Rabu, 15 April 2009

Mari Mengejar Mimpi ke Negeri Kincir Angin

Kuliah di luar negeri?apalagi di daratan Eropa?uhmm..siapa yang nggak ngiler dibuatnya. Sudah mafhum rasanya bila beratus-ratus mahasiswa Indonesia mempunyai mimpi untuk mencicipi bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas internasional. Sudah waktunya meninggalkan sarang yang sudah lumutan, mengepakkan sayap untuk melihat dunia lain yang akan merubah cara pandang dan memperluas wawasan. Semoga nantinya bisa membawa oleh-oleh setumpuk ilmu dan pengalaman untuk diimplimentasikan di negeri tercinta.

Masih bingung menjatuhkan pilihan kemana akan mengepakkan sayap untuk melanjutkan studi?. Nah, negeri kincir angin yang nyelempit kecil nan mungil di daratan Eropa nampaknya merupakan pilihan menarik untuk menjatuhkan hati. Negeri yang begitu lekat dengan bangsa kita karena begitu betah menjajah ibu pertiwi dengan kolonisasinya. Ah, sudah saatnya memaafkan sejarah, toh sekarang Belanda dengan tangan terbuka memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk nglurug ilmu kesana. Ini terbukti dengan besarnya jumlah tawaran beasiswa setiap tahunnya untuk Indonesia, bahkan merupakan negara yang paling banyak menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Yah, mungkin salah satunya sebagai tanggung jawab moral akibat jelaga-jelaga kesalahan masa lalu kali ya ehehe. Terdapat beberapa beasiswa yang ditawarkan antara lain Erasmus Mundus, HSP Huygens Programme, NFP (Netherland Fellowship Programme). Uhmm hayuk singsingkan lengan baju untuk menjemput mimpi-mimpi masa depan.


http://thedestinationcenter.com/images/tourimages/64430900_1209657094.jpg

Nah, mengapa menjatuhkan pilihan pada Belanda? Nih bisa dilihat poin plus-plusnya yang bisa membuatmu tertarik.

1. Kuliah berbahasa Inggris

Yup, faktor bahasa pengantar kuliah sangat penting bagi mahasiswa asing. Sudah jauh-jauh berkelana ke negri orang tapi kalau kuliahnya nggak mudeng gara-gara kendala bahasa kan nggak okey. Untungnya Belanda merupakan negara pertama yang bahasa nasionalnya non Inggris (bahasa nasionalnya boso londo alias bahasa belanda) yang menawarkan program studi berbahasa inggris. Pada tahun 2009/2010, Universitas di Belanda menawarkan 1.391 program sarjana, master, Ph.D serta kursus singkat (short course) yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris. Jadi nggak usah bingung mikirin kendala bahasa deh, kita nggak harus ribet dengan persiapan mempelajari bahasa negara yang dituju untuk bisa mengikuti perkualiahan. Hal ini berbeda bila ke negara lain seperti Jepang atau Italia yang bahasa pengantarnya kebanyakan masih menggunakan bahasa nasional negara tersebut. Trus nilai plusnya lagi, ternyata 95% masyarakat Belanda berbicara dan membaca dalam bahasa Inggris. Hal ini tentu saja membuat atmosfer selama belajar di belanda akan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Import buku dalam bahasa Inggrispun banyak dilakukan oleh negeri ini dibandingkan dengan negara lain yang tidak berbahasa Inggris. Nah tuh, sudah bahasa pengantarnya bahasa Inggris, masyarakat di sanapun sudah biasa bertutur dengan bahasa Inggris, dijamin akan nyaman untuk tinggal dan bersosialisasi.

2. Biaya kuliah yang relatif rendah

Bila kita kuliah ke negri orang bermodalkan beasiswa, mungkin nggak perlu terlalu memusingkan soal budjet uang kuliah. Mungkin lebih mikirin jatah bulanan harus cukup untuk kebutuhan hidup sebulan itu, jangan sampai nombok ehehe. Nah, bila rekan-rekan ada yang berminat kuliah ke Belanda dengan kocek sendiri, jangan khawatir karena biaya kuliah di Belanda relatif lebih rendah daripada negara uni eropa lainnya. Kenapa? Ternyata hal ini disebabkan karena subsidi dari pemerintah Belanda yang cukup besar di sektor pendidikan. Tuh, perhatian banget kan?. Biaya kuliah program internasional untuk sarjana sekitar 1200-3000 euro setiap tahun, sedangkan untuk program master berkisar antara 5000-13.000 euro (tergantung juga dari universitas dan bidang yang diambil). Nah trus tentu saja ada plus plusnya lagi, yakni biaya hidup untuk mahasiswa yang tidak terlalu mahal. Jatah 650 euro per bulan diperkirakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup standar termasuk akomodasi, transportasi lokal, asuransi kesehatan, kehidupan sehari-hari dan buku-buku. Bila merasa keuangan kembang kempis setiap bulannya, eitss..ada pilihan lagi, yakni mahasiswa diijinkan untuk bekerja paruh waktu maksimal 10 jam per minggu, bahkan untuk bulan Juni, Juli dan Agustus bisa bekerja penuh. Nah tuh, jangan khawatir kekurangan duit, tapi bila kepepet...bisa ngutang sesama rekan Indonesia yang pastinya banyak jumlahnya di sana, tapi konon jangan coba-coba pinjem duit sama orang londo, karena hasilnya bisa dipastikan...ditolak mentah-mentah!!! Ehehe...

3. Metode pengajaran yang berkualitas

Gaya pengajaran di Belanda memberikan porsi perhatian lebih pada mahasiswa sebagai pusat, dengan memberikan perhatian dan kebebasan untuk mengembangkan opini dan kreatifitas mereka. Kurikulumnya berorientasi dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sesuai dengan bidang yang diambil. Umumnya setiap universitas mempunyai sisitem pembelajaran yang berbeda. Di Maastricht University, mereka menerapkan problem base learning system. Setiap pokok bahasan bermuara langsung ke penyelesaian masalah. Lain lagi di Wageningen University and Research Centre, di sana menerapkan pola beta-gamma system dalam pengajarannya dengan tujuan agar para alumninya bisa memahami teknologi dan gejala gejala sosial. Belanda juga sudah memperoleh pengakuan internasional atas sistem pembelajaran ground-breaking problem based learning. Jadi selama kuliah mahasiswa dilatih untuk menganalisis dan memecahkan masalah-masalah praktis secara mandiri melalui belajar mandiri dan disiplin pribadi. Tertarik untuk mencicipi suasana kelas dengan metode ground-breaking problem based learning ? Belum-belum saya sudah membayangkan betapa bedanya dengan sistem pengajaran di Indonesia yang sampai saat ini baru bisa menghasilkan mahasiswa-mahasiswa teoritis tapi masih gamang bila dihadapkan pada masalah-masalah praktis di masyarakat. Maka dari itu, yuk kita menangguk ilmu dan pengalaman untuk diterapkan di Indonesia.


https://secure.cscm.org/images/uploaded//Students1.gif

4. Universitas bertaraf internasional

Marrik Bellen, direktor NESO Indonesia, lembaga non profit yang mewakili perguruan tinggi Belanda di Indonesia mengungkapkan laporan Times Higher Education Supplemen yang mencatat hampir 90% universitas di Belanda berada dalam peringkat 200 universitas teratas dunia. Uhmm siapa nggak pengen bisa kuliah di universitas bertaraf internasional?Apalagi bisa kuliah di Universitas yang gedungnya seperti kastil abad pertengahan misalnya di Maastricht Univeristy ini, uhmmm...

http://www.fdewb.unimaas.nl/meteor-seminar-et/M-BEES-2008/Vrijthof.jpg

5. Lingkungan multikultural dan berorientasi internasional

Terbiasa dengan lingkungan homogen dengan pola pikir dan cara pandang yang hampir seragam membuat kita lambat berkembang. Nah, sudah saatnya merasakan atmosfer internasional dengan mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara dengan pola pikir, cara hidup dan pemikiran yang berbeda. Kita akan lebih berpikiran terbuka, toleran, dan berwawasan luas. Semua itu bisa kita rasakan dengan menimba ilmu di Belanda dimana mahasiswanya berasal dari berbagai negara. Lingkungan multikultural membuat kita ditempa dalam kondisi yang berbeda namun akan memberikan pelajaran hidup yang bermakna. Bisa bergabung bersama mahasiswa berbagai bangsa merupakan pengalaman yang bakal tak terlupakan bukan?


http://ascweb.unl.edu/students/ambassadors/2008_2009/group450x300.jpg

Nah, itu beberapa alasan mengapa Belanda patut untuk kita lirik sebagai alternatif pilihan melanjutkan studi. Alasan-alasan di atas patut dijadikan pertimbangan sebelum kita menjatuhkan pilihan kemana kita ingin mengembangkan diri dalam menimba ilmu. Oh ya, komunitas mahasiswa Indonesia juga banyak di Belanda. Berbagai Perhimpunan Pelajar Indonesia seperti PPI Wageningen, PPI Rotterdam memberikan wadah kebersamaan sesama warga Indonesia yang tinggal dan kuliah di Belanda. Jadi, jangan khawatir merasa terkucil di negeri orang, karena tetap bisa berkumpul, bertukar informasi, wisata bersama ataupun makan bersama dengan sesama rekan senasib sepenanggungan dari Indonesia. Tentang makanan, lagi-lagi jangan khawatir kangen masakan Indonesia kayak tempe goreng, rendang dan sambel terasi ehehe. Soalnya di sana banyak terdapat makanan pokok Indonesia tersedia di supermarket ataupun di toko-toko Cina dengan harga terjangkau.

Oh ya, yang satu ini nggak bisa terlewatkan bila bisa kuliah di daratan Eropa. Kamu bisa melancong muter-muter Eropa nan indah. Jadi saat akhir pekan ataupun hari libur, kamu bisa melancong ke negara-negara tetangga. Yipiiie, akhir pekan bisa nonton liga inggris, ataupun menikmati pemandangan kota London, mengunjungi negeri nan molek Italia dengan membuktikan sisa-sisa sejarah di Roma, naik gondola di Venezia, merasakan modernitas kota Milan, ataupun menyesapi romantisme Paris dengan menara Eifellnya.

Uhmm..ngiler pastinya. Semua itu bisa ditempuh dengan transportasi yang mudah dan nyaman. Asyiknya lagi adalah kita nggak harus membuat visa untuk bisa muter-muter Eropa karena Belanda merupakan bagian dari Uni Eropa. Nah, coba apalagi yang kurang? Siapkan dirimu dan terbanglah mengepakkan sayap, mengejar mimpi ke negeri tulip!


http://marsdreams.blogspot.com/2009/04/mari-mengejar-mimpi-ke-negeri-kincir.html

Selasa, 31 Maret 2009

Orkestra Derai Hujan dan Secangkir Kopi Panas


Derai hujan di luar menyanyikan orkestra alam yang biasanya terlewatkan dari pikiranku. Hening, damai, menenangkan. Secangkir kopi panas yang sudah tinggal setengah tetap setia menawarkan nyawanya padaku. Dan lenovitoku yang sampai kini masih mau hidup saat aku hidup, dan mati saat kuterlelap, kini masih saja memperdengarkan irama-irama klasik yang kembali membawaku ke negri nun jauh di sana. Ah, hidup. Sederhana saja rupanya bila kita membuatnya menjadi sederhana, dan rumit bila kita membuatnya rumit. Dan tentu saja, ingin ku menatanya sederhana saja. Tapi betapa rumitnya menjadi sederhana? Ah maafkan, lagi-lagi akrobat kata-kata.

Bila ada”kebodohan” di masa lalu, jika hanya kuingat kebodohan sikap saja tentulah hanya meninggalkan derak-derak jelaga suram masa lalu. Namun bila menganggapnya sebagai sebuah kemanusiawian dan membuatku belajar, kebodohanpun ternyata menawarkan tangga-tangga untuk naik kelas.

Ah, kembali kuseruput kopi yang hampir tak lagi panas. Petir di kejauhan membuat orkestra hujan terdengar dramatis.

Ternyata aku baik-baik saja, dengan hidupku, dengan rutinitas yang kadang membelitku, dengan rencanaNya yang tak kutahu.

Masih bertemu dengan muka-muka susah senyum, terkadang. Namun tetap saja masih ada senyum pak satpam tiap pagi menjelang masuk kantor. Walaupun terkadang kuamati betapa bosannya dia berada di koridor tanpa melakukan apapun. Masih bersapa dengan para sahabat, entah lewat dunia nyata, dunia maya ataupun dunia gaib hohoho...Masih ada yang memenuhi inbox hp dengan curhatan, jadwal konsul skripsi, dan inbox semu sms-sms yang tak tertekan tombol send padaku ehehe, gamang di antara send dan cancel.

Masih ada setumpuk buku yang kubeli di pameran buku lalu yang masih belum tersentuh. ”Uhmm..kau tidak ada waktu untukku?”, katanya mencibirku, merasa tersisihkan rupanya mereka. Ah, maafkan lagi-lagi rutinitas adalah racun.

Masih saja berhadapan dengan wajah-wajah mahasiswa di kelas, ataupun di meja kantor yang menghadiahiku setumpuk kerjaan yang harus kukoreksi :P. Ah, generasi-generasi masa depan bangsa ini, akankah tertempa dengan baik? Semoga.

Masih ada rekan sejawat yang akhir-akhir ini mencecariku pertanyaan-pertanyaan esensial hidup. Setelah kuliah lagi di luar negri, lalu apa?setelah kelak jadi professor atau guru besar, kemudian untuk apa?Bila saat ini kau ditawari untuk memilih pekerjaan apapun, apa yang kau mau?Pada akhirnya untuk apa hidupmu? Doohhh...

”Turunlah ke bumi suatu saat”, katanya dengan senyum pias di wajah keibuannya. Membuatku berpikir untuk kembali mengoreksi lagi obsesi, visi dan misi hidup.

Ah, kopi dingin di cangkirku hampir habis. Hari juga sudah menjelang petang. Pada titik ini, hanya ingin mengucap, Alhamdullillah!

Selamat menikmati hidup di antara dua helaan nafas, kawan!

Senin, 30 Maret 2009

Asyiknya Ngompol


Bolehlah menjelang Pemilu 2009 9 April nanti, kita menyinggung topik politik. Memang sesuai peraturan, PNS dilarang ikut ke dalam politik praktis dan terlibat dalam keanggotaan partai. Namun, bila sekedar ngompol..ngomongin politik, toh sah-sah saja. Dari dulu memang topik politik selalu menarik perhatian, karena selalu dihiasi dengan manuver-manuver antar partai mulai dari konvensi, lawatan-lawatan berbau politik yang katannya hanya silaturahmi sampai pada koalisi yang berujung pada pembagian jatah di tingkat ekskutif.

Mulai masuknya masa kampanye, berita di televisipun penuh dengan serba serbi kampanye mulai dari orasi-orasi tokoh-tokoh politik, pelanggaran kampanye sampai ulasan-ulasan rapat merapat antar partai mengarah pada kemungkinan koalisi. Kampanye dihiasi dari wajah lama sampai wajah-wajah baru yang meramaikan suhu perpolitikan nasional. Janji-janji manis masihkah terdengar di telinga rakyat?. Mungkin masyarakat sudah mencapai taraf ”budheg janji politis” karena telah berapa berganti kepemimpinan, toh belum ada perubahan yang dianggap menjanjikan. Namun hal itu tentu saja tidak membuat kita menjadi apatis, perubahan pastinya dimulai dari satu langkah ke langkah selanjutnya. Membutuhkan usaha yang tidak sedikit dan waktu yang tidak juga singkat. Kondisi bangsa yang telah kronis ini tentu saja membutuhkan penanganan serius yang tidak gampang. Perlu peran serta warga Indonesia dalam rangka memunculkan Indonesia menjadi negara besar yang sejahtera. Negara kita yang dulu katanya gemah ripah loh jinawi, bahkan masih teringat laguanya koes plus dengan ” Kolam susu”nya menggambarkan betapa bangsa kita dikaruniai sumber daya alam yang luar biasa.

Ah PEMILU? Mampukah nantinya menghasilkan para wakil rakyat yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik?.

Apakah PEMILU hanya pemborosan luar biasa yang memangkas anggaran negara dengan hasil yang tidak seimbang?. Bisa kita bayangkan berapa banyaknya anggaran yang tersedot dalam proses Pemilu, untuk mengklaim diri menjadi negara yang demokratis. Tapi menjelang proses pencontrengan 9 April nanti, kita dihadapkan pada pertanyaan kritis. Atas dasar apa kita mencontreng suatu partai ataupun nama caleg yang berurutan menanti belas kasihan kita di kertas suara?.

Ternyata pendidikan politik masyarakat kita masih belum mampu menjangkau cita-cita luhur mewujudkan demokrasi. Mungkin masyarakat juga sudah mulai jengah dengan beruntunnya peristiwa politik yang terjadi, mulai dari pilkada yang masih juga carut marut sampai persiapan pemilu dua tahap yang masih juga jauh dari kesiapan. Kampanye pada rakyat miskin kadang menghadirkan tontonan memprihatinkan dengan gambar rebutan sembako. Kampanye bagi ibuku mungkin lebih berarti pesenan kaus dan bendera untuk partai politik meningkat tajam akhir-akhir ini, yang membuat para pekerjanya kerja lembur.

Kampanye bagi tetangga sebelah adalah upah tambahan memasang baliho dan bendera-bendera parpol.

Ah, bangsaku..negriku, wajahmu masih juga belum tertata hingga kini. Namun ada sebersit harapan, terus menata diri, mempercepat langkah menuju ke arah yang lebih baik.

Rabu, 25 Maret 2009

Kebaya, Pancaran Keanggunan Wanita Indonesia.


Lihatlah wanita-wanita Indonesia saat-saat peristiwa istimewa, seperti saat wisuda dalam rangka mentasbihkan rampungnya masa kuliah, menikah, ataupun acara-acara khusus lainnya. Mereka nampak anggun dengan balutan kebaya yang dipakai, menampakkan sisi wanita Indonesia. Kebaya memang mampu menampilkan sosok wanita Indonesia yang orisinil dan berbeda. Pakaian tradisional ini memang menjadi ciri khas pakaian tradisional Indonesia yang menawan hingga sangat layak untuk tetap dijaga kelestariannya.

Namun ternyata, sejarahnya kebaya ini berasal dari daerah Arab. Istilah kebaya berasal dari kata ”Kaba” yang berati pakaian. Nama kebaya sebagai pakaian khusus diperkenalkan oleh Portugis saat menginvasi Asia tenggara. Kebaya ini pada mulanya dihubungkan dengan pakaian blus yang dikenakan wanita Indonesia pada abad ke 15 dan 16. Sebelum 1600, kebaya di pulau Jawa merupakan pakaian kebesaran yang hanya diperuntukkan bagi perempuan kerajaan. Namun sekarang, kebaya dapat dipakai di berbagai kalangan dengan berbagai macam model yang telah menyesuaikan perkembangan zaman. Memakai kebaya sudah tidak malu lagi dicap ketinggalan zaman, namun justru mampu menonjolkan keanggunan pribadi wanita Indonesia.

Sekarang ini kebaya telah dimodifikasi dengan berbagai model, menjadi kebaya modern yang bisa dipakai menyesuaikan dengan acara yang akan dihadiri. Kebayapun sekarang tidak hanya bisa dipadankan dengan kain batik ataupun songket, bisa juga dipadankan dengan celana panjang ataupun bahkan jeans. Pilihan bahanpun semakin bermacam-macam. Untuk memperlihatkan kesan glamour dan simpel bisa bereksperimen dengan taffeta, shantung atau organdy sutra untuk kainnya, padukan dengan kebaya dari bahan lace atau satin. Berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memakai kebaya yakni acara yang akan dihadiri, model dan material kebaya. Konstruksi tubuh si pemakai juga perlu diperhatikan dalam penentuan model kebaya. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah rasa percaya diri saat memakai kebaya akan memancarkan ruh tersendiri pada si pemakai.

Untuk perawatan kebaya, tips khusus merawat kebaya hanya perlu lebih hati-hati dan telaten. Misalnya setelah dipakai, kebaya tidak harus dicuci, cukup diangin-anginkan satu hari penuh lalu masukkan kembali dalam lemari. Kalau sudah dipakai 3-5 kali kebaya boleh dicuci dengan menggunakan tangan, itu pun harus sangat hati-hati agar konstruksi dan garis kebaya tidak berubah. Mencucinya pun tidak boleh dengan sembarang deterjen, sebaiknya menggunakan pelembut saja, dengan pertimbangan untuk menghilangkan bau yang ditimbulkan setelah kebaya sering dipakai dan juga agar warna kebaya tidak berubah. Setelah dicuci dan mengucek, beberapa bagian yang mungkin kena noda, sebaiknya kebaya jangan diperas, basah-basah bisa langsung digantung. Teknik ini bisa membuat kebaya tidak lecek. Untuk menjemur ada baiknya tidak terkena matahari langsung, cukup diangin-anginkan saja. Menyetrika pun tidak bisa sembarangan, harus dengan kondisi setrika yang tidak terlalu panas.

Oh ya belakangan ini tengah ngetren kebaya pakai obi? hmm..gabungan budaya antara Indonesia dengan Jepang. Selain kebaya, busana formal seperti blus batik pun dikombinasikan dengan memakai obi jepang. Ah, semakin menarik saja berkebaya, tanpa terkesan ”tempo doeloe” dan jadul. Tertarik?

Kamis, 19 Maret 2009

Rumah Baru!!!!

Rumah Baru!!!!

Kyaa..rumah baru, tampilan baru!. Walaupun pada mulanya males untuk mengganti template lagi, soalnya dipastikan akan ribet mulai lagi mendadani blog dengan gadget-gadget baru seperti shoutbox, gambar samping, link, feedjit, technorati dll yang memang konsekuensinya bakal hilang bila kita ganti template. Template dari eksternal blogspot tentu saja, karena template-nya blogspot yang original sangat membosankan, jadi musti nyari-nyari template di web lain.

Bila mau liat-liat template blog free silahkan klik di.www.btemplates. com

Tapi cukup menyita waktu karena selain memilih desain yang cocok di hati juga harus mencobanya dulu di blog lama kita, kadangkala tampilan akhirnya nggak sesuai dengan bayangan kita.

Rumah baru ini, sudah rumah ketiga kalinya. Pertama dulu pas masih awal-awal ngeblog masih puas dengan template klasiknya blogspot, ya udah gonta ganti aja template klasik saking bosennya, tapi salah satu keuntungan bila memakai template klasik blogspot adalah gadget-gadget yang udah kita pasang tidak akan hilang. Nah, tampilan tipe My world yang kemaren itu baru sekitar tiga bulan kupakai , hasil jelajahanku di btemplates, setelah beberapa kali bongkar pasang akhirnya merasa cocok dengan desain My World itu Naksir pertama kali lihat!! Nah kalo sudah begini susah dibilangin...padahal beberapa temen komplain backgroundnya susah diliat tulisannya kalo dibuka via HP, loadingnya lambat karena ”berat” mungkin karena desain dasarnya hitam. Pertamanya aku ngrasa, duuuuhh aku ”terlanjur cinta” sama desain ini. Kesengsem berat karena desainnya simpel, klasik tapi elegan, plus gambar globe di genggaman tangan. Semuanya merepresentasikan ”keakuanku” banget ehehe, hingga waktu itu mantep banget pas memakai desain itu.

Tapi lama-kelamaan....kepala mulai berhasil mempengaruhi hati ehehe. Saat disimpan versi webnya di komputer (untuk arsip tiap bulannya), ternyata hasilnya backgroundnya hitam sehingga tulisannya susah dibaca, dan memang loadingnya lambat karena mungkin terlalu berat. Huuu....lama-lama dipertimbangkan..ohhh harus rela melepaskannya. Ahaha..berlebihan ya!

Sebenarnya nggak ribet-ribet banget ganti template, yang ribet harus dandanin lagi dari awal uffff...

Nah akhirnya hari ini memutuskan untuk ganti rumah baru, "Green Scrapbook Diary", desainnya asyik, sepertinya loadingnya nggak terlalu berat, 3 kolom, warnanya fresh ijo-ijo nya menyegarkan ehehe.Nah, mulai deh nambah-nambah gadget lagi, jadi masih belum lengkap nih sementara. Tapi yang penting feature-feature utama udah kutambahkan

Rumah baru, tampilan baru...semoga lebih nyaman. Sekaligus 1 st anniversary ngeblog. Ternyata sudah lebih dari setahun ngeblog, yang awalnya gara-gara mau ke Itali biar bisa sharing cerita sama temen-temen di Indo. Hingga walaupun ngenet disana sekitar 15 ribuan per jam tapi tetep postingan lancar. Eitss..lama kelamaan tetep aktif nulis dan lumayan lancar sampai sekarang ternyata. Walau kadang bingung mau nulis apa saat kepala kosong, atau gerusan rutinitas kerjaan yang menyita waktu hingga tak menyisakan waktu untuk bergelut dengan ”dunia lain”ku yang satu ini. Kadang merasa jengah karena hati mudah sekali dibaca (uffff....), kadang seneng karena beberapa orang mengapresiasi isi tulisanku, bahkan bisa bertambah komunitas. Yah, tanpa harapan yang berlebihan, semoga ngeblogpun bisa bermanfaat!!

Rabu, 18 Maret 2009

Merapat padaMu

Tuhan, aku ingin merapat padaMu

Takut tersesat oleh perasaan benarku

Benar menurut mataku, entah MataMu

Dikotomi benar dan salah Dunia

Aku serasa berada di wilayah abu-abu

Kugadaikan saja endapan rasa ini padaMu

Tak ingin kutebus, jangan pula Engkau kembalikan

Atau simpan dulu dalam kantungMu

Sekarang ini sesak nafasku, Tuhan

Kembalikan saja kapan-kapan, dan ubahlah sedikit saja

Ah, kenapa lagi-lagi aku mendikteMu

Diri manusiaku yang terkadang nakal

Tapi bukankah itu yang selalu membuatku kembali pulang?

Saat Kau menyentilku karena terlalu asyik bermain di luar

Ingin merapat padaMu lagi, Tuhan

Takut keluar dari lintasanMu.

Wed- 17 marzo 00.17 am.