Selasa, 19 Maret 2013

Cinta di Antara Dua Huruf O


Cerpen ini diterbitkan dalam buku antologi cerpen “Balada Seorang Lengger”. Bernafas tentang pemenuhan diri manusia.

“Tak peduli seberapa banyak energi yang kita capai sendirian. Kekuatan cinta kasih dan ketenangan batin kita baru dapat diuji saat kita berada dalam suatu hubungan. “

***
Riuh rendah kentongan Banyumasan terdengar, tetabuhan yang mengetuk pangkal rasa itu, membuat aku dan dia, larut dalam pesona. Festival kentongan yang digelar berkala, setidaknya mengingatkan manusia-manusianya bahwa leluhurnya dulu pernah mencipta, mencipta budaya yang diturunkan melalui generasi penerusnya. Ini tahun kedua kami bersama, festival kentongan kedua yang kami tonton, dan untuk kali kedua pula kami saling bertukar tanya, bila manusia ditakdirkan mencipta budaya, apakah kau tahu untuk apa?
“Mungkin saja hanya untuk memperturutkan rasa, rasa berbudaya, mempunyai karya, atau sekedar memanusiakan manusia,” kataku setelah festival kentongan itu usai. Kami memesan secangkir kopi panas, mendoan dan jagung bakar sambil “nongkrong” di alun-alun Purwokerto. Memang terlalu banyak untuk porsi selingan setelah makan malam, tapi dingin telah menguras habis cadangan energi kami.
“ Fiuuh, bahasamu selalu saja rumit! Menurutku budaya dicipta untuk memberikan kesenangan, titik.” katanya lugas. Dan bisa diduga sedetik kemudian, aku siap-siap membuka mulut untuk mendebatnya. Sementara itu dia malah tertawa menyeringai, berlagak menantangiku. Begitulah persenyawaan kami berdua. Arya, lelakiku, yang bisa menjadi sahabat untuk berbagi tentang apa saja, menjadi guruku bila harus berurusan dengan ilmu eksakta, musuhku bila harus mendebatnya, kasihku bila aku melihatnya sebagai manusia biasa, dan separuh jiwaku bila harus meninggalkannya. Hingga tak kuasa, setengah tahun lalu kuucapkan selamat tinggal padanya.
“Aku pergi”
***
Edinburgh, September 2010
“Apa kabar  Purwokerto kita? Masih sering berkabut saat pagi butakah? Masih riuh rendah dengan teriakan kernet angkot-angkot mini warna oranye itukah? Aku kangen makan mendoan hangat yang ternyata rasanya tak ada duanya di dunia itu, pengen makan Soto Sokaraja yang mak nyus, atau sekedar nongkrong-nongkrong di Alun-alun Purwokerto sambil menikmati jagung bakar dan ngobrol soal urusan negara sampai soal yang remeh temeh sekalipun. Kapan kita nonton festival kentongan lagi?menyelusup di lapak-lapak Pasar Wage, lalu menawar barang dengan kesadisan tingkat tinggi, atau menyambangi Yu Tarmi yang asyik membatik. Kapan kita jalan kaki menghirupi sejuknya udara Baturraden? membincangi alam disaksikan deburan air Curug Ceheng?telingaku juga sudah rindu mengakrabi lagi bahasa ngapak-ngapak itu. Inyong, koe, kepriben,  dan terlebih lagi, aku merinduimu” eegh ingin rasanya kuberondong dia dengan pertanyaanku, bicara sampai berbusa-busa. Menjadikan waktu diam sejenak dan meringkas jarak.
            Hatiku ngilu mengingat hal itu. Kenangan adalah penjara bagi pikiran yang membututiku kemana-mana. Dan makin lama, ia membuatku kehabisan daya. Memikirkannya hampir membuatku gila, mencemaskannya membuat syaraf-syarafku kehabisan daya impuls. Edinburgh-Purwokerto, dan jarak serta ketidakbersamaan menjadi semakin nyata. Aku kehilangan daya. Apakah sebenarnya dayaku ada pada dayanya? Aku kecanduan. Kecanduan aliran energinya yang membuatku meletup letup seperti bunga api, melesat-lesat selalu bila ia ada bersamaku, dan sebuah persenyawaan yang berubah menjadi tawar bila dia tak ada.
            “ Heiii…nona manis, dicari-cari eeeh.. ngumpet di sini..kamu lagi kenapa sih Kin? kok pucet gitu mukanya? Belum makan?” Tanya Arinda mengagetkanku. Ia sahabat satu flatku. Dengan paduan jaket panjang berwarna hijau tosca dan syal yang berwarna senada, Arinda selalu saja nampak mempesona.
            “ Enggak, pengen nyepi aja. Enak di sini udaranya, sejuk, kayak Purwokerto” jawabku singkat, sambil menggelengkan kepala. Mataku kembali memandangi Kastil Edinburgh yang gigantis di atas bukit itu. Angin musim gugur menciumi syalku, memainkan lagu rindu dalam hatiku. Eeggh, ini rasa paling aneh yang pernah kurasai, mendesak-desak dadaku sampai ngilu.
            “ Hayooo..mesti lagi kangen sama Arya ya? “ tebak Arinda, dan sayangnya tebakannya kali ini tepat.
Aku masih duduk diam mematung, kehabisan daya. Energiku habis untuk merindu. Tugas-tugas kuliah masterku masih belum kusentuh, rasanya otakku ngambek untuk berpikir. Ada paduan rasa resah, harapan yang membuncah serta realita yang tak kuasa kukendalikan. Eghh kemana hilangnya seorang Kinanthi yang selalu cerah ceria, berbinar binar, tertawa renyah, dan canda tawanya yang selalu dirindukan dunia itu? Hilang, ditelan rindu. Rindu yang ditelikung jarak dan waktu, aku tergugu kelu.
            “ Iya nih, aku jadi nggak jelas gini” jawabku singkat. Walau aku tak yakin kata “nggak jelas” bisa mewakili campur aduk rasa yang tengah melandaku kini.
Angin musim gugur berhembus lagi, menerbangkan daun-daun maple yang gugur, dan bersamaan itu aku berharap angin sanggup menerbangkanku untuk pulang sejenak saja. Menjumpai sebagian jiwaku yang terbelah. Menggenapkan diriku yang hilang separuh. Sudah hampir setengah tahun aku melewatkan waktu di Edinburgh, Skotlandia, tempat yang lebih mirip negeri dongeng itu. Kastil-kastil menjulang tinggi di perbukitan, serta langit yang nampak terbentang lebih luas dibandingkan tempat lain di muka bumi ini. Hidup bermil-mil jauhnya dari tanah kelahiran demi kuliah jurnalismeku di University of Edinburgh. Tapi, semakin lama energi mimpi yang membawaku kemari hampir surut habis. Kemana larinya dayaku? Fisikku melemah, sakit, ngilu, kehilangan daya juang, daya karya dan daya hidup.
*Bandara Soetta, 29 April 2010.
            “ Arya, kau tahu..ada beberapa hal dalam hidupku yang layak untuk kuperjuangkan, dan kau adalah salah satunya” sebaris kalimatku terlontar saat waktu terasa hanya menyisakan detiknya yang begitu sedikit bagi kami.
Ia diam, menatapku dalam-dalam, tak bicara. Dan aku sungguh tak dapat menerka apa yang ada dalam hatinya. Ruang, jarak, waktu, mungkin adalah hantu yang selama ini telah menakuti kami sebelum waktunya. Kami benci berpisah, kata yang beberapa bulan sebelum keberangkatanku ke negeri nan jauh itu membuat dadaku sesak. Aku benci pergi, tepatnya aku benci merasa kehilangan, kehilangannya.
            “ Kin..jaga kesehatan ya, salatnya jangan lupa, makannya harus teratur, istirahatnya juga ya,” katanya dengan suara parau. Kenapa suaranya mendadak menjadi parau? Aku ingin menguping apa yang dikatakan hatinya detik itu. Sebentuk rasa kehilangankah? Kenapa aku harus mempertanyakan itu. Apakah hatiku akan sedikit puas bila ia merasa kehilangan? Yang itu berarti bahwa aku berarti baginya?ah..aku egoistis, batinku.
Airmataku menderas, kenapa harus begini, lagi dan lagi. Kenapa aku yang harus terus membalikkan punggung dan meninggalkannya sambil menatapi punggungku sampai di penghujung pandangan matanya?tahukah engkau, hal itu adalah hal terbenci yang harus kulakukan.
            “ Kau kan pergi untuk sebuah alasan yang baik. Rihlah, talabul ngilmi..kenapa harus berat melepasmu pergi?” kalimat itu lamat-lamat kudengar di ujung telpon kala itu. Ia sama sekali tak merasa kehilangan bilaku pergi, yakinku dalam hati. Dan kenapa seperti ada yang tercerabut dalam hatiku. Sepi.
                                                                        ***
Edinburgh, Januari 2011,
            “Yen ing tawang ono lintang cah ayu, Aku ngenteni tekamu”
             Marang mego ing angkoso. Sung takon-ke pawartamu”
Suaranya berjuang  menyeberangi samudra, melintasi tanah-tanah yang jauh, menuju hatiku. Tak peduli suaranya dikacaukan dengan sendatnya jaringan internet, sejenak menghilang, terdengar lagi, dan dikacaukan suara desis angin. Tetap saja tembang yen ing tawang ono lintang-nya itu mengalirkan energi maha dahsyat bagiku.
Hingga tak sadar, mataku bertaburan kaca, sesak rasaku, dan sedetik kemudian air mataku menderas. Kenapa harus begini, dan begini lagi. Kenapa hadirnya, suaranya, ocehan yang tidak jelasnya itu selalu mampu menyembuhkan penyakit gilaku ini. Penyakit kecanduan energi, aih, sampai kapan harus ketergantungan terus padanya?
            Please..contact me at 5 pm waktu purwokerto, need to talk to you soon. Energiku hampir habis..911,” tulisku tadi siang dengan tangan sedikit gemetar di layar skype pada accountnya yang berstatus offline. Begitu, selalu dan selalu. Aku sakaw bila lama ia tak ada. Energiku low berkedip-kedip kayak ultraman kehabisan daya bila lama tak bersamanya. Walau bersama dalam kejauhan, karena batas makna kebersamaan semakin memuai karena teknologi.
             “ Heiii…kok diem, sudah mandi, Kinan?” tanyanya. Kenapa justru pertanyaan seperti itu yang ia lontarkan? Tapi kenapa juga pertanyaan remeh temehnya itu yang selalu kutunggu. Hatiku, otakku, kehilangan intelektualitasannya. Kuseka air mataku, dan menjawabnya.
            “ Dingin tau, mandi itu kan aktivitas fungsional, kulakukan sesuai fungsinya, membersihkan diri, bukan kewajiban mandi dua kali sehari ” kilahku. Uff cobain ke sini, emangnya dia sanggup menahan dingin ?fiuuh..
            “ Aku kan cuma nanya, sudah mandi belum?jawabannya kan sederhana sudah atau belum. Selesai, dan terjawab. Dan aku tau kau pasti belum mandi ehehe,” kudengar tawanya renyah, menyeberangi samudra, menyelusup dalam telinga dan menghangatkan hatiku. Tapi sampai kapan aku mengandalkannya untuk menstabilkan suasana hatiku? Ada yang tidak beres dengan diriku.
            “ Aku kecanduan, aku kecanduan akanmu. Aku tanpamu adalah pribadi yang hilang, yang separuh, kau membuatku nggak jelas” racauku. Nggak jelas, kata lain dari hampa, hilang daya dan karya tanpanya. Aku benci, mengatakan itu. Mungkin dengan kalimatku itu rasa kelelakiannya akan terbang meninggi sampai puncaknya. Menguasaiku, seperti penjara.
            “Masa kau samakan aku dengan narkoba, kecanduan..ehehe..ada-ada saja” guraunya. Risikoku, mencintai seorang yang begitu lugas, dan polos terkadang. Aku sedang mellow begini rupa, tak bisakah kau sedikit berdrama?. Seperti kisah cinta jarak jauh yang romantis, yang saling mengharapkan?
“ Aku lelah. Kini aku mengerti, aku lelah karena aku diracuni kata menuntut. Menuntutmu ada, tapi tiada. Menuntut aliran energi dari celotehmu, racauan tak jelasmu, tapi kadang aku harus berkompromi. Aku keracunan, aku kecanduan, eghhh…aku mau sembuh!” sambungku dengan nada yang semakin meninggi, meracau lagi.
            “ Kalau lelah dengan kuliahmu, jalan-jalanlah di akhir minggu, ke Glasgow barangkali. Kau kan punya banyak kenalan di sana. Kau mungkin penat dengan urusan kuliahmu, rehat sejenak, nanti juga baikan lagi. Oh ya jangan lupa, beliin kilt pesenanku loh ya” katanya datar, seakan tak terjadi apa apa denganku. Padahal aku hampir gila rasanya karena susah mendeskripsikan apa yang tengah melandaku.
“ Sudah dulu ya, hidung kecilku, jangan lupa mandi ya, maemnya kudu teratur, jangan kebanyakan ngopi, istirahatnya juga..eits, salat malamnya juga” katanya seperti kalimat itu sudah kuhapal di luar kepala. Kalimat itu rasanya sudah ratusan kali kudengar, tapi entah kenapa, ingin kudengar lagi..dan lagi. Bliip..sambungan skype terputus. Aku tercenung. Kenapa selalu ada yang hilang saat ia pergi?

                                                            ***
Angkringan Jalan Kampus, Purwokerto, 7 Agustus 2011
Terkadang tanah air adalah segala tentang keistimewaan. Istimewanya bisa duduk lesehan di pinggir jalan, memesan secangkir kopi panas dan mendoan hangat. Merasakan lagi hiruk pikuk kota yang sebenarnya tak terlalu padat ini, teriakan bahasa ngapak-ngapak yang khas dan canda tawa yang polos penuh keterusterangan. Bagaimana aku tak merinduinya. Dan yang membuat tanah air lebih istimewa, karena bisa kupandangi lagi si lelaki yang ngapak tulen ini,
            “ Arya, aku sadar satu hal, aku takkan pernah bisa memperjuangkanmu, sendirian” ungkapku pelan-pelan.
            “ Maksudmu, kau ingin kita…putus?Kinan..maksudmu kepriwe?…dulu kau berkata kau akan memperjuangkanku?dan kini kau berubah?” kalimatnya memburu. Aku memberikan jeda, supaya kalimat yang keluar dapat tercerna.
            “Bukan..aku hanya menyadari satu hal, aku takkan pernah bisa memperjuangkanmu, sendirian” kataku hati-hati, tahu pasti kalau lelaki bertipe lugas ini selalu mencerna kalimatku dengan begitu polosnya.
            “Atas dasar kekuatan apa aku bisa memperjuangkanmu? Dengan cara apa? Aku kini sadar takkan bisa” kalimatku menggantung di udara. Kudengar ia mendesah, menanti kalimatku selanjutnya.
            “ Bayangkan bila aku menelponmu, bila aku mengirimkan email padamu bercerita sampai berbusa-busa, menyapamu di YM tiap kali aku online. Pernahkah terpikir olehmu, apa jadinya bila kau tak ingin menjawab telponku dan beralasan kau sedang sibuk, tak menjawab email-emailku dan tak menjawab chat-ku di YM atau skype?perjuangan macam apa yang bisa kulakukan?nggak ada” jelasku panjang lebar. Selama ini cinta selalu diikatkan dengan keabadian, diharuskan selamanya tak berubah, padahal cinta terus bergerak, selalu baru. Dan di samping seringnya cinta menjadi hiperlogika dan semaunya sendiri, ternyata ia tetap membutuhkan suatu mekanisme untuk tetap bertahan.
            “ Lalu apa maksudmu Kin?” tanyanya lugu.
            “Hubungan hanya bisa berjalan bila ada kesediaan untuk terus terhubung di antara dua orang. Selama ini aku bersedia, dan kau bersedia, sebegitu sederhana mekanismenya. Kenapa aku baru menyadarinya. Aku terlalu merasa adikuasa untuk bisa mempertahankan cinta kita” aku merasa baru saja menjelaskan sebuah teori penemuan besar tentang sebuah hubungan. Menurutku sebuah penemuan teori yang luar biasa, tapi runtuh seketika ketika mendengarnya bicara,
            “ Hadeeeh..selama ini kan aku bersedia, kenapa sih kamu? Aku kan selalu bisa kalau kau mau bercerita lewat skype, bisa chat di YM walau kadang-kadang jarang bisa online kalau aku lagi  sibuk. Kan kamu ngerti banget jadwal kerjaanku. Koe kok dadi aneh. Jauh dan dekat kan hanya soal relativitas, kayak teori rumitmu itu. Semuanya kembali ke rasa, seperti katamu juga. Hadeeeh aku ketularan bahasamu yang rumit itu” kelakarnya.
            “ Eghhh…ngerti nggak sih maksudku?nyebelin” aku gusar. Lebih tepatnya, gemas.
            “ Ehehe iya ngerti, hidung kecilku” katanya singkat. Ufff, nggak romantis banget sih dia. Susah diajak ngomong serius, tapi begitulah, entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang membuat segalanya bisa terkompromikan.
            “ Kinan..dengar baik-baik, karena takkan kuulangi lagi. Hatiku hilang separuh saat kutatapi punggungmu pergi sampai menghilang di bandara kala itu. Kehilangan, mungkin itu yang kau sebut. Tak bisa melihat senyum merekahmu yang mencerahkan hariku, tawa renyahmu yang mampu menghilangkan penatku, tak bisa berbagi kapanpun kumau. Aku, terkadang tak yakin akan mampu mengalahkan jarak, waktu dan ruang. Aku lelah, kehilangan energi.” Wait..Itu kalimatnya?benarkah itu dia yang bicara? Lelaki pragmatis itu?
            “ Rupanya kita masih separuh yang bersama untuk menjadi utuh. Kita masing-masing merasa hilang bila kehilangan satu sama lainnya.” Lanjutnya lagi. Aku melongo, masih tak percaya mendengar kalimatnya.
            “ Itu kau? Benar kau yang ngomong, nyontek kalimat darimana? “ candaku. Sebenarnya beneran bertanya dengan penuh penasaran. Hadehh..tadi aku mengharapkan dia beraksi demikian, kenapa aku merusak drama ini dengan komentarku.
            “ Inyong laaaah sing ngomong, masa selama ini bersamamu tak mampu menciptakan kalimat sing mandan ruwet sepertimu ehehe” tawanya semakin terasa hangat di hatiku.
            “ Kita masih menjadi dua huruf C, yang mencari keutuhan dengan bergabung menjadi menjadi lingkaran O yang utuh. Karena itu kita habis daya, menuntut dan selalu takut kehilangan bila terpisah. Jiwaku merasa makin tak sehat” simpulku.
            “ Omongan kita keren yak? Filosofis ehehe” candanya selalu merusak suasana. Eghhh…baru saja mau ngomong rada serius, dia mulai lagi dengan tingkah asalnya. Aku tertawa tergelak.
            “ Jiah..ampun deh, biasa aja kali, ngomong ruwet nggak jelas. Tapi aku ingin  menjadi huruf O utuh untukmu. Eh..untuk diriku sendiri terutama. Kata buku yang kubaca…Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. Aku menimpalinya.
            “ Kau kebanyakan baca buku nggak jelas. Tapi okelah..kalo begitu huruf O-ku harus lebih besar dari huruf O punyamu ehehe,” kelakarnya. Kupaham benar maknanya, kalimat itu bukan untuk menantang, atau memantik sebuah ketidaksepahaman. Hanya untuk memancingku untuk protes, menentangnya, meributinya. Dia yang selalu suka protesku, penentangan “pura-pura”ku dan keributan manis di antara kami.
            “ Mari kita rayakan, dua huruf O yang pacaran, yang utuh bukan separuh.” ungkapnya lugas dan tandas. Mengangkat segelas jahe susu dan mengajak toast denganku. Aku tersenyum, lega.
Di lesehan angkringan itu, kami menemukan cinta di antara dua huruf O. Karena kami mencoba menjadi dua pribadi yang utuh yang saling mempertinggi energi masing-masing kami, bukan sebentuk dependensi.

*kilt  : rok tartan asli Skotlandia
 

Senin, 18 Maret 2013

Mempertanyakan Hidup




Mataku melihat judul buku itu di antara beribu judul buku di Gramedia Amplas Jogya, buku itu pasti memberikan signal untuk kubacai. The Celestine Vision–James Redfield, itu judul buku dan penulisnya. Celestine? Umm saya teringat The Celestine Prophecy karya Redfield juga. Lanjutannya kah? Atau buku ini berhubungan dengan The Celestine Prophecy? Iyah, ternyata benar. Buku ini semacam karya non fiksi yang berhubungan dengan The Celestine Prophecy. Sementara karya fiksi lanjutannya berjudul “wawasan ke sepuluh” melanjutkan ke-9 wawasan yang diutarakan dalam buku yang pertama.
Lalu berpindahlah akhirnya buku itu ke tanganku, Buku itu yang memilihku, atau aku yang memilih buku itu? # rumit amat sih saya ehehe..;p
Dan akhirnya malam itu, saya membeli dua buku yang telah dengan sengaja memilih saya untuk membacainya#pede. The Celestine Vision dan Dunia Sophie-nya Jonstein Gaarder, di sela-sela lagunya Taylor Swift yang diputar di Gramedia dan seketika blip, dunia berhenti beberapa menit. Lalu suaranya Taylor swift tiba-tiba berubah jadi suaranya seseorang yang pernah menyanyikan lagu ini untuk saya.
Romeo take me somewhere we can be alone
I'll be waiting all there's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story baby just say yes
Aih lost focus! #abaikan.
The celestine Phophecy, The celestine vision, Dunia Sophie. Buku-buku aneh, mungkin itu label kebanyakan orang. Ahihihi begitulah, karena saya punya hobi mempertanyakan hidup. Dan biasanya buku-buku itu secara ajaibnya mendatangi saya. Tuhan menjawab apa yang saya tanyakan. Pertanyaan saya beberapa dijawab lewat buku, beberapa lewat orang yang hadir dalam hidup saya. Dengan begitu saya menyadari hidup saya. Sampai mana, untuk apa, dan apa selanjutnya.
Beberapa saat yang lalu, dalam perbincangan dengan seorang teman lama tapi baru (berteman lama di FB tapi baru kali ini bertemu). Dengan spontan saya lontarkan pertanyaan saat ia bercerita tentang alur pekerjaannya
            “ Nggak tau juga, alur kerjaan saya zig zag, nggak cocok sama keilmuan saya” paparnya.
            “ Trus motifmu apa melakukan kerjaan yang sekarang ini?” spontan pertanyaan itu yang terlontar dari mulut saya.
Dia sedikit terpengarah, mungkin tidak menyangka akan mendapat pertanyaan begitu rupa.
            “ Ahaha nggak tau juga” jawabnya. Saya tersenyum, karena saya tahu setelah itu, nanti atau beberapa hari kemudian dia akan memikirkan pertanyaanku tadi itu.
Bagaimana mungkin seseorang tidak tahu mengapa/motif melakukan pekerjaan/profesi tertentu? Ah, tapi itu banyak terjadi di sekeliling kita. Hey kamu pasti sudah tahu motifmu bukan? Bahkan bila kamu melakukan demi motif uang sekalipun. Kamu harus tahu. Untuk apa? Untuk memberi makna hidupmu. Seperti arah kompas yang ingin dituju, seperti tujuan dalam setiap penelitian, setiap penjelajah dan setiap peneliti harus tahu itu.
Seandainya manusia sedikit saja menyediakan waktu untuk mempertanyakan hidup, sebelum ia “berlarian” lagi.
Saya mulai mempertanyakan hidup saat mewujudkan impian saya dulu. Setelah impian saya sudah terwujud, saya diserang pertanyaan seperti, jadi untuk apa ini semua? Buat apa? Selanjutnya apa? Lalu dengan ajaibnya saya menemukan buku “The Alchemist”nya Paulo Coelho. Jadi memang buku itu sangat berpengaruh pada hidup saya, bukan karena bahasanya, ceritanya, atau lainnya. Tapi karena melalui buku itu Tuhan menjawab pertanyaan saya.
Sejak saat itu saya mempunyai kebiasaan untuk mengamati kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup, mengamati semesta merangkai kejadian demi kejadian dan membacai pertandanya (jreeng..bahasanya absurb yah). Seringkah kalian mengamati kejadian yang dilabeli orang sebagai peristiwa “kebetulan”? bila sering-sering mengamati, engkau akan menyadari hidupmu adalah susunan kejadian ajaib. Saya, dengan jujur sering “gemes” dengan Tuhan dengan “permainan” kejadian-kejadiannya.
Sebelum buku The Alchemist, saya sudah terpengaruh oleh beberapa buku-nya Gede Prama, Dee dan Covey, tapi baru saat The Alchemist datang dalam hidup saya, saya semakin sering bertanya, berbicara dan mencari tahu tentang hidup.
Setelah itu saya bertemu dengan seri-seri buku The Secret, kemudian mengenal bahasa semesta, terpesona dengan The law of atraction yang banyak mempengaruhi hidup saya. Saya merasa hidup saya semakin seperti anak tangga, seperti perjalanan. Kadang bingung mencari arah, kemudian Tuhan memberikan jawaban. Kadang setelah tahu jawabannya, saat saya meneruskan perjalanan saya bisa saja tiba-tiba melupa apa yang telah saya diketahui sebelumnya. Dalam artian lupa tidak saya jadikan sikap hidup lagi.
            “ Semesta merespon apapun yang kita pancarkan”. Secara teori saya mengerti itu, tapi dalam perjalanan, dalam bawah sadar saya sering memancarkan signal-signal negatif, sehingga semestapun merespon serupa. Hidup perlu disegarulangkan, untuk merekap lagi pelajaran-pelajaran yang lalu.
Dan akhir-akhir ini, saya banyak mengambil jeda untuk kembali me-recall pelajaran-pelajaran saya. Setiap orang mempunyai tahapan pembelajarannya sendiri-sendiri, saya percaya itu. Kadang jiwa saya memberikan signal bahwa saatnya jiwa saya disegarkan. Guru akan datang saat murid sudah siap. Dan biasanya saya ke toko buku dan membiarkan ada buku yang dengan sengaja bertemu dengan otak saya. Seperti senin minggu lalu, usai riset lapangan saya sempatkan ke Gramedia Purwokerto. Jiwa saya akhir-akhir ini lelah karena terus menerus berlarian. Niatnya ingin mencari buku “Sewindu”nya Tasaro GK tapi ternyata masih belum liris di toko buku. Dan akhirnya “The Magic”nya Ronda Bryne memilih saya untuk tahu tentang kejaiban syukur. Sekali lahap buku itu langsung bikin jiwa jadi segar. Ya ampun, selama ini sudah tahu tentang syukur, dari kecil diajari syukur, di pelajaran agama juga dikasih tahu soal bersyukur. Tapi baru sekarang ini saya “paham” ajaibnya daya syukur dan efek-efek luar biasa yang bisa diciptakannya. Aih gila, andai lebih banyak manusia yang baca buku ini dan tahu “rahasia” ini, makin banyak hidup-hidup yang tercerahkan.
Dan kemarin The Celestine vision berhasil membuat otak saya nggak mau istirahat sebelum bacaan buku itu selesai. Sudah larut hampir dini hari, mata sudah ngantuk tapi otak nggak mau istirahat saking excited-nya. Kayak nemu “rahasia” rasanya ehehe. And again, Tuhan memberikan jawaban tentang suatu hal yang sedang saya alami. Sebenarnya pembelajaran berulang, karena pelajaran yang dulu sudah saya tahu dari The Celestine Prophecy banyak saya lupakan (atau saya ingat tapi prakteknya sulit xixi). Tuhan kasih remidi sepertinyaaa ahaha..
Oh ya, tentang buku The Celestine Prophecy. Saya semakin takjub tentang bagaimana buku itu bisa ada di tangan saya. Buku itu diberikan sebagai hadiah dari Widuri, sahabat baik saya. Dan ternyata buku itu ingin saya tahu tentang ke-sembilan wawasan itu. Dan salah satu poin yang dulu saya baru belajar adalah tentang “ketergantungan energi”. Hal tersebut pernah saya baca di tulisan Dee lewat kalimatnya “kita harus menjadi utuh dulu untuk bisa mengutuhkan orang lain”. Dan hal itu menginspirasi saya membuat cerpen berjudul “Cinta di antara dua huruf O”. Saat itu saya mengalami ketergantungan energi kronis karena ujian sebenarnya mengenai “penuhnya” diri manusia teruji benar dalam suatu hubungan. Setelah saya tahu ilmu “perebutan energi” itu saya sembuh. Tapi kemudian penyakitan lagi ahaha..
Lalu The celestine vision kemarin itu datang datang dalam hidup saya untuk kasih kuliah lagi. Saya cuma senyum-senyum nyengir, walau otak saya terus berpikir. Ada banyak hal dalam buku itu yang mempesona otak dan jiwa saya. Dan makin membuat saya sadar, ternyata “kitab-kitab”nya orang-orang yang saya kagumi nilai hidupnya itu hampir semua sama bacaannya. Mereka sudah terlebih dahulu mengetahui tentang “rahasia-rahasia” itu. Hidup ternyata bisa menjadi begitu ajaibnya. Saya rasanya kayak nemu harta karun! Ehehe..lebay terus-terus ternyata nagih juga!
Kini saya mengutuh kembali, penuh kembali. Setelah tahu rahasia energi, ternyata energi itu bergender kawan, ada gender laki-laki dan perempuan, dan kamu akan mengutuh bila sudah bisa mampu mengaktifkannya. Life is Magic, Miracle bila kita menemukan rahasiaNya!
Ah baiklah, kalian sudah protes : ngomongin apa sih  ini dari tadi? Ahaha..kabur ah. Selamat sore, selamat menjalani hidup kalian yang ajaib, kawanku! Kapan-kapan saya meracau tentang hal ini lagi.

Ndalem Pogung, 18 Maret 2013.

Rabu, 13 Maret 2013

So Grateful with Life :)





Kali ini saya ingin bersahabat dengan sunyi. Mungkin sunyi dapat membantu saya lebih jernih mendengarkan kata semesta, semakin jernih pula melihat keajaiban-keajaiban semesta. Hidup ternyata telah memberikan saya banyak sekali kelimpahan, yang sering kali alpa saya lihat.
Saya semakin jarang merasa adanya udara, saya semakin sering mengindahkan ajaibnya matahari, paling-paling saya peduli soal hujan, karena pesonanya tak pernah mampu kuindahkan.
Saya terlalu sering berlarian. Mengejar apa? Untungnya saya tahu apa yang saya kejar dan ingin wujudkan. Namun kali ini saya hanya ingin mengambil jeda bersama sunyi agar saya dapat merasa, melihat, mendengar lebih banyak lagi.
Saya harus bersyukur saya tahu apa yang saya tuju, alasan-alasan saya serta kebermaknaan yang ingin saya capai dalam hidup saya. Walau akhir-akhir sering berlarian, saya agak melupa keajaiban di sepanjang “perjalanan”.
Kali ini saya ingin bersyukur dan bersyukur, Tuhan selalu Maha Baik. 
Terimakasih, terimakasih, terimakasih.
Saya ingin kembali menyadari hadir udara, angin, dan kehadiran semesta di sekeliling saya yang selama ini saya melihatnya sebagai something take it for granted. Padahal harusnya saya berterimakasih bahwa semesta telah menyediakan serangkain kosmik-nya yang teratur agar kehidupan berjalan dengan normal.
Terimakasih, terimakasih,
Bahwa saya dipertemukan dengan orang-orang yang hadir dalam hidup saya. Karena tanpa mereka semua, hidup saya akan sama saja. Bila saya sendirian saja, kemanapun saya pergi, ke pelosok negeri, menjelajahi benua biru Eropa atau ke sudut-sudut Jogya sekalipun, apa bedanya? Hidup ternyata dihidupi oleh interaksi dengan orang lain, dan saya harus bersyukur untuk itu. Tawa saya akan terasa sumir bila sendirian, senyuman saya akan menguap hampa bila tak dibagi bersama kalian semua, tangis saya akan terasa sepi bila tangis sejenis tangis tanpa alasan, basi.
Terimakasih, terimakasih,
Hidup saya ternyata kaya, karena semua katalog rasa sudah pernah saya rasai, dan hidup ke depan menawarkan lebih banyak lagi keajaiban-keajaiban dan saya tidak ingin membuta dan mati rasa. 
Tuhan Maha Baik, Selalu.
Tak cukup bila saya harus satu-satu menghitung karuniaNya, tapi saya harus terus menghitung agar percaya bahwa hidup saya penuh dengan keberlimpahan.
Terimakasih, terimakasih kamu
Yang mengajari saya rasanya dicintai, mencintai. Memahamkan pada saya bahwa kita sama sekali tidak bisa mengubah seseorang. Mengajari saya rasanya terluka dan memaafkan diri sendiri, karena tak seorangpun bisa menyakiti hati kita tanpa kita ijinkan. Terimakasih telah membuat saya menerima kesalahan-kesalahan yang telah saya buat, memaafkan diri sendiri dan berterimakasih atas kesediaannya untuk mendukung dan membahagiakan saya. 
Apapun, seberapun yang saya terima dalam hidup, mungkin bila dikonversikan sama seperti yang telah saya berikan. Apa yang ada pada saya, pastilah sebanyak rasa syukur saya. Apabila saya merasa kekurangan dalam suatu hal dalam hidup pastilah karena kurangnya rasa syukur saya disitu.
Terimakasih, terimakasih. 
Saya sudah sering mendengar, diajari tentang rasa “syukur” tapi baru kali ini memahami “rasa syukur” dengan cara yang berbeda. Hidup ternyata penuh keajaiban setiap detiknya. Tuhan telah memberikan saya banyak sekali kelimpahan.
Sekarang saya punya serbuk ajaib bernama “syukur” yang ingin saya taburkan pada apa dan siapa saja. Saya juga punya batu ajaib bernama “gratitude stone” yang akan selalu bersama saya. Yang akan saya genggam menjelang tidur untuk berterimakasih pada hidup sepanjang hari dan memilih kejadian terbaik yang harus saya syukuri. Karena dengan memilih kejadian terbaik, saya sudah mengingat kejadian-kejadian baik yang patut disyukuri sepanjang hari, dan semakin percaya hidup penuh dengan keberlimpahan. Batu itupun akan saya genggam saat Tuhan menghidupkan saya kembali pada pagi berikutnya, terimakasih telah memberikan saya satu hari lagi.
Saya bersyukur kalian mau runtut membacai tulisan saya ini, karena saya hidup karena menulis, dan kalian semua membuat hidup saya semakin hidup. Terimakasih, terimakasih.

“Siapa yang memiliki syukur akan diberi lebih banyak, dan ia akan memiliki kelimpahan. Siapa yang tidak memiliki syukur, maka bahkan apa yang dimilikinya akan diambil darinya.”

Semoga hidup kalian penuh dengan keberlimpahan.

13 Maret 2013.


Rabu, 06 Maret 2013

Me/Laju





Me/Laju

Derasi aku dengan hujanmu, maka ia akan menyuburkan semangatku
Bekukan aku dengan saljumu, maka tubuhku akan mencari cara menghangatkan dirinya sendiri
Panasi aku dengan terik mentari, akan kujadikan bahan membakar energi menantangi hari
Jatuhkan aku, maka aku akan meloncat lebih tinggi lagi
Matikan aku, maka jiwaku akan merasuk pada jiwa-jiwa ribuan anak negeri ini.
Matikan aku,  maka jejak-jejakku dalam karya akan tetap tertinggal

Me/Lajulah//lajuku


*Titik terendah terkadang amat dekat dengan puncak tertinggi, selamat pagi !
Ndalem Pogung, 6 Maret 2013

Senin, 25 Februari 2013

Let The World Surprise You




Hujan  masih menderas, perciknya hampir sampai di ujung-ujung jari kakiku. Teras rumah saudara ini sepi, hanya aku dan orkestra suara hujan. Sepi tentu saja, karena pemilik rumahnya, Budhe Mami sekeluarga tengah arisan keluarga dilanjutkan acara 40 harian almarhum simbah putri di rumahku. Tapi justru aku yang berada di sini. Karena setengah jam yang lalu, dengan tanpa pikir panjang, aku segera mengemasi sampel-sampelku (RNA dari isolasi serum pasien DBD) dari kulkas rumah dan  menempatkannya ke cooler box, lalu segera melakukan aksi penyelamatan.
Pet! Di tengah-tengah acara kumpul arisan keluarga listrik tiba-tiba mati. Ah, Tuhan mau becanda lagi, begitu pikirku. Sampel-sampel yang harus disimpan dalam kulkas dengan suhu -20 C itupun harus kuselamatkan. Dan di tengah rintik hujan saya melarikan  motor cepat-cepat ke rumah saudara. Dan Alhamdulillah listrik menyala dan sampelku kutempatkan di freezer kulkas.
Sampel itu se-nomaden saya. Asalnya dari RS Margono (Purwokerto), saya bawa ke Laboratorium Mikrobiologi UGM, Jogya dan kemarin saya bawa ke rumah di Kebumen, untuk besok pagi saya bawa ke Loka Litbang Banjarnegara. Sampel itu nampaknya sudah bisa menyesuaikan diri dengan saya, yang nomaden tak tentu. Besok saya pindah lab ke Banjarnegara, pun tak tahu akan tinggal dimana, apa akan balik ke Purwokerto atau bisa ada tempat tinggal di sana sehingga saya bisa beberapa hari mengerjakan sampel. Hidup saya memang tak tentu.
            “ Lihat nanti bagaimana” itu yang sering saya ucapkan pada hati saya.
 Saya tumbuh hampir dengan ritme hidup seperti ini. Saya sendiri heran, ada apa dengan semesta yang gemar bercanda dengan saya. Kalau saya sedang sadar, maka dengan senyum lalu dalam hati saya berkata : Humm mau mainan lagi kan? Let’s Play!!
Hidup saya sering ada dalam situasi dan kondisi ekstrim, tak tentu, tak pasti. Seperti juga katamu suatu kali :
“ Bersamamu, penuh kejutan, ketidakpastian, Hidup ke depan tak bisa tertebak akan terjadi seperti apa,”
Saya memang tipikal orang yang nabrak-nabrak, nggak well prepared, nggak well organized. Tapi saya punya keyakinan yang sulit saya jelaskan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berakhir baik, kalau belum baik-baik saja, berarti belum berakhir. Kemarin-kemarin saya berpikir, jangan-jangan saya memang mencandui rasa kejut itu, rasa ada dalam keadaan ekstrim, rasa ketika adrenalin terpacu? Mungkinkah saya mencandui rasa itu? Entahlah, mungkin juga begitu.
Namun terkadang, saya tak tega bila harus melibatkan orang-orang tercinta saya dalam keadaan-keadaan ekstrim. Orang tua saya paham benar ritme hidup saya, sehingga lama-lama merasa agak terbiasa. Pasti dikasih susah susah dulu, trus entar di kasih jalan, kata ibuku.
 Tapi kadang, sungguh tak tega juga. Rasanya pengen bilanng “ Bolehlah becandaan sama saya, nggak papa mau main-main kayak apa juga. Tapi jangan bawa-bawa orang-orang tercinta saya, apalagi orangtua huhu”
Seperti kala dalam taksi mengejar waktu menuju bandara saat sampai kembali ke Glasgow akhir Juni tahun lalu. Waktu yang sempit sementara jalanan macet. Cemas, terburu-buru, kesal, berbagai rasa campur aduk jadi satu. Padahal sebelumnya rencana sudah tersusun manis, karena berangkat dengan mobil pribadi jadi bisa pergi lebih awal ke bandara. Namun, semesta kembali bercanda, pak supir bilang bahwa ada sesuatu di stir-nya yang harus diperbaiki, katanya sangat berbahaya bila tidak segera diperbaiki. Maka dari subuh pak supir dan adik saya sudah ke bengkel untuk mereparasinya. Sampai waktunya hendak ke bandara, posisi mobil sudah selesai diperbaiki tapi butuh waktu untuk menuju tempat saya berada. Sedangkan waktu semakin sempit. Maka dengan taksilah akhirnya saya, ibu, bapak dan paklik saya ke bandara. Dan terjebak di kemacetan jakarta saat jam pulang kerja kantor.
Saya tahu ibu saya sudah menangis di sebelah kiri saya, sementara bapak terlihat sangat cemas sambil tak berhentinya berdoa. Di titik itulah, saya merasa, “ Saya lebih memilih rela membeli tiket pesawat dengan uang saya sendiri bila memang terlambat daripada melihat ibu dan bapak saya menghadapi situasi yang semacam ini.” Saya diam saja, tak menangis, berdoa dalam hati, walau cemas tak bisa terpungkiri. Tapi dalam pikir saya, sudah berderet rencana bila akhirnya telat. Saya akan membeli tiket pesawat dengan uang sendiri dan berangkat besok. Tak apa, semuanya akan baik-baik saja.
Tapi memang semesta pintar bercanda. Supir taksi yang kami tumpangi begitu gesit menerobos kemacetan dan berhasil mencapai bandara walau waktu check-in sudah mepet. Tak sempat bicara apa–apa, saya hanya berpamitan, cium tangan dan memeluk mereka sebentar, lalu segera lari untuk check in. Jenis perpisahan apa macam begitu?
Dan candaan semesta belum berakhir. Saya penumpang terakhir yang check-in dan saat bagasi saya ditimbang, eh pake over bagasi. Saat saya menanyakan biaya kelebihan bagasi, si mas petugas KLM itu menjawab dibayar sekitar 800 ribu. Secepat kilat saya berpikir, isinya nggak sampai duit segitu, sayang kalau harus bayar sejumlah uang tersebut.
            Oke mas, saya bongkar sebentar, “ lalu saya akan menggeser posisi koper saya ke belakang untuk saya bongkar dan memilah kembali barang yang akan saya buang atau saya masukkan.
            “ di sini aja mbak, udah mepet waktunya, mba-nya penumpang terakhir yang belum masuk” kata si mas petugasnya.
Akhirnya saya membongkar koper saya di depan counter check-in KLM. Bagian permukaan kebetulan memang buku-buku dan kertas. Buku lab saya yg tebal, saya pikir akan memberatkan bagian yang masih kosongnya. Maka dengan heroik (heroik? Mungkin lebih tepatnya dengan penuh frustasi ahaha) saya sobek bagian halaman-halaman yang masih kosong dan hanya menyisakan bagian yang saya butuhkan. Si mas petugas KLM itu tiba-tiba mendekati saya :
            “ Buku ya mba? Nggak ada yang bisa ditinggal?” tanya si mas itu dengan nada empati. Dia melemparkan pandangan mengamati koper saya. Memang nampak buku dan file-file berkas penelitian.
            “ Iya mas, buku-buku untuk studi saya, “ jawabku sambil terus berpikir keras mana barang yang harus saya tinggal”
            “ Gini aja mba, bawa aja semuanya. Anggap saja saya menolong anak negeri sekolah. Beresin aja lagi. Waktunya udah mepet” kata si mas tadi itu,
Eyaaaa...semesta becanda lagi kan? Kenapa enggak dari tadi dikasih masuk aja? Pakai saya harus melakukan aksi heroik sobek menyobek segala. Dan akhirnya dua koper saya masuk dengan mulus dengan dianggap “tidak over bagasi”.
Itu cuma sedikit contoh kecil betapa semesta hobi banget becandaan dengan saya. Sampai perjalanan riset inipun, bila dituliskan pasti bisa berhalaman-halaman.
Kadang lelah, iya. Kadang mengeluh, pasti. Kadang mewek, uhmm..iyalah. Tapi saya ingin belajar menganggap itu semua sebagai anugerah. Tuhan begitu murah hati memberikan banyak sekali kejutan-kejutan dalam hidup saya. Dan saya ingin membiarkan kejutan dan keajaiban-keajaiban terjadi dalam hidup saya. Bukankah tidak ada satu hari-pun berjalan dengan ritme yang sama?
Saya kembali diingatkan akan anugerah hidup dalam kekinian. Bila terbangun di pagi hari, saat kita dihidupkan kembali. Apakah kita merasa sebuah hidup yang baru? Anugerah Tuhan berupa waktuNya. Sinar matahari pertama di pagi hari tak pernah seharipun yang sama, senyuman penjual gudeg, sapaan tukang parkir, ataupun interaksi kita dengan orang-orang yang selibat dalam hidup kita. Setiap detik hidup tak pernah berlangsung sama persis bukan?. Keajaiban terjadi dimana-mana, asal kita mau mengijinkannya terjadi. Termasuk senyummu, candaanmu, dan segala tingkah ajaibmu. Jangan-jangan kau berkonspirasi dengan semesta? Ahaha.
Dan saya kini, di tengah segala kenomaden-an, segala ketidakpastian keadaaan, tapi cukup dengan satu keyakinkan  saya. Selama saya bersama Tuhan, tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan dalam hidup kan?
Saya cukup melakukan yang terbaik, dan Tuhan akan menata semuanya untuk saya. Dan sampai sekarang, Tuhan tidak pernah gagal mengejutkan saya dengan semua rencana dan ketentuanNya.
Selamat merayakan hidup kawanku, Let the world surprise you!

*di akhir tulisan saya mengingat semesta dan motor saya yang berkonspirasi dengan tiba-tiba kempes ban saat itu. Sepertinya kamu harus mulai terbiasa dicandai semesta, termasuk ndorong-ndorong motor kempes saya ;p

Teras rumah saudara yang sepi, bersama sisa hujan. Masih menunggui sampel saya. 24 februari 2013. 15.11.