda mau?. Otak orang coklat kita ini bisa saja menandingi orang-orang bule sana. Dengan menunjuk-nunjuk kepalanya dengan tangannya yang kurus dan hampir keriput, beliau mengatakan hal itu dengan begitu bersemangat.

Wuelah salut..salut..bagaimana tidak?, beliau menamatkan pendidikan S3nya pada umur 28 tahun dengan pengalaman malang melintang di dunia. Beuhhh..hebat euuy .

”Kalimat andapun bisa, kalau anda mau” ini mungkin berkali-kali beliau sampaikan, dan tentu saja benar adanya.

Bangsa Indonesia ini bangsa yang banyak Wish (keinginan), tapi nggak punya Will (kemauan). Jadi bangsa kita menjadi bangsa yang kerdil. Seperti unta yang menundukkan kepalanya kalau menjumpai masalah, dikiranya dengan begitu masalah akan selesai

Weh lah..mungkin begitulah adanya realitasnya sekarang ini. PR besar bagi bangsa ini, bagi para pendidik negeri ini. Dan rasanya terbersit keinginan untuk seperjuangan dengan beliau! Semangattt...

Baiklah, bakpia pathuk yang terhidang sudah mengganjal perutku sebelum sarapan pagi nanti. Hari ini pelatihan juga sampai jam 9 malam lagi (wah berniat rehat kok malahan di sini jadwal full ya ehehe..tapi gpp lah), walaupun aku peserta pelatihan yang terkencur kedua (hehe..ada satu lagi yang lebih junior) di antara peserta-peserta lain yang sudah berpengalaman tapi enjoy aja, saatnya ngangsu kawruh agar tidak menjadi orang dengan pemikiran yang kerdil. Semoga!

05.45 a.m Sudirman Room 293

Source of picture : http://sealll.eu/images/magnify.jpg

1 comments:

septarius said...

cukup inspiratif artikelnya..
salut buat pak Rifai,beliau memang hebat..
tak banyak orang punya IQ dan pemikiran seperti beliau
mungkin itu adalah salah satu tugas beliau terlahir didunia ini
yaitu untuk menginspirasi kita semua..
dan orang-orang hebat biasanya memang tak banyak..
"tidak semua orang bisa mencapai puncak mount everest,
jadi terus berusaha semampunya dan jangan berhenti"

SEMANGAT..!!
ganbete kudasai..!!
chiayoo..!!
zha..zha..!!

bhs Italinya apa ya..?

Post a Comment