Rabu, 11 Juni 2014

Edensor, Menjamahi Mimpi-Mimpi



Mobil yang kami tumpangi menembus jalan-jalan kecil yang di samping kanan kirinya berupa hamparan hijau padang rumput dan domba-domba yang merumput. Kami tengah dalam perjalanan menuju Edensor, seusai penutupan acara KIBAR Gathering di Markfield. Namun cuaca yang tadinya cerah dan langit biru sore itu berganti menjadi hujan deras tatkala kami sampai di daerah Derbyshire. Hatiku sedikit gundah, ah padahal tadinya saya membayangkan Edensor dengan langitnya yang cerah, dengan hijaunya perbukitan dan domba-domba yang lucu itu. Cuaca memang terkadang mempengaruhi saat kita jalan-jalan, seperti kala saya jalan-jalan ke Oxford dan Cambridge tahun lalu. Rasanya saya tidak terlalu mengingat kemana saja di kota itu karena hujan deras tak henti-henti mengguyur kota. Berjalan kaki kala hujan, langit gelap huhu mana bagus buat foto-fotoan dan tentu saja mobilitas sangat terbatas. Karena itu, kali ini saya ingin sekali melihat Edensor dalam pesona terbaiknya soalnya tempat itu sudah lama sekali menjadi list saya untuk dikunjungi. Tentu saja gara-gara membacai buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata itu. Edensor merupakan  desa impian Andrea Hirata karena membacai buku If Only They Could Talk karya James Herriot.
Mas Basid terus melajukan mobilnya menuju Bakewell di tengah hujan yang masih saja mengguyur langit England kala itu. Hati saya ciut mendapati belum ada tanda-tanda hujan mereda. Namun sepersekian detik kemudian sepertinya ada terdengar suara :  Sepertinya kau meminta terlalu banyak. Mungkin itu suara dari dalam diriku sendiri, lalu kemudian menyadari, ah mungkin saja begitu. Saya sedang menuju ke tempat yang saya impikan sejak dulu, dengan segala kemudahanNya, kesehatan, beserta sahabat-sahabat. Bukankah kau seharusnya bersyukur? Suara itu terdengar lagi. Jleb. Tiba-tiba saya malu pada Tuhan.
Ah, saya pada akhirnya tiba pada kebersyukuran pada semua berkahNya. Entah hujan, entah berawan, entah cerah..saya akan menyambut Edensor sesuai dengan apapun jatah Tuhan yang diberikan pada saya. Setelah itu hati saya berubah tenang dan menikmati tetesan hujan di luar jendela mobil kami yang terus melaju. Hujan kemudian berangsur berubah menjadi gerimis rinai-rinai kala kami sampai di Bakewell. Rencananya kami ingin melihat Haddon Hall (Rumah/istana bergaya English milik Duke of Rutland) di River Wye, Bakewell, Derbyshire karena tempat itu sejalan menuju Edensor. Namun sayangnya tempat parkir dan Haddon Hallnya sudah tutup sehingga kami urung masuk. Coba tempat parkirnya masih bisa, kan bisa jalan-jalan ke padang menghijau dengan domba-domba lucu itu. Namun ternyata memang tidak bisa sembarangan parkir mobil di UK ini. Eit, tapi bukan saya kalau nggak bisa mencuri narsis sejenak di tempat itu eheh.
Hamparan padang rumput di belakang itu selalu saja mempesona

Paling betah memandangi yang begini begini
Lalu kemudian kami memutuskan untuk langsung ke Edensor. Kadang kami melewati jalan sempit seperti di tengah hutan, lengang. Uwooo kami benar-benar masuk pedesaan tipikal England. Tentu saja nuansanya terasa berbeda dibandingkan saat jalan-jalan di kota besarnya. Kami terus memecah sepi, melajukan mobil menyusuri jalan-jalan sempit yang berkelok kelok sembari menikmati hijau dan damainya pemandangan di luar jendela.

Pemandangan di luar jendela
Dan ajaibnya, gerimis rinai-rinai berhenti dan langit mulai membiru cerah kembali begitu mobil kami mencapai Edensor. Matahari mulai bersinar kembali, hatiku pun bersinar-sinar seketika. Tuhan itu kadangkala memang suka becanda, kala saya sudah berserah (bukan menyerah lho), seringkali Dia kemudian memberikan apa yang saya pinta. Alhamdulillah, Tuhan selalu Maha Baik.
Oh yeah, finnaly kita sampai. Begitu kata saya pada diri sendiri. Alhamdulillah, rasa syukur saya terasa berlimpah-limpah pada pemberi kehidupan yang menakjubkan ini.
“ Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, menciut dicengkeram angin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup!” (EDENSOR-Andrea Hirata)
Kutipan-kutipan dalam buku Edensor itu kembali melintas di kepala saya. Dulu entah sampai berapa kali saya membacai buku itu. Buku tetralogi (paling suka sampai buku ketiga sih, Maryamah Karpov-nya kurang suka)itu memang seperti buku yang bisa mencharger semangat yang kadang kala menciut dulu saat saya mulai menata langkah melanjutkan studi ke luar negeri. Dan karena itulah buku itu dan tentu saja Edensor membekas di hati saya.

Padang rumput dan domba-domba yang asyik merumput
Puncak menara dari bangunan gereja St Peter sudah nampak dari kejauhan. Oh, itu pasti tempat dimana banyak pengelana berfoto saat mengunjungi Edensor. Sepertinya menara itu menjadi penanda khas  lanskap desa edensor. Setelah memarkir mobil di belakang gereja St. Peter kami mulai berjalan-jalan. Humm akhirnya menghirup udara segar Edensor seusai hujan, bisa menyalangkan mata menikmati sekelilingnya. Oh yeaah I’m HERE! Ada yang mendesak-desak gembira di hati saya. Bagi saya, mewujudkan apa yang saya inginkan adalah urusan saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya akhirnya bisa mencapainya. Dan saya dengan gembira bisa membincangi diri saya sendiri “ Ah, diriku. Kita sampai di tempat ini. Tempat yang dulu sering kau bacai itu. Hidup selalu ajaib!
Kami kemudian masuk ke dalam gereja, menikmati setiap sudutnya, mengambil postcard gratis yang disediakan dan seperti biasa, dan juga tentu saja  berfoto-foto.

Interior dalam gereja St. Peter Edensor

Saya setelah di sini, baru tahu kalau Edensor dibaca dengan lafal “Ensor” seperti juga Edinburgh diucapkan dengan lafal “Edinbra”. Awalnya terasa janggal di lidah, karena terbiasa mengucapkan namanya dengan sebutan Edensor.
Edensor. Saya tak harus berbusa-busa untuk mengatakan bahwa Edensor itu sungguh indah. Karena bila dibandingkan dengan tempat lain di UK, desa kecil di Derbyshire ini memang tidak menonjol, tidak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bahkan informasi travellingnya juga sangat terbatas. Tapi bukankah terkadang rasa spesial itu tak hanya melulu soal fisik, tapi lebih pada keterikatan hati #halah. Berapa harga yang bisa membeli rasa rindu, cinta, suka? Priceless.
Tapi memang harus diakui, selain karena adanya keterikatan dengan tempat ini, ternyata saya suka tempat ini. Walaupun memang Edensor terlihat sepi, tak terlihat banyak orang-orang yang lalu lalang tapi saya suka hijaunya, damai dan segarnya udara tempat ini. Hamparan padang rumput menghijau kemanapun mata memandang, domba domba yang asyik merumput, rumah-rumah mungil yang tertata rapi, udaranya yang segar dan damainya suasana. Duke of Devonshire ke-6 saja pindah lho ke desa ini karena terpesona dengan pemandangan dan kedamaian tempat ini.
            “ Kalau disuruh tinggal di daerah seperti ini mau nggak? Makan dan tempat tinggal dijamin, walaupun internetnya susah? “ tanya Uti, salah satu anggota rombongan kami.
          “Wah kalau nggak ada, internet nggak sanggup deh,” jawab Sani, suaminya yang bergelut di bidang IT dan nampaknya susah hidup tanpa internet.
          “Kalau aku, tergantung sama siapa sih,” jawab saya yang disambut koor kata “halaaaah” hampir serempak dari rombongan semobil, diiringi tawa kami semua. Kami bepergian berlima untuk mengikuti acara KSG (Kibar Summer Gathering di Markfield.
Hihi, baiklah saya memang gombal. Daripada gombal terus, baiklah kita lanjutkan menyelusuri gereja St.Peter. Tentu saja kesempatan untuk berfoto ria tidak saya lewatkan, dengan mengeksplore sudut dan sisi yang menarik untuk dijadikan latar berfoto. Saya paling suka mengeksplor sudut yang tak biasa ditemukan orang tapi hasilnya (menurut saya) sih bagus. Kali ini saya jalan-jalan dengan si tukang jepret andalan saya *halaaah, jadilah saya puas berfoto-foto.

Terlihat atap-atap rumah yang lucu. Konon bangunan-bangunan di Edensor dibangun dengan desain yang tiap-tiap bangunannya berbeda. Seru juga.


Berlatar hijaunya Edensor

Sensasi mencari sudut berfoto yang tak biasa

Suka banget foto ini, terimakasih yaaa si tukang jepret ;p
Tipikal foto orang Indonesia kalau jalan-jalan itu biasanya cari papan nama yang menyebutkan nama tempat itu ahaha, dan saya juga. Biar nggak bilang hoax hihi akhirnya saya dan teman-temanpun berfoto di halaman depan gereja St Peter yang ada penanda tempat yang ada kata edensornya




ini group band apaan? ahaha

Cheeers..Kami dalam formasi lengkap. Terimakasih sudah menemani saya ke sini
Kemudian setelah puas di gereja St Peter, dan tea cottage-nya, kami berencana ingin melihat Chatsworth House yang super cantik itu. Kami sudah sempat melihat bangunan yang mirip istana di negeri dongeng itu saat melintas menuju ke gereja St.Peter. Kami mencari jalan menuju ke sana, namun sayang setelah beberapa kali mencoba rute jalan ke sana, sepertinya memang hanya satu satu akses jalan kesana yang restricted. Entah karena ada peraturan jam sekian sudah tidak bisa akses lagi, atau kenapa hingga jalan itu tidak bisa kami lewati saya kurang mengerti. Saat itu sudah hampir jam 7 pm, mungkin jalan itu hanya dibuka sampai jam tertentu, entahlah. Kami tak berani menerabas masuk, karena mungkin saja sesampainya di Glasgow bisa-bisa kami mendapat surat cinta denda berpounds-pounds. Akhirnya, kami harus legowo dengan hanya menyaksi bangunan indah itu dari jauh, dan saya sempat mengabadikan bangunan nan cantik itu dengan jepretan kamera saya dari jendela mobil.


Indahnya Chatsworth House dari kejauhan
Sebenarnya bisa saja kalau mau, jalan kaki dari gereja St. Peter menuju ke Chatsworth House karena saya lihat tempatnya masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Namun sayangnya waktu kami terbatas, masih ada perjalanan ke Glasgow yang masih jauh ditempuh. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sheffield dan kemudian pulang ke Glasgow.
Walau singkat, namun mengunjungi Edensor rasanya seperti menjamahi mimpi-mimpi. Terkadang kebahagiaan ada pada penaklukan, menaklukan impian sendiri karena pada akhirnya bisa mewujud. Itu hanya soal waktu. Tuhan selalu sempurna mengatur kapan waktu yang tepat impian-impian itu mewujud. Hati saya tersenyum saat meninggalkan Edensor. Terimakasih Tuhan, cintaMu selalu berlimpah, semoga hambaMu ini pintar bersyukur.

Glasgow,11 June 2014 dengan langitnya yang tengah mendurja, namun hati tetap berbunga halah :D

Rabu, 04 Juni 2014

Gibson Gala Street #West End Festival




Langit Glasgow mendung kala saat saya siap-siap ke Otago, ngumpul bersama rekan-rekan saya yang lain untuk melihat Gibson Gala Street. Combro yang saya buat pun dibikin dalam kecepatan super kilat. Namun begitu siap akan melangkah, tiba-tiba Glasgow diguyur hujan. Eaah..padahal Glasgow sudah memasuki musim panas, namun matahari akhir-akhir ini jarang muncul. Kalau tentang hujan, memang selama empat musim di Glasgow, hujan selalu mencumbu kota ini dengan mesranya.
Saya akhirnya berjalan dalam gerimis ke Otago, yang ternyata sampai sana masih sepi. Cuma ada Mas Basid dan Mas Munir, penghuni tetap flat itu. Flat itu memang jadi basecamp tempat kami ngumpul-ngumpul bila ada waktu luang. Biasanya masak-masak, makan, nge-teh, karaoke, nonton youtube sampai diskusi politik dan negara ahaha.
Tak lama kemudian, Mona, Mba Fitri dan Mas Wahyu pun datang, dan komplitlah sudah kami yang akan nonton festival. Ceritanya kami pengin lihat-lihat festival yang kebetulah sangat dekat. Kami semua tinggal di daerah West End, dan setiap tahunnya diadakan West End Festival. Festival itu sebenarnya diselenggarakan selama 1 bulan, jadi selama sebulan itu ada berbagai acara baik acara musik, budaya, olahraga, parade, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diadakan di daerah West End. Nah, Gibson Gala Street yang rencananya akan kami saksikan itu semacam acara pembuka dalam rangkaian West End Festival. Huaa selama lebih dari 2 tahun di sini, ini kali pertama seriusan nonton West End Festival. Tahun lalu saya “kebetulan” lihat west end festival di Byres Road saat saya akan ke Tesco (Semacam mini market di sini). Ahaha memang parah, entah kemana saja saya dua tahun belakangan ini.
Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu hujan reda, sambil mencamil combro jadi-jadian buatan saya. Setelah combro habis, sementara hujan di luar jendela masih belum juga reda. Akhirnya mereka kelaparan, dan seperti biasa agenda kami tentu saja adalah makan-makan. Mie kuah bakso ala saya pun kemudian tandas dalam waktu singkat.
Baru usai sholat dhuhur, kami akhirnya nekad berangkat. Gerimis masih tak henti-hentinya turun. Dengan payung-payung kami berangkat ke festival yang terletak hanya di seberang jalan Otago Street. Kalau di Indonesia, mungkin saja bila ada acara dan hujan kemungkinan akan sepi pengunjung. Namun begitu kami sampai di Gibson Street, ternyata ramai lho. Mungkin memang tak seramai bila cuacanya cerah sih. Tapi salut juga dengan penghuni-penghuni Glasgow ini, mereka penakluk hujan. Karena hujan turun tak pernah mengenal musim, maka yang dilakukan orang-orang sini ya menerima cuaca maha aneh itu dan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka tetap jogging kala hujan, tetap kemana-mana, tetep beraktivitas seperti biasa. Maka festival pun ternyata tetap meriah walaupun hujan.
           “Mereka nggak punya pawang hujan kali ya,” kataku bergurau. Kalau di Indonesia kan terkenal dengan pawang hujan untuk menangkal hujan kalau ada acara-acara besar/publik. Hihihii Indonesia memang sungguh kaya raya.
Kami kemudian berkeliling sekedar melihat-lihat apa saja yang ada di festival ini. Ada panggung musik, kemudian juga ada stand stand berjajar yang menjual makanan, minuman, coklat, snack, kerajinan tangan, lukisan, souvenir, dan banyak barang-barang lainnya.

Ini kayak si abang-abang jual nasi goreng kambing ya..ahaha ini stand makanan spanyol, yang mirip nasi goreng itu nasi plus kerang yang dimasak ala spanyol, jangan-jangan terinspirasi dari nasi goreng ;p

Dan ada juga lho yang bagi-bagi bingkisan gratis. IKEA sebagai salah satu sponsor acara ini membagikan bingkisan gratis. Ada air minum, coklat, dan bisa juga dapat payung gratis kalau register. Saya cuma ngembat bingkisannya saja, lalu menunggu dua orang ini seru-seruan antri payung ahaha, lihatlah muka cerah ceria mereka mau dapat payung gratisan. 

Mas Basid dan Mba Fitri ngantri payung :D
Ternyata nuansanya serba oranye, jadi tadaaaa payungnya juga oranye bermotif polkadot ahaha, yeiiii ini muka dapat payung gratis ;p
Mas Basid dan payung gratisannya ;p
Kami memang hobi mencari gratisan, termasuk teh, kopi, coklat gratis yang diadakan oleh salah satu stand juga pasti menarik perhatian kami. 

Setelah ini, yang motret juga segera ngantri kopi susu gratisan :D
Kemudian dengan kopi di tangan, kami melihat lihat kembali stand demi stand. Iyah, cuma melihat-lihat saja sih, soalnya harganya untuk ukuran kami pastinya mahal-mahal. Kemudian untuk makanannnya juga tak terjamin kehalalannya. Jadi untuk keamaan kantung dan status kehalalan, mendingan memang cuma lihat-lihat saja ehehe.
stand yang tetap ramai walau hujan

Eh, kami ketemu ikon Glasgow Commonwealth Games yang lucu lho, dan memintanya untuk foto bareng. Glasgow akan jadi tuan rumah penyelenggara Commonwealth Games XX yang berlangsung mulai tanggal 23 July-3 Agustus 2014 itu. 
Kami bertiga, yang secara tak sengaja berseragam jilbabnya ungu-ungu
Iklan untuk vote YES untuk referendum nanti
Ternyata acara publik seperti ini juga dimanfaatkan secara ajang kampanye seperti gambar di atas, tapi kampanyenya sederhana seperti terlihat di gambar tersebut. Seperti diketahui, September nanti akan ada referendum yang akan memilih apakah Skotlandia akan tetap bergabung dengan UK, atau melepaskan diri dari UK. Semacam ngeri-ngeri juga sih bisa keputusannya melepaskan diri dari UK, bisa-bisa ke England harus bikin Visa. Namun untungnya apapun keputusannya akan berlaku sejak tahun 2016, yang seharusnya saya sudah selesai studinya *amiiin. 
ada pula stand yang jual buka-buka, dua buku harganya 1 pounds, lumayan murah juga
Selain berkeliling seperti biasa, kami juga tetap narsis sedikit ;p


The girls and umbrella

The boys and umbrella
Absurb banget! ahaha setelah menikmati pertunjukan musik kami pun pulang ke Otago. Ngeteh, sholat, masak lagi, makan lagi dan nonton youtube serius hihih. Iya, nonton talkshow politik, peristiwa sejarah Indonesia. Ada tayangan-tayangan yang membuat saya sedikit terguncang sebagai orang Indonesia. Ternyata sebegininya negeri ini. Ada sejarah masa lalu yang masih terus ditutup tutupi. Bangsa ini punya luka yang dibiarkan menganga, disimpan rapat-rapat. Ketidakberanian bangsa ini untuk menghadapi masa lalu, pun dengan berbagai macam intrik politik yang terjadi di Ibu Pertiwi. Semoga Pilpres ini merupakan momentum mulainya Indonesia yang membaik, yang bekerja dan memperbaiki dirinya. 
Tengah malam, saya pulang sambil dideru pertanyaan. Selama ini saya kemana? Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk Nusantara tercinta?
Tanya itu sepertinya membutuhkan banyak kerja dan karya,
Salam

Glasgow menjelang maghrib. 3 June 2014. 21.00 pm


Selasa, 03 Juni 2014

Menuju Edensor


Heuuu indah yaaaah...betah kalau hijau hijau damai beginii

“Mereka nanya nih, yang menarik dari Edensor itu apa? Katanya cuma desa lho,” kata Mas Basid. Kami tengah menyusun rencana akhir pekan ini. Rencananya kami, rombongan Glasgow akan ikut Kibar Summer Gathering di Markfield. KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) itu semacam perkumpulan muslim-muslim se-UK. Biasanya diadakan semacam Gathering tiap tahunnya. Nah, kali ini akan diadakan di Markfield, Leicester. Lokasinya memang cukup jauh dari Glasgow, dan biaya transportasinya, baik menggunakan bis ataupun kereta tergolong mahal, plus jalurnya nggak ada yang langsung. Maka dari itu, kami di Glasgow akhirnya menyewa mobil untuk ke sana, karena dihitung-hitung lebih murah, fleksibel dan nyaman. Sudah jauh hari, ada misi terpendam untuk mengusulkan mampir ke Edensor ehehe. Karena setelah dilihat lokasinya, Edensor hanya sekitar 1 jam dari Markfield, jadi setelah selesai acara bisa mampir ke Edensor.
            “ Iyah memang cuman desa. Tapi pengin banget ke sana. Itu kan terkenal banget di bukunya Andrea Hirata. Sebentar juga nggak apa-apa,” rajuk saya ahaha. Soalnya sebagian yang lain lebih ingin mampir jalan-jalan ke Sheffield (inget kan Universitasnya Si Ikal Andrea Hirata di Sheffield Hallam University?). Tapi setelah rajuk merajuk ahaha, akhirnya deal mampir ke Edensor kemudian lanjut ke Sheffield yipieeee!
Terkadang memang begitu, ada tempat-tempat yang mungkin biasa saja namun tetap saja pengen menginjakkan kaki di sana. Edensor, kalau tidak karena buku ketiga Tetraloginya Andrea Hirata pastilah tempat itu tidak seterkenal sekarang di Indonesia. Gara-gara buku itulah sepertinya Edensor menjadi destinasi impian para pembacanya tetralogi Laskar Pelangi, termasuk saya hehe. Saya dulu sangat maniak dengan karyanya Andrea Hirata tersebut, keempat bukunya saya baca habis bahkan berkali-kali baca ulang tanpa merasa bosan. Saya suka gaya bertuturnya, diksinya, alurnya. Maka dengan hati berbunga-bunga saya menghitung hari menuju Edensor.
Dibilang mainstream? Ehehe saya nggak terlalu peduli apa lokasi wisata saya tergolong mainstream atau enggak. Banyak para traveller yang sekarang menghindari tempat-tempat mainstream lalu mencari tempat-tempat lain yang non mainstream. Bagus juga sih, buat inspirasi tempat-tempat travelling baru eheheh. Bagi saya, mainstream atau non mainstream nggak terlalu penting, yang terpenting saya memang pengen ke sana, titik. Seperti halnya tempat wisata mainstream lainnya seperti Menara Eifel Paris, Keukenhoffnya Belanda, Santorini-nya Yunani, Capadoccia-nya Turki, saya tetap ingin mengunjunginya. Kadang kala memang hidup itu tahu apa yang kau inginkan, tentang selera orang lain bukan hal yang harus dirisaukan bukan? Hihih.
Doakan perjalanan menuju Edensor lancar yaa..masih menghitung hari. Sudah tak sabar lagi untuk bilang : “Sure lof, It’s EDENSOR!”

3 June 2014. Musim panas Glasgow yang hari ini langitnya mendung.

Sabtu, 31 Mei 2014

Tentang Maaf


Ada riak-riak percakapan dalam diri suatu kali
“Kenapa harus minta maaf? Toh bukan kamu yang salah”—kata si pikir menceramahi.
“Harusnya dia dong yang minta maaf duluan”—si pikir kembali memprovokasi.
“Tapi aku merasa tidak nyaman. Seperti ada yang menyesakkan dadaku.” –si hati mencoba berargumentasi.
Meminta maaf. Ini bukan tentang minta maaf seperti kala lebaran yang entah kenapa terkadang sepi makna. Apa yang terjadi pada dua orang yang bersalaman itu. Mungkin saya yang manusia biasa ini harus mendalami lagi makna saling memaafkan.
Saya selalu mengagumi proses saling memaafkan. Karena bila hanya saya seorang diri saja, tak mungkin saling memaafkan bila hadir dan ada.
Saling memaafkan membutuhkan kerja hati dua manusia. Dalam prosesnya ia tak pernah selibat. Bukankah mengagumkan?
Aku minta maaf ya...mungkin kalimat itu pernah saya lontarkan pada sahabat saya, pada pasangan saya, pada orang-orang tercinta saya.
Saya dulu sempat bertanya, kenapa musti meminta maaf? Misalnya dalam kondisi bahwa hati saya bilang bahwa bukan saya yang salah.
Kalian tahu bahwa mungkin saja ada dua orang yang sama-sama tidak salah, namun menghadapi momen-momen yang tidak  mengenakkan. Dunia tak selalu menjadi tempat orang yang selalu paham apa yang kita inginkan, apa yang ingin kita katakan. Bahkan perkataan yang lugas pun bisa dimaknai lain, bila diucapkan di saat yang mungkin kurang tepat.
Dua manusia mencipta keajaibannya sendiri-sendiri dalam berkomunikasi. Kalian mungkin telah mengakrabi, dua sahabat yang saling diam, yang mungkin saja satu pihak tidak tahu kenapa sahabatnya mendiamkannya. Ataupun mereka sama-sama tahu, namun tak ada satu pihak yang mengulurkan kalimat : aku minta maaf yaa..
Saya suatu ketika, pada beberapa peristiwa mengalami itu, seperti juga mungkin kalian semua. Tiap harinya kita berinteraksi dengan banyak manusia, semuanya jalin menjalin dan memberikan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman, ketidakmengertian dan situasi yang tidak mengenakkan. Kalian pernah mengalami hal itu bukan?
Lalu biasanya apa yang terjadi.
DIAM. Mungkin hal ini juga terasa familiar, dua orang yang saling diam. Jembatan hati terputus sejenak tanpa ada pihak yang berniat menyambungkan kembali. Diam, tanpa ada yang mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan pihak lainnya.
Ada yang mengganjal dalam hati, ada semacam rasa yang membuat sesak di dada. Tapi mungkin kedua pihak memilih mendiamkannya. Atau mungkin suatu saat akan terlupa, dan (pura-pura) baik-baik saja.
“Aku minta maaf yaa”
Entah mengapa seperti ada jembatan-jembatan yang kembali menghubungkan kembali dua hati, dua sahabat, sepasang pasangan, anak dengan orang tua, atau dengan menantu, kakak dengan adik, siapa saja.
Pihak lainnya biasanya melumer, menyambungkan kembali jembatan yang sempat terputus.
“ Iyah, sama-sama ya..aku juga minta maaf,” semacam itu.
Saya lama tidak mengerti, kenapa saya misalnya harus minta maaf duluan? Meskipun pada suatu kala saya merasa tidak salah. Tapi kalau saya merasa salah, memang biasanya saya dengan sadar meminta maaf duluan.
Kenapa musti minta maaf? Protes hati saya suatu kala. Tapi jawaban yang diberikan hati saya seringkali adalah bahwa diri ini terasa lebih ringan, lalu hubungan dengan orang yang sempat tidak mengenakkan itu akan kembali baik-baik saja.
Tapi baru-baru ini saya membaca ini :


It just means that you value your RELATIONSHIP more than your EGO.
Ah, iya..mungkin memang benar demikian. Semoga menjadi pengingat diri suatu saat nanti, bila ego kadang kala menguasai.

Salam harmoni di Akhir Mei 2014. Glasgow di hari sabtu yang benderang, terang.



Jumat, 30 Mei 2014

Kembali ke Manchester (Day 2)

Manchester yang baru bangun pagi

Bangun di pagi hari kala jalan-jalan memang lain rasanya dengan hari-hari biasanya, terasa lebih bersemangat dan dunia lebih indah ahaha. Kami melakukan England Trip sekitar 8 hari loncat dari kota ke kota lainnya. Memang kadang membutuhkan energi ekstra *(dan duit ekstra) untuk melakukan perjalanan yang long run seperti ini. Sebatas pengalaman saya, asal malamnya bisa beristirahat dengan nyaman dan tubuh memperoleh porsi istirahat serta asupan makan yang cukup, so far sih tidak berasa capek-capek banget ataupun sampai sakit.
Pagi ini setelah mandi dan mencereweti kamar depan biar cepetan mandi, saya dan Mba Fitri menyiapkan sarapan seadanya. Cukup dengan kentang goreng dan telur sisa bekal dari Mba Dini di Leeds.
            “ Ayo cepetan mandi, kami tunggu di bawah,”  memang si bapak-bapak itu ya, baru setelah dicereweti baru mau siap-siap hihih.
Setelah sarapan, kami sekalian check out dari hotel karena sorenya kami akan menuju London. Tapi kami menitipkan tas-tas segede gaban kami di tempat penitipan hotel, biar nanti sebelum ke stasiun kami kembali lagi ke hotel untuk mengambil tas-tasnya. Soalnya nggak enak jalan-jalan sambil memakai backpack yang besar plus tentengan macam-macam. Terasa kurang leluasa. Dan pastinya akan cepat lelah bisa tubuh dibebani barang bawan yang berat, sementara pastinya kami akan jalan kaki lumayan untuk menjelajah Manchester. Maka travellinglah selagi muda, tenaga masih ekstra, semangat masih membara, suatu saat kalian akan menyadari ada beberapa keterbatasan dalam travelling seiring bertambahnya usia *huaaah ini persis nasihat simbah-simbah yak.
Pagi ini jadwal kami kembali ke Old Trafford! Ahaha masih belum puas semalam, dan juga Mas Munir dan Mas Dipta belum ke sini. Nah pagi ini kami jalan kaki menuju Old Trafford lagi, dan foto-foto (lagi). Saya tidak masuk ke Stadionnya, karena dulu pas pertama kali ke Old Trafford sudah pernah masuk ke dalam stadion. Heuheu mahal juga tour-nya, untuk informasinya kalian bisa check di sini. 18 Pounds per person? Glek. Mahal banget kan? Saya dulu bisa masuk dengan harga lebih murah karena menggunakan family ticket. Walaupun saat itu ya pura-pura saja jadi family. Kebetulan saat itu ada bapak-bapak, dan 2 anak dari indo hendak ikut tour stadium, lalu setelah ngobrol-ngobrol maka ikutlah saya biar diikutkan dengan harga family ticket. Jauh lebih murah pastinya.
Begitulah, selain biaya transportasi, akomodasi, harga tiket masuk objek wisata banyak menyita budjet perjalanan.
Kami asik asik aja berwisata murah dengan (kembali) foto-foto di sekitar stadion dan masuk ke Official store-nya MU untuk melihat-lihat berbagai macam pernak pernik khas United. Dan ya pastilah harga merchandise official mahal ahaha, tapi saya beli beberapa souvenir yang sedang diskon christmas. Lumayan untuk kenang-kenangan.
Sanggupnya beli souvenir yang sale ahaha ;p

Sebelum ke Manchester, ada beberapa teman yang nitip belikan jersey asli MU. Tapi setelah saya beritahu harganya, mereka mundur teratur. Oh ya kalau mau check-check harganya apa aja yang ada di megastore MU, bisa dilihat di sini. Kadang-kadang ada diskon yang lumayan lho

Yeiii kami dalam formasi lengkap di depan Old Trafford

ini di dalam Megastore-nya MU, ada versi bahasa Indonesianya lho..huaaa Teater Impian!

Tau nggak Made in mana? INDONESIA huaah
Mas Basid dan Mas Munir berpose :D

Nah sementara saya, begitu melihat ada angka 7, langsung saja nemplok dan minta difoto hihih iya saya memang pecinta angka tujuh. Sepertinya gara-gara nomer punggung si abang yang pernah menjadi punggawa The Red Devils ini.


Eh di dekat kasir, ada bakcground lucu untuk berfoto, lihatlah saya jemur baju dulu yaaah

Hihihi harus segera dijemur, biar kostumnya bisa dipake bertanding lagi 
Oya, akhirnya dong saya ketemu dengan si abang pemilik nomer 7 The Red Devils itu ahah

Si abang ngajak ngobrol lho *lewat layar LOL
Heuheu pernak perniknya super lucu-lucu, tapi harganya sungguh enggak lucu. Seperti boneka MU ini, lucu pas liatnya tapi ditaruh lagi setelah lihat harganya eheh
Lucu bangeeet..pengen bawa pulang, tapi nggak usah bayar hahah

Model terbaru NIKE hiyahahah
Eh eh, di Old Trafford tiba-tiba disapa sekeluarga asal Indonesia yang tengah berlibur di Manchester. Bapak Ibu dan seorang anak perempuan, dan setelah ngobrol ternyata om tante-nya Handini Audita, sahabat saya dulu di Glasgow. Dia sudah balik ke Indo setelah merampung kuliah master. Ampun yah dunia memang sempit ehehe.
Saya dan mereka

Nah setelah dirasa puas menjelajah Old Trafford, kami makan siang dulu di tempat makan yang menyajikan makanan halal. Alhamdulillah di dekat Old Trafford ada tempat makan halal dan harganya terjangkau. 


muka-muka kelaparan tapi tetap sumringah
Dan setelah perut di isi kami melanjutkan perjalanan kami menuju markasnya Manchester City, Etihad Stadium
Walaupun MU dan City adalah musuh bebuyutan, dan saya sebagai fans MU pastinya bukanlah pendukung The Citizens tapi tetap saja ingin melihat bagaimana wujud stadionnya. Atau setidaknya bisa bilang pada diri sendiri “Aku udah pernah ke sana lho” ahaha.
Kami menuju ke markas The Citizens menggunakan tram, lalu berjalan kaki sekitar 20 menit. Sampailah kami di Etihad Stadium yang hawanya terasa berbeda dengan Old Trafford. Entah karena saya pendukung United atau entah karena memang sejatinya demikian, namun Etihad Stadium kurang terasa “gagah”. Kalah wibawa dibandingkan dengan stadion United itu, walaupun prestasi The Citizens tengah moncer sekarang ini.
Kami berombongan kemudian menjelajah stadion ini, berkeliling, foto-foto dan masuk juga ke store-nya City ini. Harga-harga souvenirnya lebih murah dibanding souvenir MU, namun saya enggan membeli souvenir musuh bebuyutan klub yang saya bela ahaha.

di dalam Store the Citizen
Di depan Etihad Stadium


Ada kejadian lucu saat kami menunggu tram ke city center. Mas munir ternyata menenteng tas belanjaan yang satu MU dan yang satunya City. Soalnya dia nggak suka bola tapi membeli ya gara-gara seru-seruan, oleh-oleh kalau pulang nanti. Tapi begitulah, petugas-petugas yang tengah berpatroli saat ini mencadai kami gara-gara dualisme klub itu. Yang satu pendukung MU, sedangkan petugas satunya pendukung the Citizens. Huah jadinya rame. Di situ kami juga melihat beberapa ABG yang tertangkap petugas gara-gara tidak membeli tiket. Memang jarang ada pemeriksaan tiket, namun sekali tertangkap dendanya selangit. Jadi tetaplah membeli tiket apapun itu, agar tenang jalan-jalan kemana saja.
Dari  markas City kami melanjutkan perjalanan menuju City centre-nya Manchester. Humm tidak seperti kota lainnya yang berhias diri dengan ornamen ornamen khas Natal, seperti Manchester nampak plain. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di city centre-nya.

City centre Manchester

Saya secara pribadi memang tidak terlalu menyukai kota ini. Entahlah, hanya terasa “garing” saja sih. Wisata paling populer ya wisata stadion saja, suasana kotanya juga biasa-biasa saja. Jauh-jauh ke Manchester eh masuknya ke Sport Direct ahaha..nemenin Mas Basid beli topi winter. Topi seperti ini cocok untuk melindungi kepala dan telinga, jadi terasa hangat.
            “ Jangan yang warna ini ah, ntar kembaran sama Mas Munir,” kata Mas Basid enggan punya warna yang sama. Soalnya model topinya kembaran dengan topi Mas Munir. Jadilah si kembar ini berfoto dengan topi yang kembar ahah.
Si Topi Kembar

Setelah agak lama menjelajah city centre kami kembali ke hotel untuk mengambil tas dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan kami ke London, yeay!

Saya dan backpack. terimakasih Ibis Hotel !
Catatan perjalanan England Trip Winter Break Desember 2013. Merapikan kenangan
30 May 2014. Glasgow yang cerah ceria siang ini.

Kembali ke Manchester : Menengok Sejarah Mimpi (Day 1)


Kerlip-kerlip bintang di langit musim dingin nampak berkilau. Rasi orion terlihat jelas dari balik jendela Megabus yang kami tumpangi menuju Manchester. Pemandangan megah itu urung membuat saya lelap seperti penumpang lainnya. Saya lebih memilih menikmati kerlipan Orion di langit Britania Raya yang merupakan pemandangan langka. Dulu, rasi itu sering sekali saya amati di atas bubungan rumah saya. Dan kini di langit yang sama, hanya bagian dunia yang berbeda saya kembali menyaksinya.
Ini perjalanan kedua kalinya ke Manchester. Kali pertama dulu saat mengikuti kegiatan KIBAR Gathering, jadi memang menyempatkan jalan-jalan sebentar di sela-sela acara. Nah kali ini memang sengaja ke kota ini untuk jalan-jalan England Trip. Menuju Manchester adalah perjalanan menengok ke belakang tentang mimpi-mimpi. Manchester dulu pernah menjadi bagian penting dari hidup saya, impian saya. Memang tak lagi seexcited dulu waktu pertama kalinya menginjak kota ini, namun tetap saja jalan-jalan selalu menyenangkan.
Kami tiba di terminal bus Manchester sekitar pukul 10.00 malam. Hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun dari bis. Penat badan juga terasa setelah hari ini jalan-jalan di Leeds, dilanjutkan dengan naik bis menuju Manchester. Rasanya ingin segera menuju penginapan kami dan beristirahat.
Kami kemudian menggunakan tram menuju ke daerah Salford Quays, tempat kami menginap di Hotel Ibis Budjet Salford Quays. Kami merasa beruntung bisa mendapatkan akomodasi dengan harga yang murah, kami menyewa 2 kamar dengan total harga (53.20 GBP). Satu kamarnya berisi double bed dan satu bed di atas, jadi bisa ditempati oleh 3 orang. So, dari total 53.20 dibagi enam orang, sekitar 8.86 per orang, murahnya kebangetan kan?
Dan ternyata Hotel Ibis-nya dengan mudah kami jangkau, dengan turun di stop Salford Quays lalu kemudian berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Dan tadaaaa, ternyata emang enak banget tempatnya. Nampaknya hotel ini baru, atau mungkin baru direnovasi. Hotelnya nampak bersih, nyaman dan petugasnya ramah. Saya sekamar dengan mba fitri, lalu yang laki-lakinya berempat berkumpul di kamar satunya. Kamarnya sangat nyaman, kamar mandi dalam, full wifi. Hotel ini sangat recommended untuk kalian yang akan jalan-jalan ke Manchester. Jarang lho bisa dapat harga semurah itu untuk dapat tempat enak dan senyaman itu. Kalau berminat menjajalnya, info lengkapnya di sini.

Ini kamarnya, super nyaman

Setelah mandi-mandi, hal pertama kali ingin kami lakukan pastilah makan ahaha. Perut sudah keroncongan minta diisi. Untung saja Mba dini dkk di Leeds sudah membekali kami dengan nasi briyani plus ayam bakar yang yummy untuk mengisi perut kami yang kelaparan. Tempat makannya juga nyaman, dengan fasilitas microwave, piring dan alat makan lainnya. Nampaknya hanya kami yang bolak balik memanaskan makanan karena piring yang disediakan tidak terlalu besar ahaha. Lalu dengan lahap menghabiskan semua makanan yang tersedia.
Tadinya kami hendak beristirahat, namun demi melihat stadion Manchester United yang nampak dari jendela hotel membuat kami tergoda untuk menuju stadion itu kala malam. Iyah, mungkin sensasinya akan lain bisa ke Old Trafford kala malam. Kapan lagi, mumpung menginap di dekat stadion.
Saya, Mas Basid, Mas Wahyu dan Mba Fitri saja yang beranjak berjalan menuju Old Trafford, sedangkan Mas Munir dan Mas Dipta memilih menyelonjorkan badan di hotel.
Walau ini kali keduanya ke Old Trafford, tapi tetap saja menyenangkan mengunjungi stadion yang pernah menjadi tujuan nonton bola nomer satu, selain San Siro. Hanya dengan berjalan sekitar 20 menit kami sampai di Old Trafford. Eh mungkin lebih dari 20 menit karena banyak berhentinya untuk foto-foto sepanjang ahaha

Di jalan seberang Old Trafford
Stadionnya berdiri gagah, dengan kerlip tulisan Manchester United yang terlihat di langit Manchester yang telah menggelap. Lalu kamipun segera menjelajah di sekitar stadion sambil sesekali berfoto. Memang berfoto bagi sebagian orang *apalagi saya ahah menjadi aktivitas wajib kala jalan-jalan.

Di depan stadion-bersama Ryan Giggs *fotonya doang ;p



Huaah ada Ryan Giggs benaran..aahah ini Mas Basid ding ;p

Suasana stadion kala malam memang terasa berbeda, sepi dan lenggang. Hanya bangunan yang berdiri membisu tanpa suara. Tak ada riuh seperti kala siang hari, apalagi saat hendak pertandingan berlangsung. Tapi bangunan ini adalah saksi banyak pertandingan United, saksi banyak mimpi-mimpi fans MU bergantung.



Lorong Stadion Old Trafford



Gerimis mulai turun satu-satu, malam juga sudah menua. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat dan bersiap-siap untuk petualangan hari kedua di Manchester esok hari.***

Catatan UK Trip winter break akhir 2013. Alasan menulis memang salah satunya untuk merapikan kenangan.

29 May 2014 10.30 pm Glasgow yang baru saja menggelap.